Serat Jaka Lodhang

0 222

Serat Jaka Lodhang

Serat Jaka Lodhang dimulai dengan Bubuka (Pendahuluan) berupa dua ‘pada’ (bait) geguritan atau sanjak. Masing-masing bait terdiri dari lima gatra (bagian). Bubuka ini ada yang menyebut dengan nama Serat Kalut (kalut=kacau) sebagai serat tersendiri.

Kata-kata dan kalimat-kalimat geguritan tersebut berdasarkan susunan dan arti harfiahnya dapat disimpulkan sebagai perlambang (lambang) berupa kata-kata bersayap yang menyelubungi sesuatu maksud tertentu.

Di dalam dua bait geguritan itu terdapat sandiasma dari pengarangnya yang dijelaskan sbb:

  1. Dalam Geguritan ke-1 rangkaian suku kata-suku kata pertama dari tiap-tiap gatra berbunyi ronggawarsita. Rangkaian dari suku kata-suku kata terakhir dari tiap-tiap gatra berbunyi: basa kadhaton.
  2. Dalam Geguritan ke-2 rangkaian suku kata-suku kata pertama dari tiap-tiap gatra berbunyi: basa kadhaton. Rangkaian suku kata-suku kata terakhir dari tiap-tiap gatra berbunyi: ronggawarsita.

Isi Serat Jaka Lodhang

Tembang Gambuh 3 bait

  1. Jaka Lodhang *) gumandul, aneng ngepang ngethengkrang srumuwus, eling-eling pasthi karsaning Hyang Widdhi, gunung mendhak jurang mbrenjul, ingusir praja prang kasor. Jaka Lodhang (Ki Pujangga) bergantungan di pohon, di atas dahan duduk santai (lalu) berkata keras, ingat-ingatla (semua) kehendak Tuhan sudah pasti, gunung-gunung (yang tinggi) merendah (runtuh), jurang-jurang (yang dalam) membusut (bergundukan), (ada orang-orang) terusir dari negerinya (karena) kalah perang. *) Jaka Lodhang berasal dari kata jaka = jejaka, lelaki muda+lodhang atau ludhang = rampung, selesai, sudah selesai dengan suatu pekerjaan = bebas dari suatu kewajiban. Jaka Lodhang berperan di dalam Serat ini sebagai juru bicara pengarangnya, atau sebagai nama samaran pengarangnya dalam karya ini.
  1. Nanging aywa keliru, sumurupa kandha kang tinamtu, nadyan mendhak mendhaking gunung wus pasthi, masih katon tabetipun, beda lawan jurang gesong. Tetapi janganlah keliru (terima), ketahuilah kata-kata yang benar, meskipun menjadi rendah (tetapi) rendahnya gunung sudah pasti, masih kelihatan bekasnya, berbeda dengan jurang yang menggeronggong.
  1. Nadyan bisa mbarenjul, tanpa tawing enggal jugrugipun, kalakone karsaning Hyang wus pinasthi, yen ngidak sangkalanipun, Sirna tata esthining wong. Meskipun (jurang) membusut, tanpa kekuatan dinding (tentu) cepat runtuh, (keadaan demikian itu) terjadi karena kehendak Allah telah pasti (yaitu) setelah menginjak waktunya dengan Candrasengkala: Sirna tata esthining wong. *) Sirna tata esthining wong = Musnahlah tata (cara) tujuan orang. Candrasengkala itu berarti tahun Jawa 1850. Tahun Jawa 1850 ialah dari tanggal 1 Sura (Jum’at Wage) sampai dengan 29 Besar (Selasa Kliwon) 1850 = tahun Masehi tanggal 26 September 1919 sampai dengan 14 September 1920.
Source https://catatanwongndeso.wordpress.com/ https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/10/27/serat-jaka-lodhang/
Comments
Loading...