Serat Darmo Gandhul

0 94

Serat Darmo Gandhul

Cerita berdirinya Negara Islam di Demak, hancurnya Negara Majapahit, dimana saat itulah awal mula masyarakat Jawa meninggalkan agama Buda [Shiwa Buddha] dan berganti memeluk agama Islam.) Prosa dalam bahasa Jawa kasar. Diambil dari catatan induk asli peninggalan K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.

Tergerak dan terdorong hati ini, setelah mengetahui cerita indah, dari Kyai Kalamwadi (Kalam = Ucapan, Wadi = Rahasia), yang dulu pernah berguru menimba ilmu kepada Raden Budi (Buddhi = Kesadaran), mentaati dan menuruti, apa yang selalu diperintahkan oleh guru, setia menjalankan petunjuk, tekadnya sudah tiada lagi keraguan lahir maupun batin, memuja guru bagaikan dewa itu sendiri.

Apapun petunjuk Raden Budi (Buddhi = Kesadaran) sangat jernih, dijunjung dan diresapi didalam hati, benar-benar dihargai lahir maupun batin, tiada peduli walau harus hancur luluh, itulah tekad (Kyai Kalamwadi) mulai pertama (berguru) hingga akhir nanti, diterima oleh Bathara (Hyang Widdhi), segala keinginannya-pun terwujud, sangat besar anugerah Hyang Suksma (Yang Maha Gaib), selalu diberi petunjuk melalui Alam Sahir (Alam = Dunia, Sahir;Sugrho = Kecil, Alam Kecil, Micro cosmos, Jagad Cilik, Bhuwana Alit maksudnya Badan Manusia) maupun Alam Kabir (Alam = Dunia, Kabir;Kubro = Besar, Alam Besar, Macro cosmos, Jagad Gedhe, Bhuwana Agung maksudnya Alam semesta), sehingga akhirnya menjadi Auliya (Manusia Pilihan).

Mampu membaca segala rahasia Hyang Widdhi, dan selalu bisa mematuhi dengan teguh, segala pesan gurunya, yang memerintahkan agar mengajarkan sebuah pengetahuan, agar membuat tenteram hati sesama, dan juga membuka rahasia agar seluruh ahli sastra, bisa meniru dan menyebarkannya, Kyai Kalamwadi (Kalam=Ucapan, Wadi=Rahasia) menulis, diberikan judul SERAT DARMAGANDHUL (Darma = Kebenaran, Gandhul = Menggantung, Mengambang, Darmagandhul artinya KEBENARAN YANG MENGAMBANG), dirangkai dalam syair-syair tembang Macapat (Tembang kecil)

Saat membaca tulisan beliau, cakupan tembang-nya sangat bagus dan gampang dimengerti, jelas dan terang maksudnya, membuat hati terpana, sehingga ingin memiliki (tulisan tersebut) dan ingin menyimpannya, ingin menulisnya ulang untuk diri sendiri, semua isinya, setelah selesai membaca, segera ditulis ulang, berguna untuk menghibur hati.

Saat berdiam diri dirumah, disela-sela waktu bekerja, tembang ini bisa dinyanyikan, sebagai petunjuk bagi orang bodoh (seperti saya, maksudnya Darmagandhul), dan bisa dibuat untuk menentramkan hati, saat beristirahat, saat menganggur tiada pekerjaan, tembang ini bisa dibuat memupuk rasa kasih kepada Hyang Widdhi, tidak banyak menyita waktu untuk menyanyikannya sehingga tak kelaparan anak istri, sekeluarga tetap sejahtera.

Pada akhirnya pasrah kepada takdir, berserah mengikuti kehendak Hyang (Widdhi), telah tercatat di Lokhilmakpul (Laukhil Makfudz =Kitab yang konon berisi catatan-catatan takdir manusia), saat menulis ulang tepat, tanggal Duapuluh tiga hari Tumpak Manis (Sabtu Legi), bulan RUWAH (Sya’ban) tahun JE (tahun ke-empat dalam satu windu yang terdiri atas delapan tahun, yaitu Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir), windu SANCAYA (nama kumpulan windu pada urutan keempat atau terakhir, yaitu ADI, KUNTARA, SENGARA, SANCAYA), masa ke-VI (Masa adalah perhitungan mirip bulan dan dipergunakan untuk pertanian), wuku Wukir (Wuku adalah hari 30-an, dimana satu hari terdiri dari 7 hari biasa atau satu hari sama dengan satu minggu, Wukir adalah nama hari wuku ke-3), pertanda tahun Wuk Guna Ngesthi Nata (Wuk = 0, Guna = 3, Ngesthi = 8, Nata = 1. Jika dibalik 1830).

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Serat-Darmo-Gandhul/
Comments
Loading...