Seni Tradisional Debus Dari Banten

0 224

Debus merupakan pencak silat yang berhubungan dengan ilmu kekebalan sebagai refleksi sikap masyarakat Banten untuk mempertahankan diri. Debus merupakan kekuatan gaib atau ajaib yang tahan terhadap benda tajam, tusukan, pukulan, dan dibakar oleh api.

Kesenian debus merupakan kesenian yang bersifat religious. Hal ini ditandai dengan adanya doa-doa yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an. Kesenian ini berkembang di kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Serang terutama di Kecamatan walantaka dengan tokohnya Muhammad Idris, Kecamatan Curug dengan tokohnya Umor, Kecamatan Viruas yang dipimpin oleh H. Ahmad, dan Kecamatan Cikande dengan tokohnya H. Renam.

Asal-usul debus tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Islam di Indonesia. Debus tumbuh di Banten sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha. Pada Masa Kesultanan Sultan Ageng Tirtayasa sekitar abad ke 17 masehi, debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajahan Belanda. Oleh karena itu, Kesenian ini lebih bersifat kesenian bela diri  dan memupuk keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Menurut Sandjin Aminuddin, seorang tokoh Banten mengungkapkan bahwa pengaruh seni Debus terhadap masyarakat cukup luas, antara lain sebagai berikut:

  • Kesenian Debus bergerak dibidang kekebalan. Kekebalan identik dengan bela diri. Dengan demikian kesenian ini mudah dicintai.
  • Masyarakat Banten umunya fanatic agama, sehingga hanya kesenian yang bermanfaat bagi agamalah yang bias berkembang di masyarakat. Kesenian Debus selalu membawakan dzikiran yang memuji dan mengagungkan Allah dan Rasulullah SAW.
  • Kesenian Debus merupakan kesenian yang langka dan digemari oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat.
  • Para Alim Ulama menganggap kesenian Debus tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.
Source https://triilma.wordpress.com/ https://triilma.wordpress.com/2010/07/16/kesenian-debus-surosowan-banten/
Comments
Loading...