Seni Tradisional Banten : Beluk

0 263

Seni Beluk

Beluk berasal dan akar kata Ba dan aluk. Ba artinya besar dan aluk artinya gorowok, atau dengan kata lain Aluk itu merupakan pemberitahuan pada tetangga sekampung (Atik, 1996 : 31 ). Dalam kenyataannya Beluk merupakan sajian sekar berirama bebas atau sekar irama merdeka yang menggunakan dinamika dengan ornamen dalam surupan tinggi, sehingga berliku- liku atau meluk.

Oleh karena itu kesenian Beluk merupakan seni tradisional yang erat hubungannya dengan kesusastraan wawacan yang menggunakan aturan pupuh. Pupuh yang biasa dipergunakan dalam kesenian Beluk Diantaranya Kinanti, Asmarandana, Dangdanggula, Sinom, Pangkur, Davina, Lambung, Ludrang. Magatru, Maskunambang, Gambuh, Gurisa, dll. Ciri khusus kesenian beluk adalah aluknya, yakni suara petit atau jeritan yang tinggi. Kesenian ini sangat menjunjung tinggi budaya leluhur yang terikat pada ketatnya aturan dan tata cara baku yang turun- temurun.

Pada mulanya seni beluk hanya sekedar untuk menghibur diri dan sebagai alat komunikasi. Tapi sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat maka beluk berfungsi religius, sosial dan rekreatif (hiburan). Seperti seni tradisional lain, Beluk tidak lepas dan mitos atau legenda yang beranggapan bahwa dengan menyanyikan Beluk dalam acara syukuran bayi 40 han, pernikahan atau sunatan akan mendapat berkah selain hidupnya. Oleh karena itu pada prakteknya penyajian Beluk diawali dengan doa- doa dan sesajen.

Dilihat dan kajian histories- sosiologis, Beluk lahir di daerah Jawa Barat dan Banten pada masyarakat ladang, yaitu masyarakat yang menanam padinya dengan berhuma. Dahulu , karena daerahnya masih hutan belantara, jarak satu huma dengan huma lain berjauhan, oleh karena itu komunikasi antar petani menggunakan suara yang berfrekuensi tinggi (meluk) hingga terdengar saling bersahutan.
Selain itu, hidup di hutan belantara, penduduk sering diganggu binatang buas, sehingga pernah anak yang barn berusia 5 han dimangsa binatang buas. Maka sejak itulah sebelum anak berumur 40 han selalu ditunggu secara bergantian, dan untuk rnenghiiangkan rasa kantuk mereka bernyanyi menghibur din secara bergantian dengan menggunakan suara tinggi, dan salah satu dan mereka membaca atau ningali guguritan pupuh. Suara yang dilantunkan dengan keras membuat binatang buas tidak berani mendekat.
Selain menghibur din, dahulu beluk digunakan sebagai alat komunikasi yang dilakukan ketika berada di tengah laclang atau saat melewati hutan belantara, niereka bernyanyi untuk memberitahukan posisi masing- masing. Untuk itu, nyanyianpun tidak dengan bersenandung tapi dengan suara keras, dan yang mendengarnya akan menyahut nyanyian tersebut.
Seiring dengan laju perkembangan, kesenian beluk semakin dibenahi dan diatur menjadi ceritera bersambung sesuai dengan aliran pupuh yang ditembangkan, dan semakin bervariasi setelah datangnya pengaruh wawacan. Sekarang ini kesenian Beluk digunakan dalam upacara 40 an kelahiran anak, pernikahan atau sunatan anak yang tentu saja Beluk ash (suara tingginya ) yang asalnya terdengar jauh sekali tidak lagi setinggi itu.

Source https://sites.google.com/ https://sites.google.com/site/nimusinstitut/seni-beluk
Comments
Loading...