Seni Sastra dalam Mataram Kuna

0 174

Seni Sastra dalam Mataram Kuna

Dari zaman kuno telah sampai kepada kita sejumlah hasil besar kesusastraan, yang dapat memberi gambaran betapa tingginya seni sastra pada waktu itu. Tidak termasuk kesusastraan prasasti-prasasti, baik dari batu maupun logam, meskipun di antaranya ada juga yang digubah dalam bahasa yang sangat indah dan dalam bentuk yang betul-betul berupa susastra.(Soekmono,1973:104)

Menurut waktu perkembangannya, kesusastraan jaman purba itu dapat dibagi menjadi kesusastraan: zaman Mataram (sekitar abad ke 9 dan 10),zaman Kadiri (sekitar abad ke 11-12), zaman Majapahit I (sekitar abad ke 14) dan zaman Majapahit II (sekitar abad ke 15-16). (Soekmono,1973:105)

Ditinjau dari susudt isinya,maka kesusastraan zaman kuno itu terdiri atas: tutur (kitab keagamaan,seperti SangHyang Kamahayanikan), castra(kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan, seperti Mahabarata), kitab-kitab lainnya yang isinya mengenai keagamaan dan kesusilaan, dan kitab-kitab sebagai uraian sejarah.

Tentang wiracarita perlu diketahui, bahwa yang menjadi sumber dan bahan adalah kitab–kitab India, yang di Indonesia sudah sama sekali tidak dirasakan asing lagi, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua kitab ini menimbulkan berbagai cerita lainnya, yang berdiri sendiri sebagai cerita bulat. Ini sebenarnya tidaklah lain dari gubahan baru yang berdasarkan suatu peristiwa yang terdapat dalam kitab induknya.

Dalam prasasti Wukajana jelas kiranya bahwa cerita Mahabarata dan Ramayana, dua wiracarita yang amat terkenal di India dalam permulaan abad X M, dan mungkin juga dalam pertengahan abad IX M sudah di kenal oleh nenek moyang kita dalam bentuk gubahan dalam bahasa Jawa Kuno. Akan tetapi, naskah susastra pada masa itu hanya Ramayana Kakawin. (Poesponegoro, 2010: 270)

Dapat diketahui bahwasannya Ramayana Kakawin sebagian besar bersumber dari naskah Ravanavadha karangan pujangga Bhatti yang berasal dari kira-kira tahun 500-650 M. Perbandingan yang amat terperinci antara Ramayana Kakawin Ravanavadha dan Ramayana karangan Valmiki yang telah dilakukan oleh Hooykas mengungkapkan bahwa sampai dengan sargga XVI penggubah Ramayana Kakawin  mengikuti Ravanavadha,dengan menyisipkan hal-hal yang dianggapnya perlu dan menurut seleranya sendiri. (Poesponegoro, 2010 : 271)

Sudah di sebutkan bahwa Ramayana Kakawin berasal dari pertengahan aba IX atau permulaan abad X M. Hal itu kita ketahui berkat penelitian Poerbatjaraka, yang mendasarkan pendapatnya atas kosakata, tata bahasa- terutama adanya bentuk-bentuk yang dikonjugasikan, dan terdapatnya nama-nama jabatan pemerintahan yang sama dengan jabatan-jabatan yang ada dalam prasasti-prasasti sebelum Pu Sindok.

Poerbatjaraka kemudian menegaskan kembali pendapatnya dengan mengatakan bahwa Ramayana Kakawin digubah pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Karena sekarang berdasarka prasasti Siwagrha di ketahui bahwa candi Loro Jonggrang ditahbiskan pada tahun 856 M, kini cenderung setuju pada pendapat Poerbatjaraka itu.

Kitab Ramayana yang di karang oleh Walmiki terdiri atas 7 jilid (kanda) dan digubah dalam bentik syair sebanyak 24.000 cloka. Ke 7 dari kanda tersebut ialah:

  1. Bela-kanda
  2. Ayodhya-kanda
  3. Aranya-kanda
  4. Kiskindha-kanda
  5. Yundara-kanda
  6. Yuddha-kanda
  7. Uttara-kanda

Sedangkan kitab Mahabarata terdiri 18 jilid (parwan), yang masing-masing terdiri lagi atas berbagai bagian dan di gubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 cloka. Isinya bermacam-macam sekali disisipkan dalam cerita pokoknya. Ke 18 parwan itu adalah:

  1. Adi Parwan
  2. Sabha Parwan
  3. Wana Parwan
  4. Wirata Parwan
  5. Udyoga Parwan
  6. Bhisma Parwan
  7. Drona parwan
  8. Karna Parwan
  9. Calya Parwan
  10. Sauptika Parwan
  11. Stri Parwan
  12. Canti parwan
  13. Anucasana Parwan
  14. Acwamedika Parwan
  15. Acramawasika Parwan
  16. Mausala Parwan
  17. Mahaprastanika Parwan
  18. Swargarohana Parwan
Source http://www.surya-aji.org/ http://www.surya-aji.org/blog/2017/10/kesenian-pada-masa-kerajaan-mataram-kuna/
Comments
Loading...