Seni pertunjukan pada masa Mataram Kuna

0 53

Seni pertunjukan pada masa Mataram Kuna

Dalam kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas akan kebutuhan akan hiburan. Prasasti-prasasti dan relief candi-candi terutama candi Borobudur dan Prambanan. Banyak memberi data tentang bermacam-macam seni pertunjukan.

Pertama-tama dijumpai keterangan mengenai pertunjukan wayang dalam prasasti Wukajana dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung. Dikatakan dalam prasasti bahwa pada penempatan desa-desa di Wukajana, Tumpang, dan Wuru Telu menjadi sima bagi sebuah biara di Dalinan telah diadakan beberapa macam pertunjukan, antara lain wayang dengan dalangnya Si Galigi  yang memainkan lakon Bhima Kumara.

Cerita ini di ambil dari Wirataparwa. Dalam waktu itu juga dan dalam lakon yang sama dinyanyikan oleh seorang penari  yang memerankan Kicaka. Dalam hal di atas mungkin diperoleh keterangan mengenai dua wayang yaitu wayang kulit dengan dalang Si Galigi dan wayang orang dengan petilan cerita Kicaka. Yang sedang mabuk asmaradengan Drupadi.

Selain wayang kulit dan wayang orang, ada lagi pertunjukan lawak (mamirus dan mabanol). Seni lawakan ini hampir di jumpai pada prasasti yang menyebut upacara sima secara terperinci. Dalam relief candi juga banyak yang menggambarkan mabanol (lawak). Mungkin prototipe tokoh-tokoh punakawan pada relief candi.

Tarian-tarian juga sering dipertunjukan dalam penetapan tanah sima. Tarian-tarian yang di tarikan oleh laki-laki perempuan, orang tua, pemuda-pemudi.ada juga tarian khusus seperti tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Akan tetapi tarian tersebut belum dapat diketahui jenis tariannya.

Ada juga tarian topeng (matapukan). Pada relief candi Roro Jonggrang terdapat sejumlah penari yang berjalan berurut, sedangkan masing-masing membawa dan memukul gendang.  Tari semacam ini mengingatkan pada reog Sunda sekarang.(Soekmono, 1973:122)

Mengenai gamelan itu menarik perhatian, pada prasasti dan relief candi menampilkan alat musik jenis gamelan yang terbatas seperti, gendang (padahi), kecer atau simbal (regang), semacam gambang, saron, kenong, beberapa jenis kecapi(wina), seruling dan gong. Tangga nada yang digunakan pada waktu itu kemungkinan yang kita kenal sekarang yaitu (slendro) dalam bahasa Jawa.

Berbagai macam tontonan itu tentunya tidak hanya dipertunjukkan dalam waktu upacara penetapan tanah sima. Ada dalang, penabuh gamelan, penari dan pelawak profesional yang memperoleh sumber penghasilan dari profesinya itu.

Source http://www.surya-aji.org/ http://www.surya-aji.org/blog/2017/10/kesenian-pada-masa-kerajaan-mataram-kuna/
Comments
Loading...