Seni Jaranan Khas Tulungagung

0 180

Seni Jaranan Khas Tulungagung

Salah satu seni pertunjukan khas dari daerah Tulungagung adalah jaranan. Jaranan yang ada di Tulungagung ada beberapa macam, yaitu jaranan sentherewe, jaranan safitri putro, jaranan kuda bhirawa. Seni pertunjukan ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat Tulungagung. Biasanya jaranan ditampilkan pada saat perayaan hari – hari besar nasional maupun hari – hari sakral kejawen. Namun tidak menutup kemungkinan ditampilkan pada saat seseorang memiliki sebuah hajatan.

Asal – usul jaranan ada dua versi. Versi yang pertama sebagai wujud semangat pada zaman dahulu pasukan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda, dan yang kedua sebagai bentuk perjuangan seorang kesatria bernama Prabu Klono Sewandono untuk mendapatkan seorang putri bernama Dewi Songgolangit. Dalam perjuanganya tersebut beliau memasuki hutan,dimana hutan tersebut berisi mahkluk halus berupa Prabu Celeng Srenggi, Prabu Condro Mowo, dan Prabu Singo Barong. Karena kesaktian sang kesatria seluruh angkara murka tersebut dapat dikalahkan.

Umumnya gerakan jaranan berupa lumbungan, singgetan, sembahan, pegonan, pecahan, kiprah, angkatan, dan remongan. Akan tetapi, dalam seni pertunjukan jaranan yang ada di Tulungagung ini memiliki gerakan khas yaitu terdapat kreasi gerakan dari masing masing paguyuban yang ada di Tulungagung.
Alat musik yang dipakai dalam pertunjukan jaranan antara lain :
1. Kendang
2. Kenong
3. Gong
4. Demung
5. Saron
6. Gong
7. Bonang
8. Sompret
9. Dram
10. Kendang jaipong
11. Kendang dangdut/ketipung
Kostum yang digunakan selama pertunjukan berupa baju, celana, jarik, boro-boro, sabuk, sempyok/kace, deker, kelat bahu, udeng, sumping, centing/stagen, uncal, klinting, sampur, dan keris (tidak terlalu penting).
Sebelum memulai pertunjukan, tidak ada ritual khusus sebenarnya, hanya saja mungkin sebelum dimulai para sesepuh/gambuh/pawang melakukan upacara terlebih dahulu dengan menaruh seluruh sesaji diatas panggung beserta seluruh properti berupa jaran kepang, barongan. Lalu menyalakan kemenyan dan kemudian berdo’a memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kelancaran dalam penyelenggaraan. Ketika selesai pementasan sesajen tersebut akan menjadi rebutan orang banyak.
Urutan pertunjukan jaranan adalah sebagai berikut :
1. Do’a bersama
2. Obong dupo
3. Pambuko
4. Pementasan jaranan kecil
5. Pementasan jaranan remaja
6. Pementasan jaranan dewasa
7. Rampokan/perang singo barong
Jaranan bukan selalu tentang hal mistis. Bahkan jaranan merupakan salah satu cara syiar Kanjeng Sunan Kalijaga di tanah Jawa.
Dupa/kembang : sebagai sunnah wewangian yang dianjurkan Rosulullah
Sesajen : wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang nantinya akan dibagi-bagikan
Tragedi kesurupan : sebagai hiburan agar penonton terhibur.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Seni-Jaranan-Khas-Tulungagung/
Comments
Loading...