Sengkalan, Tradisi Jawa

0 36

SENGKALAN

Sejak zaman dahulu masyarakat telah terbiasa mengeti waktu ‘memperingati waktu’ suatu kejadian yang penting, misalnya: kelahiran anak, wafatnya sanak saudara, waktu pendirian rumah, sewaktu menjadi pengantin, sewaktu ada musibah yang besar (gunung meletus, banjir besar, peperangan, gempa bumi), dsb.

Masyarakat Jawa pada masa lampau apabila memperingati waktu atau kejadian yang amat penting, biasanya dalam memperingati dan mengingat-ngingat angka tahun tidak menggunakan angka, tetapi diingat dengan tetembungan ‘kata-kata atau gambar ‘lukisan’, yang dinamakan sengkalan. Maksud sengkalan yaitu ciri angkaning taun sing sinandi ing tetembungan, gambar, lan sanes-sanesipun ‘ciri atau penanda angka tahun yang dirahasiakan dengan kata-kata atau gambar. Dengan kata lain sengkalan adalah kata-kata atau gambar yang bermakna angka tahun.

Penggunaan Sengkalan

Hakikat sengkalan adalah sebuah tanda peringatan dengan kata-kata atau gambar yang menunjukkan angka tahun dari suatu peristiwa, yaitu untuk memperingati:

a. lahir atau meninggalnya seseorang yang terkenal maupun raja

b. berdirinya sebuah rumah atau bangunan

c. berdirinya atau jatuhnya suatu kerajaan

d. perkawinan dan peristiwa-peristiwa lain yang dianggap penting

Tujuan sengkalan adalah untuk mempermudah mengingat-ingat suatu peristiwa yang pernah terjadi dengan kata-kata.

Sengkalan biasanya dapat diketahui dan ditemukan pada karya sastra Jawa yang berbentuk puisi, candi-candi, gapura-gapura, bangunan keraton, prasasti-prasasti raja, makam-makam, rumah-rumah, gamelan, wayang, dsb.

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/02/24/sengkalan/ https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/02/24/sengkalan/
Comments
Loading...