Selametan Kematian

0 139

Secara garis besar, tradisi selamatan kematian adalah bentuk pemujaan roh orang yang telah meninggal dengan harapan tetap terjadi hubungan yang “harmonis” antara warga masyarakat yang masih hidup dan roh-roh orang yang telah meninggal. Macam dan urutan selamatan kematian yang tergolong selalu dilaksanakan adalah sebagai berikut:

  • Geblag atau selamatan setelah penguburan

Geblag atau biasanya disebut ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga.

  • Nelung dina atau selamatan setelah tiga hari kematian

Selamatan tiga hari disebut juga nelung dina. Pelaksanaan selamatan biasanya dilakukan malam hari menjelang hari dan pasaran ketiga. Selamatan nelung dina dimaksudkaan sebagai upaya ahli waris untuk penghormatan kepada roh orang yang meninggal. Dalam kaitan ini orang jawa berkeyakinan bahwa roh orang yang meninggal masih berada di dalam rumah. Namun roh tersebut sudah tidak berada di tempat tidur lagi. Roh sudah mulai berkeliaran untuk mencari jalan agar dengan mudah meninggalkan rumah dan anggota keluarganya.

  • Mitung dina atau selamatan setelah tujuh hari kematian

Selamatan tujuh hari kematian disebut juga mitung dina. Selamatan mitung dina dimaksudkan untuk penghormatan terhadap roh. Setelah tujuh hari roh mulai keluar dari rumah. Itulah sebabnya secara simbolis ahli waris membukakan genting atau jendela agar sebelum selamatan dimulai roh orang yang meninggal dapat keluar dengan lancar dari rumah. Roh yang sudah keluar dari rumah akan berhenti sejenak di pekarangan atau berada di halaman sekitar. Untuk mempermudah perjalanan roh meninggalkan pekarangan, ahli waris membantu dengan acara selamatan tahlilan, dan mendo’akan si arwah tersebut.

Tahlil dilaksanakan selama 7 malam yang berupa bancakan (waosan kalimat tayibah). Kata tahlil berasal dari kata Arab halala yang berarti membaca kalimat “laailaha illallah” dengan tujuan mendo’akan agar dosa orang yang meninggal diampuni. Pada malam terakhir, pembacaan tahlil ditutup dan sekaligus selamatan mitung dina. Penutupan tahlil dimaksudkan juga sebagai syukuran atas selesainya tahlil. Karena itu peserta kenduri diberi sodaqoh berupa bancakan yang berisi nasi dan lauk pauknya.

  • Matangpuluh dina atau selamatan setelah 40 hari kematian

Tradisi selamatan matangpuluh dina dimaksudkan sebagai upaya untuk mempermudah perjalanan roh menuju ke alam kubur. Fungsi selamatan matangpuluh dina juga untuk memberi penghormatan kepada roh orang yang meninggal yang sudah mulai keluar dari pekarangan dan akan menuju ke alam kubur. Pada saat ini roh sudah mulai bergerak sedikit demi sedikit menuju alam kubur. Roh mulai mencari jalan yang lurus dan bersih yaitu jalan mana yang ketika pemberangkatan jenazah sudah disapu. Jika jalannya sudah bersih maka tidak akan ada aral melintang untuk menuju alam kubur. Fungsi selamatan ini sesuai dengan esensi selamatan yang sebenarnya yaitu sebagai upaya pemujaan pada roh orang yang meninggal.

  • Nyatus dina atau selamatan setelah 100 hari kematian

Tradisi selamatan nyatus dina dimaksudkan untuk menyempurnakan semua hal yang bersifat badan wadhag. Ubarampe selamatan nyatus dina sama dengan sajian selamatan nelung dina, mitung dian, matangpuluhdina. Perbedaannya pada selamatan nyatus dina sudah menggunakan pasung ketan dan kolak. Pasung yang dibuat gunung ( payung ) dari daun nangka dan diisi bahan dari gandum. Maknanya adalah agar yang meninggal mendapatkan paying ( perlindungan ). Karena orang yang meninggal akan melewati jalan panjang dan panas, maka dibuatkan ketan sebagai alas agar kakinya tidak panas. Ketan juga bermakna raketan artinya mendekatkan diri kepada Tuhan. Sajian juga dilengkapi kolak yang berasal dari kata khalik atau kolaq ( pencipta ). Dengan sajian semacam ini, diharapkan orang yang meninggal akan lancar menghadap Sang Khalik.

Penafsiran semacam itu menunjukkan bahwa ada perpaduan antara Hindu-Jawa dengan Islam yang pada prinsipnya orang Jawa mempunyai dambaan untuk kembali kepada Tuhan dalam keadaan tata titi tentrem ( tenang ). Hal ini seperti halnya dikemukakan Geertz ( 1989-416 ) bahwa kondisi tenteram dan selamat adalah dambaan setiap individu dan masyarakat Jawa. Langkah untuk mencapai keselamatan yang selalu ditempuh adalah menjaga kesatuan kekuatan adikodrati, yakni bahwa dalam rangkaian kosmos itu dihuni oleh makhluk-makhluk seperti roh leluhur, dewa, jin, yang membaurekso, lelembut, dhemit, thuyul dan sebagainya. Makhluk-makhluk ini dimungkinkan berasal dari roh orang meninggal yang salah kedaden. Seperti halnya, jika ada orang jawa yang mati konduran ( meninggal karena melahirkan ), mati menggantung diri dan mati-mati lainnya yang tidak wajar. Masih ada yang percaya bahwa roh-roh orang mati tersebut akan berkeliaran ( gentayangan ) di sekitar manusia.

Uraian diatas menunjukkan bahwa tradisi selamatan kematian merupakan upaya untuk menghubungkan diri orang yang hidup dengan roh orang yang meninggal. Upaya ini menggambarkan bahwa sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa roh orang yang telah mati itu masih “hidup” di alam semesta. Roh tersebut perlu dijaga dan diupayakan agar tidak mengganggu, bahkan diharapkan dapat mendatangkan kebaikan.

  • Mendhak sepisan atau selamatan setelah satu tahun kematian

Upacara mendhak sepisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Fungsi selamatan ini adalah untuk mengingat-ingat kembali akan jasa-jasa orang yang telah meninggal. Karena itu upacara mendhak sepisan juga sering disebut meling.

  • Mendhak pindho atau selamatan setelah dua tahun kematian

Selamatan mendhak pindho dimaksudkan untuk menyempurnakan semua kulit, darah dan semacamnya. Pada saat ini jenazah sudah hancur luluh, tinggal tulang saja. pada saat ini juga dilakukan pengiriman do’a dengan membaca tahlil dan berbagai sajian selamatan. Ubarampe selamatan sama dengan selamatan sebelumnya. Tradisi selamatan kematian sangat mungkin merupakan hasil akumulasi kepercayaan masyarakat jawa dengan kepercayaan lain, seperti adanya pengaruh Hindu, Budha dan Islam. Akibat pembauran kepercayaan ini dinamakan sinketrisme Jawa ( Sujamto, 1992:13-15). Hal ini seperti halnya juga dikemukakan Geertz( 1989:529 ) bahwa di Jawa sering terjadi manifestasi Islam sinkretik dalam arti, umpamanya, kepercayaan dan ritual-ritual Jawa tetap dipertahankan sebagai ritual islam setempat. Hasil sinkretik itu telah mewarnai keidupan masyarakat Jawa sehingga hampir sulit dipisahkan antara kepercayaan asli dan kepercayaan yang mempengaruhinya.

  • Nyewu atau selamatan setelah seribu hari kematian

Nyewu boleh dikatakan sebagai puncak dari rangkaian selamatan kematian. Pada saat ini orang Jawa meyakini bahwa roh manusia yang meninggal sudah tidak akan kembali ke tengah-tengah keluarganya lagi. Roh tersebut betul-betul telah akan meninggalkan keluarga untuk menghadap Tuhan. Itulah sebabnya selamatan pada saat ini dilaksanakan lebih besar dibanding selamatan sebelumnya. Karena itu untuk pembacaan tahlil pun peserta yang diundang juga jauh lebih banyak. Jika sebelumnya tidak memakai makanan sesudah tahlil, biasanya selamatan nyewu memakai makan bersama.

  • Kol-kolan

Kol merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal setelah seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan dengan satu tahun setelah nyewu. Saat peringatan ini harus bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan kenduri yang terdiri dari kue apem, ketan dan kolak. Semuanya diletakan dalam satu takir. Pisang raja satu tangkep, uang dan dupa.

  • Nyadran

Nyadran adalah hari berkunjung ke makam ppara leluhur/ kerabat yang telah mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi umat islam.

Source https://cahsastrajawa.wordpress.com https://cahsastrajawa.wordpress.com/2015/12/31/4-selametan-kematian/
Comments
Loading...