Upacara Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta

0 263

Selamatan Sesudah Pemakaman Jenazah Raja-Raja Kraton Yogyakarta

Dalam upacara kematian yang masih dilaksankan dikalangan bangsawan khususnya upacara-upacara sesudah pemakaman biasanya disebut selametan atau wilujengan yang maksudnya untuk keselametan baik untuk roh si mati supaya diterima di akhirat nanti, maupun untuk keluarga yang ditinggalkannya.

ada beberapa perbedaan antara selametan antara kaum bangsawan dengan rakyat biasa yang sesungguhnya tidak prinsip. Seperti dalam masyarakat biasa, wadah atau tempat makanan yang digunakan adalah berasal dari daun pisang atau takir pisang, sementara pada kaum bangsawan menggunakan kertas atau kain putih, sehingga tampak lagi bahwa lebih mewah dalam menghidangkan makanan dan sesajian. Ada dua macam disini yaitu sesajen wilujengan untuk dihidangkan hadirin dan sajen untuk sir oh mati.

Rangkain upacara-upacara ini umumnya meliputi :

  1. soartanah (pada hari yang sama dengan pemakaman)
  2. Nelung dino (tiga hari dari meninggalnya)
  3. Pitung dino (tujuh hari dari meninggalnya)
  4. Matang puluh dino (empat puluh hari dari meninggalnya)
  5. Nyatusdino (seratus hari dari meninggalnya)
  6. Mendak pisan ( 1 tahun dari meninggalnya)
  7. Mendak pindho (2 tahun dari meninggalnya)
  8. Nyewu dino ( seribu hari dari meninggalnya)

ketetapan waktu penyelenggaraan upacara selametan selalu diperhitungkan dengan amat teliti, terutama didasarkan pada hari, pasaran, bulan, dan tahun. Menurut perhitungan jawa. Dari soartanah sampai mitung dino masih mudah menghitungnya tetapi mulai matang puluh dino atau empat puluh harinya hingga selanjutnya memerlukan perhitungan khusus, menurut kepercayaan mereka apabila tidak tepat, maka tujuan yang ingin dapat dicapai dengan penyelenggaraan upacara selametan tersebut tidak tidak memenuhi harapan. adapun perincian upacara selametan tersebut adalah sebagai berikut :

Soartanah

Maksudnya menggusur tanag yaitu tanah yang dipakai untuk memakamkan jenazah. maknanya dengan selametan ini agar arwah atau roh si mati mendapat jalan yang terang dan tempat yang lapang. Materi yang disajikan : tumpeng yaitu nasi dibentuk kerucut asahan diatas rempah lengkap dengan lauk pauk jangan adem atau sayur adem. Pecel dengan sayatan daging ayam goreng atau panggang, sambel dongseng dengan kedelai yang terkelupas. jangan menir kerupuk dan rempeyek. Satu hal yang penting dalam hal ini adalah tumpeng yang harus dibelah dua dan ditaruh dalam posisi bertolak belakang terkenal dengan saburan tumpeng pengkur atau ungkur-ungkuran. Hal ini sebagai lambang anatra si mati dengan keluarga yang ditinggalkan. Juga agar kedua belah pihak mendapat keselamatan. Pelaksanaan soartanah ini adalah setelah pemakaman. Boleh siang atau malam hari. Pimpinan upacara dalam hal ini adalah mudin selaku pimpinan dan pemabawa doa, selain menerima bagian berkat juga menerima uang wajib sekadarnya. Sedang sesajian untuk si roh mati berupa nasi sepiring utuh atau sayo sak kenong, dua bulatan nasi golong, kembang setaman, dupa atau kemenyan, ubur merhah putih dan lampu seatir ditemaptkan di dalam rumah tertentu.

Nelung Dino atau Tiga Hari

Pelaksanaan di siang hari yang dihadiri tetangga dan ahli waris. Materi yang dihidangkan yaitu : takir pontang yang berisi nasi kuning atau sego punar dan nasi putihdengan lauk pauk daging srundeng gambingan, kecambah, kacang pangjang, yang telah di potong-potong, irisan brambah dan irisan apem. semuanya di taruh di sudi (dari daun pisang) selain itu juga nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, jangan menir, dan sambal santan.

Pitung Dino

Menujukkan dilaksanakan berselang tujuh hari setelah pemakaman Cuma waktu siang hari dan dihadiri oleh kerabat dan tetangga, materi yang dihidangakan berupa apem, ketan dan kolak dalam takir serta nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, pindang, jerohan dan krupuk. Sedang maksud dan tujuan masih sama dengan telung dino. Begitu pula sesaji untuk oh si mati.

Matang Puluh Dino 

Dilaksanakan 40 hari sesudah pemakaman, boleh siang, sore namun biasannya pada malam hari dan diundang para santri, materi yang disajikan sama dengan pitung dino.

Nyatus Dino

rangkain upacara selametan hampir sama dengan rangkain upacara selametan matang puluh dino.

Mendak Pisan

setiap satu tahun upacara. materi hidangan maupun ujub sama dengan matangpuluh dino.

 Mendak Pindho

Setiap 2 tahun semua rangkain upacara selametan juga sama dengan matang puluh dino.

Nyewu Dino

Pada umumnya upacara ini merupakan upacara terakhir yang wajib dilaksanakan dalam rangkain upacara selametan yang keseribu setelah kematian. Penyelenggaran lebih besar dari upacara selametan sebelumnya. Sedang mengenai materi hidangan tetap sama seperti rangkain upacara selametan sebelumnya. Dengan tambah daging kambing yang disembelih sendiri. Sebelum disembelih kambing dimandikan dengan air kembang setaman dan rambutnya dikeramas dengan air lada, dan tubuhnya diselimuti dengan kain putih di kalungi dengan untaian bunga dan diberi makam daun sirih makanannya. Makna yang sudah ditangkap mereka adalah sebagi pikiran kendaraan orang yang meninggal. Perlengkapan yang harus disediakan pada upacara selametan ini yaitu : tikar pandan, kaca kecil, kapas, kemenyan, dua sisir pisang raja, gula kelapa, sebutir kelapa satu takir beras, buanga dan boreh. Perlengkapan ini semua ditaruh dalam wadah dan disajikan di tempat kenduri yang nantinya menjadi baguian para santri kecuali para santri itu menerima berkat. Isi ujub dan uborampe lain tetap sama dengan ketika matang puluh dino.

Source Selamatan Sesudah Pemakaman Jenazah pada Upacara Kematian Raja-Raja Kraton Yogyakarta The Unique One
Comments
Loading...