Sejarah Wayang Golek di Tanah Jawa

0 167

Sejarah Wayang Golek di Tanah Jawa

Wayang Golek merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang banyak sekali terdapat di daerah Jawa Barat, daerah penyebarannya terbentang luas dari Cirebon di sebelah Timur sampai wilayah Banten di sebelah Barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat sering dipertunjukkannya pergelaran Wayang Golek ini. Wayang Golek Purwa dalam tulisan ini adalah pertunjukan boneka (Golek) Wayang yang cerita pokoknya bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana, Istilah Purwa mengacu pada pakem pedalangan gaya Jawa Barat dan juga Surakarta yang bersumber pada Serat Pustaka Raja Purwa R Ng. Ronggowarsito.

Beliau, berhasil mengolah cerita-cerita yang bersumber dari kebudayaan India yang dialkulturasikan dengan kebudayaan asli Indonesia, Wayang Golek Sunda adalah seni pertunjukan Tradisi yang berkembang di tanah Sunda, Jawa Barat, berbeda dengan Wayang Kulit dua dimensi, Wayang Golek adalah salah satu jenis Wayang trimatra atau tiga dimensi. Menurut C.M Pleyte, bahwa masyarakat di Jawa Barat mulai mengenal Wayang sejak tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi dalam Prasasti Batutulis. Pada abad 16, dalam naskah Ceritera Parahyangan juga disebutkan berulang-ulang kata-kata Sang Pandawa Ring/Kuningan.

Pendapat lain yang berkenaan dengan penyebaran Wayang di Jawa Barat adalah pada masa pemerintahan Raden Fatah dari Kerajaan Demak, kemudian disebarluaskan para Wali Songo (Sunan Kalijaga). Termasuk Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1568 memegang kendali pemerintahan di Kasultanan Cirebon. Beliau memanfaatkan pergelaran Wayang Kulit sebagai media dakwah untuk penyebaran agama Islam, baru sekitar tahun 1584 Masehi salah satu Sunan dari Dewan Wali Songo yang menciptakan Wayang Golek, tidak lain adalah Sunan Kudus yang menciptakan Wayang Golek Pertama.

Pada waktu Kabupaten-kabupaten di Jawa Barat ada di bawah pemerintahan Mataram, ketika zaman pemerintahan Sultan Agung (1601-1635), mereka yang menggemari seni pewayangan lebih meningkat lagi dalam penyebarannya, ditambah lagi banyaknya kaum bangsawan Sunda yang datang ke Mataram untuk mempelajari bahasa Jawa dalam konteks kepentingan pemerintahan, dalam penyebarannya Wayang Golek dengan adanya kebebasan pemakaian bahasa masing-masing, seni pewayangan lebih berkembang, dan menjangkau hampir seluruh Jawa Barat.

Menurut penjelasan Dr.Th. Pigeaud, bahwa salah seorang Bupati Sumedang mendapat gagasan untuk membuat Wayang Golek yang bentuknya meniru Wayang Kulit seperti dalam cerita Ramayana dan Mahabharata. Perubahan bentuk Wayang Kulit menjadi Golek secara berangsur-angsur, hal itu terjadi pada sekitar abad ke 18-19. Penemuan ini diperkuat dengan adanya berita, bahwa pada abad ke-18 tahun 1794-1829 Dalem Bupati Bandung (Karanganyar), menugaskan Ki Darman, seorang juru Wayang Kulit asal Tegal, Jawa Tengah yang bertempat tinggal di Cibiru, Jawa Barat, untuk membuat bentuk Golek Purwa.

Pada abad ke-20 mengalami perubahan-perubahan bentuk Wayang Golek, semakin menjadi baik dan sempurna, seperti Wayang Golek yang kita temukan sekarang ini, Wayang golek yang seperti ini yang biasa disebut dengan Wayang Golek Purwa Sunda. Dalam perjalanan sejarahnya, pergelaran Wayang Golek mula-mula dilaksanakan oleh kaum bangsawan. Terutama peran penguasa seperti Bupati, mempunyai pengaruh besar terhadap berkembangnya Wayang Golek tersebut. Pada awalnya pertunjukan Wayang Golek diselenggarakan oleh para priyayi (kaum bangsawan Sunda) dilingkungan Istana atau Kabupaten untuk kepentingan pribadi atau untuk keperluan umum.

Fungsi Wayang Golek di tengah-tengah masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat terhormat, di samping sebagai sarana hiburan yang sehat, Wayang juga berfungsi sebagai media penerangan dan pendidikan, baik itu tentang moralitas, etika, adat istiadat atau religi, yang tak kalah pentingnya Wayang Golek itu juga berfungsi sebagai upacara ritual penolak bala yang biasa disebut Ngaruat. Sebagai teater, Wayang Golek merupakan seni pertunjukan yang amat komplek sebab di dalamnya terdapat berbagai cabang seni seperti seni rupa, seni sastra, suara, musik dan seni tari, demikian juga dengan cara penyajiannya, Wayang tidak cukup hanya dimainkan oleh seorang (Dalang) akan tetapi membutuhkan persoalan pendukung yang terkadang melebihi 20 orang.

Persoalan pendukung, itu memang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, namun semuanya tetap harus mendukung Dalang sebagai pusat pertunjukan. Karena itu, dalam pergelaran Wayang Golek semua personal harus menjadi suatu kesatuan yang utuh dan padu agar semua dapat berjalan dengan sempurna.

Source https://ndaru999.blogspot.com/ https://ndaru999.blogspot.com/2016/05/sejarah-wayang-golek-di-tanah-jawa.html
Comments
Loading...