Sejarah Tradisi Ruwahan

0 649

Sejarah Tradisi Ruwahan

Hampir tak ada yang tahu persis kapan sebenarnya tradisi ruwahan bagi orang Jawa dilaksanakan. Namun dalam ajaran Islam, bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan merupakan bulan pelaporan atas amal perbuatan manusia. Maka, di sejumlah tempat diadakan sadranan yang maknanya adalah melaporkan segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama setahun, untuk nantinya manusia berintrospeksi. Dalam masyarkat Jawa tradisi atau ritual Ruwahan sudah ada pada zaman Hindu-Budha.

Ruwahan bukanlah tradisi asli dari Jawa melainkan peninggalan dari agama Hindu. Pada saat itu ruwahan disebut dengan tradisi upacara srada namun kemudian masyarakat Jawa lebih mudah menyebutnya dengan upacara nyadran. Pada saat nyadran masyarakat membawa uborampe seperti kembang, apem, ketan kukus, kolak, menyan dan air kekuburan. Kemudian meminta ketentraman dan kebahagiaan kepada leluhur yang ada di daerah tersebut. Kemudian setelah agama Islam masuk ke pulau Jawa. Budaya yang sudah lestari tidak dihilangkan tetapi dimasuki dengan unsur-unsur islam. Wadahnya masih nyadran namun isisnya diganti dengan doa-doa islam.

Saat itu, ruwahan  dimaknai sebagai sebuah tradisi yang berupa penghormatan kepada arwah nenek moyang dan memanjatkan doa keselamatan. Saat agama Islam masuk ke Jawa pada sekitar abad ke-13, tradisi ruwahan yang ada pada zaman Hindu-Buda lambat laun terakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Akulturasi ini makin kuat ketika Walisongo menjalankan dakwah ajaran Islam di Jawa mulai abad ke-15. Pribumisasi ajaran Islam membuahkan sejumlah perpaduan ritual, salah satunya budaya ruwahan. Oleh karena itu, ruwahan bisa jadi merupakan akomodasi para wali ketika memperkenalkan agama Islam di tanah Jawa.

Langkah itu ditempuh para wali, karena untuk melakukan persuasi yang efektif terhadap orang Jawa, agar mau mengenali dan masuk Islam. Nyadran pun menjadi media siar agama Islam. Selain ritual ruwahan, salah satu kompromi atau akulturasi budaya Jawa dalam islam berupa penempatan nisan di atas jenazah yang dikuburkan. Batu nisan tersebut sebagai penanda keberadaan si jenazah, agar kelak anak-cucunya dan segenap keturunannya bisa mendatangi untuk ziarah, mendoakan sang arwah, sewaktu-waktu. Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan di Jawa, mudik terdiri atas dua arus. Arus besar pertama terjadi dalam rangka menyongsong lebaran, atau Idul Fitri.

Source Sejarah Tradisi Ruwahan Starlight
Comments
Loading...