Sejarah Tradisi Nyadran di Dam Bagong

0 44

Sejarah Tradisi Nyadran di Dam Bagong

Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya. Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.
Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.
Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.
Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.
Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.
Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.
Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam. Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional.
Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.
Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.
Source https://jelajahsejarah45.blogspot.com/ https://jelajahsejarah45.blogspot.com/2017/09/tradisi-nyadran-di-dam-bagong-kelurahan.html
Comments
Loading...