Sejarah Teko Blirik ( Ceret Blirik Jawa ) dan 6 Fakta Menarik Tentang Teko Blirik

0 137
Pernah melihat teko/ceret blirik? Teko atau tempat air minum yang populer di tahun 1960 an tersebut kini memang sudah jarang terlihat. Bahkan kini sudah dianggap sebagai barang antik. Tak heran jika banyak cafe yang mengusung tema klasik memajang teko tersebut. Kali ini wartajowo akan membahas tentang teko blirik atau orang Jawa biasa menyebutnya ceret blirik.
Sejarah teko blirik
Teko blirik diperkirakan sudah ada sekitar Tahun 1830 (masa penjajahan). Penggunaan teko blirik pada awalnya mulai digunakan di Indonesia setelah perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1830. Teko yang memiliki ciri khas lurik lurik (blirik berwana hijau putih) pada saat itu banyak digunakan oleh kalangan perkebunan utamanya kalangan buruh.
Sejarah mencatat bahwa Agen teko blirik di Indinesia pertama kali adalah seorang pedagang  Berkebangsaan belanda kelahiran Belgia bernama Jan Mooijen. ia membuka agen penjuakan teko blirik pada tahun 1845 ketika Bekanda masih menjajah Indinesia.
37 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1908 Teko blirik dijadikan salah satu identitas Hindia Belanda di pasar Gambir, bahkan dalam perjalanannya Teko Blirik menjadi andalan banyak petani, nelayan dan buruh di Jawa. Puncaknya terjadi pada tahun 1921 dimana pada saat itu terjadi pemogokan-pemogokan ramai di Semarang, ada gerakan buruh yang menggunakan teko blirik sebagai symbol perdjoangannya, selain ‘Caping Keroak’ yang juga dijadikan symbol perdjoangan kaum buruh.
Puncak popularitas teko blirik terjadi pada Tahun 1960 an dimana setiap rumah bisa dikatakan menggunakan teko tersebut sebagai salah satu perlengkapan perabot rumah tangga. Pada awal tahun 1990 an (masih dalam pemerintahan Soeharto) kehadiran teko berbahan plastik yang lebih murah mulai menggeser teko blirik. Hingga sekarang teko blirik sulit untuk ditemukan bahkan sangat jarang diperjual belikan kecuali bagi para kolektor.
6 Hal menarik pada teko/ceret blirik
1. Berbahan dasar seng yang dilapisi enamel.
Tampilan gilap beserta motif lurik yang menarik pada teko membuat teko blirik masih dikenang hingga sekarang. Bahan dasar teko ini adalah seng dan lapisan gilap yang ada pada teko tersebut merupakan lapisan enamel yang banyak digunakan untuk melapisi perselen (bekakas rumah tangga lainnya). Karena dilapisi enamel maka teko blirik bisa bertahan lama (awet) dan tahan karat meskipun terkena panas.
2. Fungsi awalnya sebagai perangkat minum teh.
Seperti yang kita ketahui, bahwa bangsa penjajah (bangsa eropa) membawa banyak budaya yang akhirnya diadaptasi oleh masyarakat Indonesia, salah satunya adalah budaya minum teh. Awal muasal teko blirik berkaitan dengan kebiasaan orang eropa minum teh dimana perangkat minum teh nya adalah teko blirik, cangkir blirik dan juga lepek. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut menular khususnya bagi para pekerja kebun.
3. Simbol perjuangan kaum buruh
Meskipun teko blirik pada masa nya merupakan barang mewah, karena pada jaman dulu masih banyak yang menggunakan kendi sebagai tempat minum, namun nyatanya teko blirik teesebut menjadi swbuah simbol perjuangan kaum buruh, ladang bersama rantang makan siang. Hal imi terbukti ketika adanya deko buruh yabg terjadi semarang, dimana pada saat itu, massa membawa cangkir blirik dan caping sebagai bentuk perlawanan terhadap lenindasan pemerintahan belanda.
4. barang antik dengan harga murah.
Teko blirik kini telah menjelma menjadi barang antik yang banyak digunakan sebagai display bagi para kolektor atau penyuka barang lawas, meskipun termasuk barang lawas, namun nyatanya teko blirik memiliki harga yang masih terjangkau. Dibeberapa akun instagram barang klasik, teko blirik dijual dengan harga dibawah 200 Ribu, murah bukan ?
5. menjadi ikonik cafe klasik
Karena keantikan nya, teko blirik tak jarang dipakai beberapa cafe yang mengusung tema klasik sebagai ikon kafe mereka, di beberapa wilayah Solo misalnya, banyak ditemukan cafe dengan konsep klasik namun tetap terasa kekinian yang memajang aneka barang perkakas lawas, termasuk diantaranya teko blirik.
6. Motif  khas
Teko blirik memiliki motof lurik lurik seperti batik. Motif ini menjadi ciri khas teko yang sudah dikenal masyarakat sejak jaman penjajahan. Itulah sedikit yang bisa wartajowo sampaikan mengenai teko blirik atau ceret blirik yang kini sudah jarang digunakan. Namun hingga kini keberadaan nya masih tetap dikenang.
Source http://wartajowo.blogspot.com http://wartajowo.blogspot.com/2018/08/sejarah-teko-blirik-ceret-blirik-dan-6.html
Comments
Loading...