Sejarah Tari Doger

0 358

Sejarah Tari Doger

Kesenian Doger merupakan bagian dari kesenian Jaranan yang berkembang di daerah Kediri, Nganjuk, Tulung Agung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Magetan, dengan perkembangan yang bervariasi pada tiap-tiap daerah tersebut. Khusus di daerah Magetan, kesenian Jaranan mengalami perkembangan tersendiri setelah di daerah Maospati di bangun lapangan terbang yang sekarang diberi nama Iswahyudi.

Pada mulanya banyak pekerja dari berbagai daerah yang ikut membangun lapangan terbang Iswahyudi tersebut. Sebagian dari mereka membawa serta keluarganya atau berkeluarga di daerah Maospati. Disela-sela kesibukan mereka sebagai pekerja, sambil melepaskan lelah, mereka menghibur diri dengan berbagai acara, termasuk mengadakan kesenian Reog dan Jaranan. Di Desa Ngujung Kecamatan Maospati tepatnya di dukuh Pedo ada seorang waranggono bernama : Nyi Surip yang terkenal karena kemampuannya menyanyi, menari, serta kecantikan wajahnya.

Salah seorang pekerja lapangan dari luar daerah yang mondok di daerah tersebut yang bernama Sarengat, sangat tertarik kepada Nyi Surip. Agar Sarengat dapat selalu dekat dengan Nyi Surip, maka dia mendirikan kesenian Reog Pedo dan Nyi Surip diminta menjadi waranggono. Karena Sarengat sudah berkelurga, dan diketahui oleh Nyi Sarengat bahwa suaminya ada main dengan Nyi Surip, maka Nyi Sarengat sangat marah kepada suaminya dan Nyi Surip akhirnya Sarengat dan Nyi Surip beserta teman-teman keseniannya antara lain Karyosaerun pergi dari Desa Ngujung mengamen di desa-desa lain, sampai ke daerah Solo, Yogjakarta, Banyumas, bahkan sampai di Bandung (Jawa Barat).

Sampai berbulan-bulan rombongan Reog Sarengat dan kawan-kawan mengadakan pertunjukan di pasar malam di Bandung tersebut. Di pasar malam itu banyak atraksi kesenian yang dapat dilihat. Salah satu yang menarik perhatian Sarengat dan rombongannya adalah tari Doger. Maka disuruhlah Nyi Surip mempelajari tarian tersebut untuk menambah variasi pada keseniannya.

Setelah Nyi Surip telah mempelajari dan menguasai tari Bandung tersebut, maka selanjutna tari Doger menjadi bagian dari kesenian Reog Pedo pimpinan Sarengat. Akhirnya Sarengat dan ronbongan reognya kembali ke desa Ngujung dan menanbah kekayaan keseniannya dengan disertakannya tari Doger sabagai bagian dari penyajian reog, dengan iringan musik dari gamelan yang disesuaikan dengan tari Doger.

Sarengat sendiri diajak istrinya (Nyi Sarengat) pergi meninggalkan desa Ngujung sedangkan Reog Pedo tetap hidup dan selanjutnya dipimpin oleh Karyosaerun alias Ki Suro. Selanjutnya kesenian Doger yang menjadi bagian dari kesenian Reog yang dalam perkembangannya juga terdapat kesenian Jaranan, terus tidak berkembang di desa Ngujung Kecamatan Maospati saja, tetapi juga berkembang di daerah-daerah lain di Kabupaten Magetan, termasuk antara lain desa yang mengalami perkembangan cukup baik adalah di desa Selopanggung Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan.

Perlu diketahui bahwa narasumber sebagai mantan penari Doger yaitu Ibu Sadirahnamplik dari dukuh Pedo, desa Ngujung, Kecamatan Maospati. Mereka adalah seorang yang memiliki ketrampilan menari Doger karena pernah dilatih oleh Sarengat, dengan cara disuruh mengikuti dan mengamati setian ada kesenian Doger, sehingga mampu menguasai jenis kesenian tersebut dan ikut menjadi penari Doger.

Source karyasatrakita.wordpress.com https://karyasatrakita.wordpress.com/tag/legenda/
Comments
Loading...