Sejarah Tari Aplang Banyumas

0 70

Sejarah Tari Aplang Banyumas

Kesenian Aplang berasal dari tradisi penyebaran agama Islam di Banjarnegara, Jawa Tengah. Penyebaran Islam pada saat itu menggunakan beberapa cara. Salah satunya melalui kesenian. Kesenian tersebut merupakan sarana dakwah bagi agama Islam yang berpedoman pada kitab Berjanji (berasal dari kata Al Barzanzi yaitu nama sebuah kitab karangan seorang Al Barzanzi, kitab ini berisi tentang riwayat hidup Nabi Muhammad S.A.W) dan kitab suci Al-Quran.

Di desa Kaliwungu Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara terdapat grup Berjanjen. Sebuah cara untuk menyebarkan agama Islam dengan melantunkan ayat suci Al-Quran dan syair-syair berbahasa Jawa dengan diiringi rebana.

Pada tahun 1951 terbentuk kesenian Angguk yang merupakan perkembangan dari Berjanjen. Kesenian tersebut terbentuk dengan menambah gerakan silat yang dilakukan beberapa penari laki-laki pada saat Berjanjen.

Setelah beberapa waktu kesenian Angguk perlahan mulai mengalami kemunduran sehingga lambat laun tidak aktif, kemudian tumbuh kesenian baru yang bernama Dhaeng. Kata Dhaeng berasal dari kata “Aeng” yaitu Beda yang dimaksud berbeda dari kesenian Angguk.

Beberapa waktu kemudian pada kesenian Dhaeng dilakukan penambahan penari pria, agar kesenian Dhaeng lebih atraktif. Kesenian Dhaeng berubah nama menjadi Aplang, Aplang berasal dari kata “Ndhaplang”. Berarti gerakan silat dilakukan dengan merentangkan tangan ke kanan dan ke kiri. Gerak-gerak silat  41 pada tari Aplang diirinngi dengan nyanyian dan syair-syair menggunakan bahasa Arab yang bersumber pada kitab Al Berzanzi.

Dahulu kesenian Aplang dilakukan pada malam hari yaitu pada pukul 20.00 sampai pukul 01.00 malam dengan durasi waktu terdiri atas 12 babak. Kesenian Aplang dilakukan sebagai sarana dakwah dan hiburan pada waktu itu, dengan melantunkan puji-pujian Islam dan diiringi dengan alat musik rebana.

Kesenian Aplang sempat mengalami pertumbuhan yang tersendat-sendat karena kemajuan zaman yang mengakibatkan kesenian tersebut tidak aktif. Kesenian Aplang mulai muncul kembali sekitar tahun 1953. Kemunculan itu diwarnai dengan penambahan penari. Semula para penari Aplang adalah penari putra yang
berjumlah 8 orang.

Tahun 1953 tari Aplang mengalami pergantian penari putri, hal ini mempunyai maksud agar tari Aplang semakin menarik dalam menyajikannya. (Jasman, wawancara 12 Maret 2013). Penggemar kesenian Aplang menganggap bahwa kesenian Aplang yang ditarikan oleh penari putri lebih menarik dan tidak membuat jenuh penontonnya.

Kesenian Aplang berubah wajah, sehingga kesenian ini semakin banyak digemari masyarakat. Masyarakat sengaja nanggap tari Aplang (mengundang untuk suatu pementasan) pada saat mereka menggelar hajatan seperti acara ngapati (selamatan 4 bulanan orang hamil), mitoni (selamatan 7 bulanan orang hamil), yasinan, dan pengajian.

Tahun 1991 kesenian Aplang semakin dikenal oleh masyarakat. Sehingga banyak seniman yang tertarik untuk menggarapnya. Tahun 2004 Tari Aplang digarap oleh Bapak Mudiyono sehingga mengalami pengembangan dari segi 42 penari yang sekarang ditarikan oleh penari putra dan putri, maupun dari segi gerak, durasi waktu, rias, dan busana.

Untuk menambah kekhasan dan Islamiah para penari menggunakan “tarompah” atau “bakiak” (alas kaki yang digunakan untuk pergi ke mushola atau masjid yang terbuat dari kayu) yang lebih modern. Karena kesenian tersebut mengikuti perkembangan zaman.

Hal ini tidak terlepas usaha dari Pemerintah Daerah untuk memperkenalkan, mengembangkan dan melestarikan kebudayaan daerah khususnya tari Aplang. Tari Aplang mendapat perhatian dan pembinaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara.

Tari Aplang diikut sertakan dalam parade seni di PRPP Semarang dan mendapat juara 1, serta festival kesenian tradisional tingkat propinsi Jawa Tengah di Borobudur mendapat juara 1. Usaha nyata Pemerintah Daerah ini antara lain diwujudkan dengan mengadakan pelatihan tari Aplang se-Kabupaten Banjarnegara pada Tahun 2007 dan Tahun 2013. Melibatkan guru-guru seni tari, pelaku seni dan seniman.

Source http://eprints.uny.ac.id/ http://eprints.uny.ac.id/27611/1/Fanni%20Angganingtyas%2009209241048.pdf
Comments
Loading...