Sejarah Tari Angguk Kulon Progo

0 396

Sejarah Tari Angguk Kulon Progo

Tarian rakyat dibuat sekelompok masyarakat yang terpisah secara sosial diluar wilayah keraton. Tarian rakyat hadir setelah terjadi pengelohan aspek sosial, budaya, ekonomi, sejarah yang tumbuh dan berproses di tengah masyarakat. Kebanyakan fungsinya untuk menyebarkan nilai positif tertentu, penyebaran agama dan sarana interaksi masyarakat. Fungsi turunannya sebagai media hiburan.

Demikian halnya dengan Angguk Kulon Progo. Pada awal perkembangannya tarian Angguk dipergunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Seiring berjalannya waktu berkembang menjadi tarian dengan fungsi lain yang lebih sekuler sehingga dapat dinikmati oleh siapapun, meskipun tetap kental dengan nuansa Islam yang terlihat dari lantunan vokal pengiringnya. Biasanya angguk ditanggap ketika ada masyarakat yang sedang melangsungkan pernikahan, supitan dan lain sebagainya.

Tarian Angguk Kulon Progo termasuk golongan tarian rakyat yang bernafaskan Islam. Di dusun Tlogolelo, Hargomulyo, Kokap, kesenian angguk bahkan sudah ada sejak tahun 1954. Hanya berjarak 9 tahun sejak bangsa ini merdeka. Hal ini menjadi bukti bahwa meskipun saat itu Kulonprogo tak luput dari penjajahan Jepang, namun warganya selalu berkreasi menciptakan kesenian sebagai sarana penyampaian nilai tertentu dan hiburan.

Antara tahun 1970 hingga 1980 Angguk berkembang pesat sampai pada tahun 1991 muncul lah grup angguk Putri Lestari di Dusun Pripih, desa Hargomulyo, Kokap. Angguk putri memang lebih berkembang dibanding Angguk yang ditarikan oleh pria. Keberadaannya lebih terkenal dibanding Tarian Angguk pria.

Menurut penelitian yang dilakukan Fajar Listyanto pada tahun 2010, redupnya tarian Angguk pria erat kaitannya dengan perubahan yang terjadi di masyarakat kaitannya dengan Angguk Kulon Progo. Perubahan ini seperti perubahan bentuk pertunjukan, perubahan sifat pertunjukan dan perubahan tujuan pertunjukan.

Sampai tahun 1998 atau sebelum reformasi, di Kecamatan Kokap saja terdapat sepuluh grup tari Angguk. Tujuh di antaranya grup angguk putra dan sisanya putri. Selain di Kecamatan Kokap saat itu juga terdapat grup angguk di daerah Bendungan, Kecamatan Wates; Panjatan, Kecamatan Panjatan; Kulur dan Jangkaran dari Kecamatan Temon.

Menurut beberapa sumber tarian Angguk Kulon Progo masih memiliki ikatan dengan Tarian Dolalak yang besar di Kabupaten Purworejo. Jika memang mirip, hal seperti ini munkin saja terjadi. Akulturasi budaya bisa jadi telah terbentuk mengingat Kabupaten Kulonprogo secara geografis berbatasan langsung dengan Kabupaten Purworejo di Jawa Tengah.

Tidak hanya akulturasi dengan jenis tarian lain, perpaduan budaya di tarian Angguk juga tampak dari instrumen musik pengiringnya. Saat ini kesenian Angguk modern sudah mulai disisipi alat musik seperti rebana, bedug, simbal, snare drum bahkan juga keyboard. Nuansa Arab dan Jawa terlihat dari lantunan syair dan nuansa Eropa tergambar dari kostum yang dikenakan para penari.

Source Sejarah Tari Angguk Kulon Progo Gemulai Tari Angguk Kulon Progo

Leave A Reply

Your email address will not be published.