Sejarah Syeh Maulana Malik Maghribi

0 179

Sejarah Syeh Maulana Malik Maghribi

Cara masyarakat di Desa Candisari, Ampel, Boyolali, dalam memperingati jasa Syeh Maulana Malik Maghribi tidak terlepas dari kisah penyebaran agama Islam yang dilakukannya di lereng Gunung Merbabu. Cerita dimulai pada zaman berjayanya Kerajaan Demak Bintoro (Demak). Dimana diceritakan bahwa di sebelah timur lereng Gunung Merbabu dikenal sebuah padepokan yang dipimpin seorang pertapa sakti dan baik hati.

Berita baik itu menyebar cepat hingga ke Kerajaan Pengging di bawah kuasa Prabu Kusumowicitra. Dia memerintahkan anaknya yang bernama Citrasoma untuk melihat kebenaran itu. Jika hal itu benar adanya, dia ingin agar anaknya dapat berguru pada pertapa yang suka menolong itu.

Kedatangan Pangeran Citrasoma ternyata berbarengan dengan datangnya seorang penyebar agama Islam yang tak lain adalah Syeh Maulana Malik Maghribi. Kedatangan kedua sosok itu diterima dengan baik oleh pertapa yang juga memiliki padepokan.

Di sana Citrasoma tidak hanya bertemu dengan pertapa sakti. Dia juga bertemu dengan putri pertapa yaitu Dewi Nawangsih. Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih ternyata saling mencintai. Hubungan mereka direstui oleh pertapa sakti. Namun oleh Syeh Maulana Malik Maghribi dirinya disarankan untuk terlebih dahulu membuat sumber air untuk melengkapi lamarannya kepada Dewi Nawangsih.

Mendapati syarat itu, Pangeran pulang menceritakan perjalanannya kepada sang ayah. Prabu Kusumowicitra ternyata juga merestui hubungan anaknya dan membimbingnya untuk melakukan pertapaan di lereng Gunung Merbabu. Pertapaannya itu dimaksudkan agar dia bertemu dengan Prabu Kurawu, penguasa jin di lereng Gunung Merbabu, yang bisa membantunya.

Pangeran Citrasoma segera melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Dia pun berangkat menjalankan pertapaan selama 40 hari 40 malam. Setelah melewati segala godaan akhirnya dia dipertemukan dengan Prabu Kurawu yang mau menyanggupi permintaannya membuat sumber air.

Tak lama berselang, masih dekat dengan lokasi bertapa sang pangeran munculah sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh warga seperti yang diminta pertapa sakti. Pangeran segera memberitahu pertapa dan Syeh Maulana Malik Maghribi bahwa dia telah menjalankan syarat yang diminta. Mata air yang dimaksud kemudian dinamai Tuk Si Pendok oleh Syeh Maulana Malik Maghribi karena pancarannya serupa pendok(lengkung) keris.

Melihat apa yang telah dilakukannya, pangeran akhirnya dapat meminang Dewi Nawangsih dan memboyongnya ke Kerajaan Pengging. Sepeninggal kepindahan Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih, Syeh Maulana Malik Maghribi kemudian berencana membangun masjid di lingkungan padepokan.

Karena minimnya bahan, dia memerintah utusan untuk meminta bantuan berupa saka atau tiang kayu jati kepada Kerajaan Demak. Karena di Demak juga sedang membangun masjid, Masjid Agung Demak. Maka mereka tidak dapat menyanggupi permintaan itu.

Dengan keterbatasan yang ada akhirnya masjid itu tetap dibangun dan diberi nama Masjid Pantaran yang berarti sebaya karena dibangun bersamaan dengan Masjid Agung Demak. Nama Pantaran kemudian juga menjadi sebutan bagi pertapa sakti dan juga wilayah di lereng Gunung Merbabu itu.

Karena itu hingga saat ini nama makam itu disebut Makam Ki Ageng Pantaran. Di sana juga terdapat pusara Syeh Maulana Malik Maghribi. Tetapi sejatinya dia tidak dimakamkan di pemakaman itu melainkan hanya benda-benda pusaka miliknya.

Source http://chic-id.com/ http://chic-id.com/tradisi-buka-luwur-makam-ki-ageng-pantaran-boyolali/
Comments
Loading...