budayajawa.id

Sejarah Syawalan : Tradisi Budaya Di Krapyak Pekalongan Yang Masih Dijalankan Hingga Kini

0 8

Sejarah Syawalan : Tradisi Budaya Islam Di Krapyak Pekalongan Yang Masih Dijalankan Hingga Kini

Ada tiga tradisi keagamaan yang masih terus dilestarikan sebagai bagian dari sejarah perkembangan budaya islam di Kota Pekalongan terutama di Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. Tiga tradisi tersebut sampai sekarang masih bisa dinikmati, itu semua terjadi dalam satu tahun kalender. Salah satunya adalah syawalan.

Syawalan berasal dari kata syawal, masih salah satu dari nama bulan dalam kalender islam. Istilah Syawalan pertama kali diperkenalkan oleh Romo KH Abdulloh Syirod. Salah satu ulama paling terkenal dan kharismatik dalam sejarah perkembangan islam di Krapyak.

Sepeninggal Syech Muhyidin Bin Yahya, munculah ulama yang memiliki kharisma yang luara biasa bernama KH Abdulloh Syirod. Beliau hidup di masa penjajahan kolonial Belanda. Sepak terjang Romo KH Abdulloh Syirod inilah yang selalu membuat repot Belanda. Karena kharisma beliau, umat islam Pekalongan bisa bersatu. Hal tersebut tak bisa dipungkiri karena Romo KH Abdulloh Syirod berjasa memunculkan tradisi syawalan yang nyata-nyata mampu mempersatukan seluruh umat islam dan masyarakat Pekalongan pada umumnya.

Menurut KH Zaenudin Ismail, sejarah Syawalan diawali ketika umat islam mengikuti kebiasaan Romo KH Abdulloh Syirod berpuasa sehari setelah Hari Raya Idul Fitri selama enam hari. Saking banyaknya masyarakat Krapyak yang berpuasa, banyak pula saudara handai taulan, kerabat, teman, kenalan, kolega dan lain sebagainya merasa risih kalau mau bersilaturahmi atau bertamu kepada umat islam di Krapyak. Karena mereka tahu selama enam hari tersebut umat islam di Krapyak sedang berpuasa. Padahal masih dalam suasana lebaran.

Tradisi Syawalan sendiri sebenarnya merupakan taktik brillian Romo KH Abdulloh Syirod dalam mempersatukan umat islam dan rakyat Pekalongan. Karena melalui tradisi Syawalan umat islam dan rakyat Pekalongan bisa dipersatukan dan taktik tersebut Belanda terkecoh. Belanda tidak menyadari kalau semua itu adalah muslihat yang dilakukan oleh Romo KH Abdulloh Syirod.

Setelah sekian lama akhirnya Belanda mencium adanya persatuan umat islam dan rakyat Pekalongan melalui tradisi Syawalan. Sehingga semua ulama yang memliki pengikut terancam dibunuh oleh Belanda.

Source https://www.pekalongan-news.com/ https://www.pekalongan-news.com/2016/07/ini-dia-tiga-tradisi-budaya-islam-di.html
Comments
Loading...