Sejarah Seni Tayub Grobogan

0 302

Sejarah Seni Tayub Grobogan

Tayub mulai dikenal sejak zaman Kerajaan Singasari. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Majapahit. Kemudian Raja Kediri menjadikan tayub sebagai tarian kerajaan dan mementaskannya untuk penyambutan tamu agung kerajaan. Pada abad XII, tayub digunakan untuk penobatan Raja Jenggala. Dia mewajibkan para permaisuri menari tayub saat menyambut kedatangan raja di pringgitan.

Tarian tayub merupakan kesenian gerak tari para penari serta nyanyian diiringi diatur bersama supaya serempak berdasarkan kesepakatan dari para pemain dengan para penonton. Sehingga terwujudlah suatu keakraban dan persaudaraan. Tayub berasal dari kata “Tata dan Guyub” yang artinya bersahabat dengan rasa persaudaraan tanpa persaingan dan tanpa aturan menari yang dibakukan. Tayub dalam istilah Jarwo Dhoso yaitu “ditata ben guyub”, yang merupakan sebuah filosofi yang ditanamkan pada tayub sebagai kesenian untuk pergaulan. Nilai dasarnya adalah kesamaan kepentingan untuk mengapresiasikan kemampuan jiwa dan bakat seni, baik penabuh gamelan maupun penarinya. Kesamaan kepentingan ini akan melahirkan keserasian Tayub sebagai suatu bentuk tarian, mereka menari sesuai dengan kreativitas yang seirama dengan diiringi musik gamelan.

Di daerah Kabupaten Grobogan tarian tayub menggambarkan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen atau perayaan karena terkabulnya doa permohonan masyarakat Kabupaten Grobogan. Mereka bersuka cita, bercanda, menari bersama, bergandeng tangan, dan saling berpasangan. Kegiatan muda-mudi yang terjadi secara spontan, ketika itu sangat membekas dan berkesan dalam hati mereka. Apa yang mereka alami seakan memiliki arti tersendiri dan menjadi momen penting dalam kehidupannya. Seiring dengan berjalannya waktu mereka mengulangi untuk menyenggarakan perayaan panen dan waktu terus berjalan yang akhirnya tercipta suatu tari pergaulan yang dinamakan Tayub. Tayub sendiri telah berkembang di beberapa daerah di Jawa Tengah, yaitu Blora dan Pati. Tayub didaerah Pati dan Blora berbeda dengan Tayub Grobogan.

Di daerah Kabupaten Blora tarian tayub menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang dihormati oleh masyarakat menurut jenjang kepangkatan mereka masing-masing. Penyambutan oleh penari wanita dengan menyerahkan selendang yang dipakai penari atas petunjuk pemimpin. Tamu yang menerima selendang mendapatkan kehormatan untuk menari bersama-sama dengan penari.

Sedangkan di daerah Kabupaten Pati tari Tayub memberikan spirit kesuburan, yang dimaknai bersatunya “bapa angkasa (bapak langit) dan Ibu Bumi (ibu pertiwi). Persatuan keduanya menimbulkan hujan yang mendatangan kesuburan. Bergesernya wajah geografis Jawa dari yang bernuansa agraris ke era industrialisasi mengubah wajah seni tradisi. Tayub tidak lagi menjadi perangkat budaya sebagai seni ritual kesuburan, melainkan lebih condong kearah perangkat komersial. Dengan kata lain, Tayub bergeser dari seni yang berpijak pada filosofi ke arah fungsional dan pragmatis.

Masyarakat Pati selatan juga merumuskan syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang penari Tayub adalah Rupa, Suara, Wiraga, dan Trapsila. Berparas cantik, bersuara merdu, pandai menari dan bermuka ramah harus dimiliki oleh setiap perempuan yang ingin menjadi seorang penari Tayub. Sederet persyaratan yang tidak mudah dipenuhi oleh kebanyakan perempuan dimanapun. Kalau pandai menari dan bersuara merdu masih bisa dilakukan melalui belajar olah gerak tubuh dan gurah, tetapi cantik dan berwatak ramah lebih merupakan pemberian atau bawaan sejak lahir.

Tatanan yang telah dipakai setiap pementasan tarian tayub adalah satu penari diikuti dua penari pria dan biasanya setiap pentas minimal dua penari wanita. Sehingga diatas pentas minimal ada enam penari pria dan wanita. Penari pria yang tampil dipentas adalah para tamu yang hadir pada setiap hajatan, sehingga dibutuhkan pengatur acara yang dalam hal ini dinamakan “Pengarih” dan sebagai tanda bahwa seseorang mendapatkan giliran menari diberikan selendang oleh panitia. Dengan demikian dalam situasi apapun pentas kesenian Tayub selalu berjalan dengan lancar dan aman dan etika pun terjaga dengan bai karena jarak antara penari pri dan wanita diatur yaitu dengan jarak satu meter.

Didalam kelompok seni pertunjukan, tarian tayub dapat digolongkan dari tari masyarakat tradisional, sifat masyarakat yang menonjol, tampak sebagai gambaran dari jiwa masyarakat pendukungnya. Karena kesenian Tayub sudah memasyarakat dan juga merupakan hiburan segar dan murah bagi semua kalangan maka tari Tayub dipentaskan pada setiap acara perkawinan, khitanan, memenuhi nadar, diterima kerja, upacara adat dan sebagainya.

Source Sejarah Seni Tayub Grobogan Soeralaya
Comments
Loading...