Sejarah Sekaten Tradisi Di Kraton Yogyakarta Dan Surakarta

0 164

Sejarah Sekaten Tradisi Di Kraton Yogyakarta Dan Surakarta

Sejarah sekaten dimulai dari Kerajaan Demak pada masa pemerintahan Raden Patah. Raden Patah sebagai raja pertama berniat menghapus segala bentuk upacara keagamaan yang sudah ada sebelumnya salah satunya adalah upacara pengorbanan raja,  dengan harapan masyarakat Jawa dapat memeluk agama Islam secara sempurna dan “kafah” serta terlepas dari pengaruh anminisme dan Hindu.  Namun upaya tersebut ternyata tidak membawa hasil seperti dengan yang diharapkan, justru menimbulkan keresahan di kalangan rakyat, sebab rakyat sudah berabad-abad terbiasa hidup dengan adat dari kepercayaan lama. Keresahan yang menimbulkan gangguan keamanan negara itu, masih ditambah dengan musibah lain, yaitu berjangkitnya wabah penyakit menular.

Atas saran Wali Songo, upacara pengorbanan raja itu dihidupkan kembali, namun diberi warna keislaman. Hewan kurban disembelih menurut peraturan agama Islam. Awal dan akhir doa selamatan, berupa doa Islam yang dipanjatkan oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang. Maka setelah kerajaan menyelenggarakan upacara kurban itu, tak berapa lama kemudian menghilanglah wabah penyakit menular, dan ketenteraman pulih kembali. Sesudah aman tenteram dan makmur, para Wali Songo menggiatkan usaha untuk mensyiarkan agama Islam di kalangan rakyat. Untuk mendukung syiar Islam tersebut, maka didirikanlah Masjid Besar sebagai pusat peribadatan umum. Menurut candrasengkala yang berbunyi geni mati siniram ing janmi, Masjid Besar itu selesai pembangunannya pada tahun 1408.

Meski telah ada Masjid Besar dan para Wali Songo giat berdakwah, penyebaran agama Islam tidak banyak mengalami kemajuan. Jumlah para santri masih sangat sedikit. Sebagian besar rakyat terutama masyarakat pedesaan, masih enggan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pemyataan memeluk agama Islam. Maka para Wali Songo lalu bermusyawarah. Mereka sependapat bahwa untuk menginsyafkan rakyat dan kebenaran ajaran agama Islam, haruslah dilakukan secara bertahap dan dengan penuh kearifan. Bersikap sopan-santun, ramah-tamah dalam berdakwah, dan tanpa mencela adat serta unsur-unsur kebudayaan rakyat,  bahkan memanfaatkan unsur-unsur kebudayaan rakyat sebagai sarana dakwah, terutama dengan memanfaatkan bahasa, adat-istiadat dan kesenian rakyat.

Sunan Kalijogo mengetahui bahwa rakyat menyukai perayaan, keramaian yang dihubungkan dengan upacara-upacara keagamaan. Apalagi jika perayaan, keramaian itu disertai irama gamelan, tentu akan sangat menarik perhatian rakyat untuk datang menghadiri. Timbullah gagasan Sunan Kalijogo agar kerajaan menyelenggarakan perayaan, keramaian setiap menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad saw, pada bulan Rabiulawal. Untuk menarik perhatian rakyat agar mau rnasuk ke Masjid Besar, dibunyikanlah gamelan yang ditempatkan di halaman masjid. Para Wali dapat berdakwah langsung di hadapan rakyat.

Meski membunyikan gamelan di halaman masjid itu dapat ditafsirkan sebagai makruh, namun demi kelancaran syiar Islam, gagasan Sunan Kalijogo itu diterima majelis Wali Songo. Sultan pun menyetujui pelaksanaan gagasan Sunan Kalijogo. Maka dalam bulan Rabiulawal, seminggu sebelum hari kelahiran nabi, diselenggarakanlah perayaan, keramaian yang disebut sekaten. Di halaman Masjid Besar didirikan tempat khusus untuk menaruh dan membunyikan gamelan, disebut pogongon.

Maknapagongan adalah tempat gong (gamelan) yang dibuat oleh Sunan Giri. Konon, sebagian dari gendhing-gendhing (lagu) gamelan dicipta oleh Sunan Giri pula dan sebagian lagl olen Sunan Kalijogo. Selama satu minggu gamelan diperdengarkan terus-menerus, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam Jumat sampai lewat sholat Jumat.

Untuk lebih menarik simpati rakyat, pada malam menjelang hari kelahiran nabi yang bertepatan dengan tanggal 12 bulan Rabiulawal, sultan berkenan mengikuti upacara keagarnaan di Masjid Besar. Sultan keluar dari keraton diiring (bahasa Jawaginarebeg) para putra dan segenap pembesar kerajaan. Selepas sholat Isya, sultan dan para pengiringnya duduk di serambi masjid untuk mendengarkan riwayat hidup nabi yang diuraikan oleh para wali disusul dengan selawatan. Baru pada tengah malam, sultan dan para pengiringnya kembali ke keraton. Gamelan yang selama seminggu ditaruh dan dibunyikan di halaman Masjid Besar, juga di bawa ke kraton sebagai tanda berakhirnya perasaan, keramaian sekaten dan upacara peringatan hari kelahiran nabi.

Upacara sekaten kemudian dilestarikan sebagian bagian dari tradisi kerajaan dan masih dipertahankan oleh kraton Yogyakarta dan Solo.

Source https://rizki-nisa.blogspot.co.id/ https://rizki-nisa.blogspot.co.id/2013/06/asal-mula-sekaten.html
Comments
Loading...