Sejarah Rumah Adat Cikondang Bandung

0 204

Sejarah Rumah Adat Cikondang Bandung

Dalam membangun rumah di kampung Cikondang dilakukan tradisi upacara yang dimulai dengan upacara merapihkan. Upacara ini dilakukakn untuk mencegah kesalahan dalam pelaksanaan dan pengerjaan pembangunan oleh para tukang yg mengerjakan. Bagi para tukang kayu, tukang batu dan tukang besi diharuskan mengumpulkan perkakas alat bantu kerja untuk didoakan dan dirapihkan agar dalam penggunaanya mendapat keselamatan dan terhindar dari masalah-masalah kecelakaan. Pembangunan dimulai dengan upacara yang disebut upacara tukuh (ruwatan) sehari sebelum membangun rumah. Tanah digali sebatas siku, dan ditaruh damar kemudian ditutup dengan batu. Kegiatan ini menyimbolkan upacara membangun. Setelah bangunan selesai terbangun kemudian dilanjutkan upacara sukuran.

Ruangan dalam rumah adat ini pada dasarnya minim sekat dan berkesan luas. Ruangan menyatu secara fungsional menjadi satu kesatuan ruang, ruang keluarga, ruang tamu, dapur dan kamar disebut bumi tengah. Ruang yang disebut gowah terletak pada bagian belakang, berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan gentong (paniisan) beras. Pada bagian depan sebelum masuk dalam rumah terdapat golodok tangga, bang barung, pintu disebut panto.

Dalam rumah adat ini terdapat tiang utama berjumlah 21 tiang dan memiliki 5 jendela sebagai simbol sholat lima waktu. Simbol religi juga diterapkan pada panto (pintu) yang mana cuma terdapat satu panto dalam rumah adat ini sebagai simbol akan keyakinan bahwa tuhan itu satu. Lantai (palupuh) terbuat dari bahan rotan dan bambu yang terdiri dari lapisan lampit, bahas dan dolos.

Struktur rangka melintang dari bahan kayu yang bertugas memperkuat berdirinya dinding (bilik) yang disebut palang dada. Palang dada terdapat pada setiap dinding rumah. Juga terdapat pangeret pada struktur dinding yang hanya digunakan pada sisi bagian lebar dinding ruangan. Pada bagian panjang ruangan dan dinding menggunakan unsur pengikat lainnya yang disebut pamikul. Uniknya, struktur dinding ini memiki fungsi lain dari sekedar penguat bilik, sebagai tempat untuk menaruh benda-benda pajangan. Apabila sudah berfungsi seperti ini maka palang dada ini disebut pamidangan.

Orientasi rumah adat ini diatur turun-temurun harus menghadap ke arah timur, suatu aturan adat yang melarang menghadap selain ke arah timur, terlebih pada arah selatan. Menurut keyakinan penduduk, arah selatan adalah tempat para leluhur bersemayam. Sehingga apabila dilanggar pamali. Sisi lain yang berfungsi maksimal terdapat pada bagian atas pada ruang dalam, tepat diatas ruang bumi tengah yang disebut pagok berupa lantai pada bagian atas sebelum plafon. Pagok berbahan bambu yang berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan atau sejenisnya, lebih banyak berfungsi apabila ada pelaksanaan upacara adat. Di bagian lain diatas pagok, masih di ruang bumi tengah, terdapat parak yang secara tidak langsung sebagai plafon dan berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengeringkan hasil panen pertanian berupa bawang. Hasil panen dapat kering dengan memanfaatkan panas dari atap, tentunya juga didukung oleh jarak antara atap dan parak yang relatif dekat. Hal yang sama juga terdapat pada bagian lain di atas wilayah dapur yang disebut parak sumuk, digunakan untuk menyimpan alat-alat dan makanan pendukung kegiatan di dapur.

Hal menarik lainnya terdapat pada bagian kepala atau atap bangunan, secara prinsip memiliki keistimewaan yang realistis dengan menyiasati lingkungan alam guna untuk kepentingan dan kebutuhan pengguna rumah. Contohnya dalam hal memanfaatkan atap yang bukan saja berfungsi sebagai penutup rumah, khususnya pada wilayah dapur, atap yang ada memiliki perbedaan dengan atap lainnya, baik dari segi bahan maupun fungsinya. Secara umum atap menggunakan bahan ijuk, namun pada sisi lainnya pada bagian dapur menggunakan bahan bambu atau disebut tarahab. Penggunaan dan pemilihan bambu ini tentu saja memiliki maksud dan tujuan, antara lain menyiasati masuknya sinar matahari untuk kebutuhan di dalam ruangan, atau dengan kata lain untuk kebutuhan pencahayaan alami. Fungsi tarahab juga sebagai sirkulasi udara, dimana sirkulasi udara kotor seperti asap dari dapur yang timbul atas kegiatan memasak dapat keluar dengan baik.

Prosesnya sangat sederhana, tarahab awalnya adalah bambu utuh dengan panjang yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan dibelah menjadi dua bagian. Dua bagian yang terbelah itu di letakan menempel pada balok dengan posisi dikaitkan (lihat foto 4). Masing-masing diposisikan berbeda, satu menutup dan satunya membuka atau dengan kata lain belahan bambu yang memiliki bagian cembung diposisikan menghadap ke bawah, dan bambu yang memiliki sisi cekung diposisikan menghadap ke atas. Bambu yang posisinya menutup disebut tutup dan yang dalam posisi membuka disebut tadah. Susunan tadah yang saling berdampingan diikat oleh pasak bambu yang disebut pangerong, Dengan begitu posisinya tidak dapat bergeser, tidak ada ikatan antara tadah dan tutup. Uniknya apabila menginginkan sinar matahari masuk dilakukan dengan cara pidak atau menjolok tutup dengan dibantu kayu panjang sehingga terbuka dan sinar matahari dapat masuk dengan leluasa. Dan apabila musim hujan datang, air hujan jatuh di tadah dan dapat mengalir dengan baik.

Source http://mulyanar11.blogspot.co.id/ http://mulyanar11.blogspot.co.id/
Comments
Loading...