Sejarah Perkembangan Terbang Gede, Kesenian Dari Banten

0 58

Sejarah Perkembangan   

Kesenian Terbang Gede merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang pada masa penyebaran agama Islam Di Banten. Pada waktu itu, agama Islam dipandang sebagai agama baru di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu untuk pendekatan maka diciptakanlah alat musik Terbang Gede. Kesenian Rakyat ini dibawa oleh seorang wali yang bernama syarif Hidayatullah dengan gelar Sunan Gunung Jati, hidupnya menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dan Banten dengan di Bantu oleh murid-muridnya.

Pada tahun 1450-1500, sekitar abad ke XV masyarakat Jawa Barat dan Banten masih beragama Hindu. Sunan Gunung Jati mengutus lima orang dari  Cirebon, yaitu Sacapati, Madapati, Jayapati, Margapati, dan Wargakusumah untuk menyebarkan agama Islam, salah satunya dengan cara pementasan kesenian meniru kesenian yang berkembang di Tanah Makkah.

Kelima utusan kemudian membuat alat musik genjring yang berasal dari potongan kayu mirip yang ada di Tanah Makkah. Alat musik tersebut dinamakan Terbang. Kemudian dibuatlah lima buah terbang sebagai symbol dari rukun Islam yakni Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, Ibadah haji.Karena merasa kurang sempurna, maka dibuatlah satu buah kendang besar sebagai pelengkap.

Selanjutnya cucu Sunan Gunung Jati yang bernama Maulana Yusuf pada tahun 1570-1580, dan oleh puteranya yang bernama Abdulfathah (Sultan AgengTirtayasa), terbang ini dijadikan juga sebagai alat penyebaran agama Islam.

Dan kesenian ini dapat diterima dan tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat karena pada saat itu para pemain tidak mengharapkan imbalan apa-apa selain berkah dan pahala dari Allah swt.

Kesenian ini jadi santapan utama masyarakat Banten pada saat peringatan hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Muharam, Ekahan, Muludan, dan Rajaban. Dalam pertunjukan terbang ini terdapat lagu-lagu yang mengiringi seperti syair solawat nabi pada saat Ekahan yaitu pada fase menggunting rambut dan acara khitanan.

Syair bila pada saat perkawinan yaitu ketika pengantin laki-laki memberikan kue kepada pengantin perempuan. Syair fakam dilantunkan pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW. Syair turulare dibawakan pada upacara pengiring pengantin, dan syair nabi dilantunkan pada waktu ngaruwat rumah yang baru dibangun.

Source http://meandyouculture.blogspot.co.id/ http://meandyouculture.blogspot.co.id/2016/08/tari-grebeg-terbang-gede-tarian.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.