Sejarah Perkembangan Permainan Klanthung Kabupaten Ngawi

0 200

Sejarah Perkembangan Permainan Klanthung Kabupaten Ngawi

Dulukala, desa-desa di bagian barat kabupaten Ngawi masih sangat jarang. Jarak antara desa satu dengan yang lain sangat jauh, dan harus menemtus hutan yang lebat. Hubungan sangat sulit, dan hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda. Keamanan pun tidak terjamin. Sering terjadi pembegalan yang disertai dengan penganiayaan atau pembunuhan. Desa-desa pur tidak jarang meng­alami gangguan keamanan oleh para penjahat yang berani dan nekad.

Karena persenjataan untuk menanggulangi keamanan dulu itu tidak sesempurna sekarang, juga dalam sistim pemberantasan kejahatan, maka andalan penduduk untuk menghadapi dan melawan kawanan penjahat itu adalah kekuatan dalam yang diperoleh dengan ilmu-ilmu kanoragan kekebalan atau kesaktian disertai dengan mantram-man- tram segala. Karena kepercayaan dan keyakinan masyarakat umum akan kekuatan-kekuatan dalam yang demikian itu masih tebal sekali, maka effeknya pun juga positif. Si penjahat tidak berani dengan ge­gabah melakukan kejahatannya tanpa andalan kekuatan dalam. Penjahat adalah penjahat, dan desa beserta penduduknya tetap ber­jaga-jaga menghadapi kejahatannya itu.

Di antara kawanan penjahat seperti brandal, kampak, kecu, rampok, maling dan sebagainya, terdapat kawanan yang mengkhu­suskan obyek kejahatannya dengan mencuri ternak, kerbau, sapi, atau kambing. Kawanan itu terkenal dengan sebutan genthc. Biasa­nya kejahatannya itu dilakukan pada musim kemarau, untuk mudah menghilangkan jejak. Di musim penghujan hal demikian sukar dilaku­kan, karena tanah yang basah dan lunak karena hujan, mudah jejak Pencuri ditelusuri.

Sesuai dengan kebiasaan kawanan gentho tersebut, maka penduduk mengambil langkah-langkah untuk mengamankan ternak mereka. Maka pada musim-musim kemarau semua ternak desa dikum- Pu kan di beberapa tempat tertentu yang cukup luas, diberi berpagar m u berduri yang lazim carang, sedemikian kuat untuk melindungi ternak dari serbuan kawanan gentho. Di samping pagar carang yang uat itu pun dilakukan penjagaan dan perondaan semalam suntuk Bcara bergantian. Dalam perondaan itulah bocah angon ikut meng- mbil bagian sambil membunyikan thethekan dan thonthongan yang srbuat dari bambu, yang menimbulkan suara yang melodius ritmis cionoton. Pemimpin kelompok peronda bocah angon tersebut di- iluki “Klanthung”.

Apelkah dalam perondaan mereka pada masa itu juga disertai lengan tari-tarian, ataupun dengan menggunakan topeng atau coreng- noreng pada muka dan badan mereka, informan tidak menceritakan. Tetapi hal demikian mungkin saja terjadi. Sebab, merfgingat kebiasa- in mereka, bocah angon, yang menghabiskan waktu hampir sehari- larian penuh dengan bermain di pangonan, lalu mendengar irama )unyi-bunyian yang mereka tabuh sendiri, agaknya tidak masuk akal talau hati mereka tidak tergerak untuk mengikutinya dengan menari­lah. Mungkin gerak tarian itu datang dengan sendirinya, secara in- itingtif. Dalam pada itu alam kepercayaan masyarakat waktu itu ma- ;ih kuat diliputi “gugon tukon” tahayul masih mengandalkan ke­kuatan magis (kesaktian) melalui mantra-mantra, ajimat, pusaka, dan iebagainya, untuk menolak gangguan kekuatan dari luar.

Tidak ter­kecuali tentunya kawanan pencuri ternak, para gentho, mereka pun menggunakan kesaktian untuk mensukseskan operasi kejahatannya, nisalnya dengan aji-aji penyirepan “mantra untuk menidur nyenyak- itan lawan”, sebagai mana kita dengar dalam kisah-kisah lama. Dengan demikian tidak mustahil pula, bahwa bocah-bocah angon yang meronda tersebut pun menggunakan topeng atau coreng mo- reng yang menyeramkan, dengan keyakinan, bahwa dengan demikian dapat memperoleh kekuatan magis yang akan mampu melawan dan melumpuhkan kesaktian kawanan gentho. Kelak kemudian hari naluri itu diwarisi dan diteruskan oleh anak cucu mereka turun te- murun, mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan per­kembangan jaman, dan akhirnya menjadi permainan Klanthung yang sekarang ini.

Dalam hal ini sekarang sudah ada sistim keamanan yang jauh lebih efisien, sehingga permainan ini dialihkan untuk menolak bala secara tradisional. Para pemainnya pun diganti dengan orang-orang dewasa atau tua-tua, mungkin untuk memberikan tekanan pada sifat religius magisnya yang ingin dipertahankan. Tiadanya upacara upacara ritus yang khusus yang biasanya menyertai tiap kegiatan semacam itu, kenduri, sesaji, dan sebagainya, mungkin didasarkan atas pertimbangan ekonomis atau kepraktisan. Bukankah penampilan Klanthung itu sendiri sudah merupakan upacara ritus.

Sebaliknya Klanthung desa Pakah lebih menitikberatkan pada penampilan anak-anak sebagai pengganti bocah angon. Anak-anak itu sendiri sebenarnya juga bocah angon, sebagai mana lazimnya anak-anak desa, tetapi sekarang tidak lagi bersifat legenda-ris seperti pendahulunya dimasa silam. Jamannya sudah berubah. Bocah angon jaman dulu peka terhadap kekuatan-kekuatan magis, karena menurut ucapan informan bocah angon jaman dulu banyak prihatinnya. Anak-anak sekarang sudah wajar menghayati dunia kanak-kanaknya, sehingga dengan demikian, unsur permainan lebih dominan mewarnai Klanthung Pakah. Hanya oleh wujud penampil-an penari yang menyeramkan serta monotonnya tetabuhan yang mengiringinya aspek religius magisnya secara tidak langsung terwakili. Suasana bulan Suro pun banyak membantu mewarnai sifat-sifat kereligio-magisan tersebut. Namun bagaimanapun, kecenderungan bermain-main nampak menonjol sekali.

Source http://jawatimuran.net http://jawatimuran.net/2013/03/14/klanthung-kabupaten-ngawi/
Comments
Loading...