Sejarah Pakaian Surjan Jogja

0 443

Sejarah Pakaian Surjan Jogja

Pakaian, mode pakaian, dan gaya berpakaian menjadi ukuran lain untuk melihat karakteristik kehidupan. Pakaian juga mencerminkan sejarah, hubungan kekuasaan, perbedaan pandangan sosial politik dan religi, serta menunjukkan adanya persebaran komoditi dagang dan ide-idenya.

Pakaian atau dalam bahasa jawa disebut dengan “pengageman” yang melekat di badan adalah simbol identitas budaya yang dalam sekali maknanya, disamping simbol lain yakni bahasa, rumah tinggal, makanan ataupun seni musik dalam kelengkapan upacara tradisi.

Tanpa disadari, pakaian yang banyak dikenakan saat ini telah terbaratkan dan menjauhkan orang Jawa dari jati diri mereka. Oleh karena itu perlu bagi masyarakat untuk mengenal sejarah maupun makna filosofis pakaian tradisional. Dalam hal ini akan diuraikan informasi-informasi mengenai “pengageman takwa” atau surjan.

Sejarah Pengageman Takwa (Surjan)

Pengageman Jawa sebagai penutup badan dibuat oleh Sunan Kalijaga berdasar QS Al-A’raf 26: ’’Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa (dimaksud agar selalu bertakwa kepada Allah SWT) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” Oleh Sunan Kalijaga pengertian ayat diatas dijadikan model pakaian rohani (takwa) agar si pemakai selalu ingat kepada Allah SWT, kemudian oleh raja-raja Mataram pakaian takwa ini dipakai hingga sekarang ini.

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, Sultan HB I menanyakan perihal pakaian yang perlu diatur kepada Susuhunan Paku Buwana III. Pangeran Mangkubumi mengatakan bahwa Ngayogyakarta sudah siap dengan rencana mewujudkan model ’pakaian takwa’, sedang PB III mengatakan belum siap.

Lalu Mangkubumi memperlihatkan rencana pakaian tersebut dan mengatakan jika dikehendaki dipersilahkan dipergunakan oleh Surakarta Hadiningrat. PB III setuju sambil menanyakan bagaimana dengan pakaian Ngayogyakarta, yang dijawab bahwa untuk Ngayogyakarta akan melanjutkan saja pengageman takwa dari Mataram yang suda ada.

Pakaian takwa sering disebut SURJAN (sirajan) yang berarti Pepadhang atau Pelita. Di dalam ajarannya HB I bercita-cita agar pimpinan Negara dan Penggawa Kerajaan memiliki Jiwa dan Watak SATRIYA, dimana tidak akan lepas dari sifat-sifat: Nyawiji, bertekad golong-giligbaik berhubungan dengan Allah SWT maupun peraturan dengan sesama.

Sifat Greget (tegas bersemangat), Sengguh (percaya diri penuh jati /harga diri) dan sifat Ora Mingkuh, tidak melepas tanggung jawab dan lari dari kewajiban. Maka figur satriya Ngayogyakarta ideal yakni seseorang yang dilengkapi pengageman Takwa. Bentuk pakaian Takwa adalah; Lengan panjang, ujung baju runcing, leher dengan kancing 3 pasang (berjumlah 6), dua kancing di dada kanan kiri, tiga buah kancing tertutup.

Lalu muncul surjan “ontrokusuma”yang bermotif bunga (kusuma) jenis dan motif kain yang digunakan untuk membuat surjan tersebut bukalah kain polos ataupun lurik buatan dalam negeri saja. Namun untuk surjanontrokusuma terbuat dari kain sutra bermotif hiasan berbagai macam bunga.

Surjan Ontrokusuma ini hanya kusus sebagai pakaian para bangsawan mataram. Ketika dalam lingkungan karaton baju ini hanya boleh dipakai oleh Sri Sultan saja ataupun oleh Pangeran Putra Dalem itupun atas perintah dari Sri Sultan sendiri.

Kesaksian akan adanya informasi busana surjan ontrokusuma, dapat dilacak dari ceritera rakyat yang hingga kini masih didongengkan secara turun-temurun oleh rakyat di sepanjang pantai selatan Kabupaten Cilacap (dahulu kala bernama Merden).

Yaitu saat Sultan Agung mempersiapkan penyerangan ke Batavia tahun 1928, rakyat disepanjang daerah Merden (pesisir selatan) Kabupaten Banyumas, menyaksikan adanya seorang pangeran dari Mataram yang selalu berpakaian surjan ontrokusuma, surjan bermotif hiasan berbagai macam bunga.

Tidak ada yang tahu siapa nama bangsawan tersebut, maka rakyat setempat menyebutnya sebagai Pangeran Ontrokusuma. Beliau bertugas sebagai koordinator pengumpulan persediaan bahan pangan untuk logistik bagi pasukan yang akan menyerbu Batavia, bahan pangan itu dikirimkan ke Karawang, Cirebon.

Sedang pasukan dari Kabupaten Banyumas dipimpin oleh Bupati Banyumas, Tumenggung Mertayudha. Kemudian muncul Surjan dengan motif Jagad yaitu kain surjan yang bermotif bunga yang tidak tegas, berbeda dengan motif Ontrokusumayang menggunakan warna yang mencolok dan motif yang beraneka ragam.

Sedang pakaian takwa untuk putri (Pengageman Janggan) dikenakan untuk Para Abdi Dalem Putri dan Keparak Para Gusti dengan warna kain hitam.Ada pula pakaian takwa untuk paraketurunan, kadang, saudara, prepat (pengiring), juga abdi terdekat dan punakawan. Pakaian ini disebut dengan Pengageman PRANAKAN.

Pranakan berarti pakaian meliputi wadah bayi, rahim ibu. Baju terbuat dari kain lurik, bercorak garis lirik telu papat (telupat). Menurut sejarah, pengageman pranakan diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwana V yang idenya sesudah kunjungan beliau ke Pesantren di Banten, melihat santriwati berbaju kurung dengan lengan panjang, berlubang sampai di bawah leher. Cara pakai kedua tangan bersama-sama dimasukkan, baru kemudian kepala masuk lubang yang terbelah, lalu merapikan dengan menarik bagian bawah baju.

Source Sejarah Pakaian Surjan Jogja beritajowo.com
Comments
Loading...