Sejarah Kota Malang

0 25

Sejarah Kota Malang

Ialah seorang raja yang bijaksana serta sangat sakti, Dewasimha namanya. Ia merawat istananya yang berkilauan dan dikuduskan oleh api suci Sang Putikewara (Ciwa). Berbahagialah sang Raja Dewasimha pasal dewa-dewa sudah menganugerahkan dalam hidupnya seorang putera sebagai pewaris mahkotanya. Putra yang setelah itu menjadi pelindung kerajaan itu bernama Liswa atau juga diketahui sebagai Gajayana. Ialah Gajayana seorang raja yang begitu dicintai rakyatnya, berbudi luhur serta berbuat baik buat kaum pendeta dan penuh baktu sesungguh-sungguhnya kepada Resi Agastya Sebagai gejala bakti yang tulus kepada Resi tersebut, sang Raja Gajayana sudah membangun sesuatu candi yang permai buat mahresi dan buat menjadi penangkal segala penyakit serta malapetaka kerajaan.
Bahwa nenek moyangnya sudah bikin arca Agstya dari kayu cendana, tersebutkan Raja Gajayana sebagai pernyataan bakti serta hormatnya sudah memerintahkan kepada pemahat-pemahat ternama di seantero kerajaan buat bikin arca Agastya dari batu hitam nan indah, supaya seluruh bisa melihatnya. Arca Agastya yang dikasi nama Kumbhayoni itu, atas perintah raja yang berbudi luhur tersebut setelah itu diresmikan oleh para Regveda, para Brahmana, pendeta-pendeta terkemuka serta para warga negeri yang ahli, terhadap tahun Saka, Nayana-Vava-Rase(682) bulan Magasyirsa tepat terhadap hari Jum’at separo terang Ia Raja Gajayana yang perkasa itu ialah seorang agamawan yang amat menaruh hormat kepada para pendeta.
Dihadiahkannya kepada mereka tanah-tanah beserta sapi yang gemuk, sebanyak kerbau, budak lelaki serta wanita, dan beragam kebutuhan hidup layaknya sabun-sabun tempat mandi, bahan upacara sajian, rumah-rumah besar penuh perlengkapan hidup layaknya : penginapan para brahmana serta tamu, lengkap dengan pakaian-pakaian, tempat tidur serta padi, jewawut. Mereka yang menghalang-halangi kehendak raja buat membagikan hadiah-hadiah layaknya itu, baik saudara-saudara, putera-putera raja, serta Menteri Pertama, tersebutkan mereka akan menjadi celaka pasal pikiran-pikiran buruk serta akan masuk ke neraka serta tak akan mendapati keoksaan di dunia atau di alam lain. Ia, jika dibalik senantiasa berdoa serta berkeinginan semoga keturunannya bergirang hati dengan hadiah-hadiah tersebut.
Memperhatikan dengan jiwa yang suci, menghormati kaum Brahmana serta taat beribadat, berbuat baik, menjalankan korban, serta menyidik jauh Weda. Semoga mereka merawat kerajaan yang tak adanya bandingannya ini layaknya sang Raja sudah menjaganya Raja Gajayana memiliki seorang puteri Uttejena yang kelak meneruskan Vamcakula ayahandanya yang bijaksana itu Cerita di atas diangkat sari satu prasasti yang bernama “Prasasti Dinaya atau Kanjuruhan” rujukan oleh nama desa yang disebutkan dalam piagam tersebut. layaknya tertulis di dalamnya, prasasti ini memuat unsure penanggalan dalam candrasengkala yang berbunyi : “Nayana-vaya-rase” yang berharga 682 tahun caka atau tahun 760 sehabis Masehi Apabila prasasti itu dikeluarkan oleh Raja Gajayana terhadap tahun 760 sesudah Masehi, tersebutkan paling tak prasasti itu merupakan asal pati tertulis tertua mengenai ada fasilitas politik yakni berdirinya kerajaan Kanjuruan di wilayah Malang. Tempat itu kini diketahui dengan nama Dinoyo berada 5 km sebelah barat Kota Malang.
Di tempat ini rujukan oleh warga disana, masih diciptakan patung Dewasimha yang berada di tengah pasar meskipun hampir lenyap terbenam ke dalam tanah Malangkucecwara berasal dari tiga kata, yakni : Mala yang bermakna segala sebuah yang kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil, Angkuca yang bermakna merusak atau membinasakan serta Icwara yang bermakna Tuhan. Dengan demikian Malangkucecwara bermakna “TUHAN merusak YANG BATHIL” Walaupun nama Malang sudah mendarah daging bagi penduduknya, tapi nama tersebut masih terus merupakan gejala tanya. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber buat mendapati jawaban yang tepat atas pernyataan tersebut di atas. Sampai saat ini sudah didapati sebagian kesimpulan tentang asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, rujukan oleh salah satu kesimpulan merupakan nama sesuatu bangunan suci.
Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, serta prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sebenarnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum mendapati kesepakatan. Satu pihak mengira letak bangunan suci itu ialah di area gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terkandung salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran Anggapan ini masih terus dilaksanakan pasal ternyata, disebelah barat kota Malang juga terkandung sesuatu gunung yang bernama Malang Pihak yang lain mengira jikalau letak sebenarnya dari bangunan suci itu terkandung di area Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di area tersebut masih terkandung sesuatu desa yang bernama Malangsuka, yang oleh beberapa ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik.
Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di area tersebut, layaknya candi Jago serta candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman kerajaan Singasari Dari kedua kesimpulan tersebut di atas masih juga belum bisa dipastikan manakah kiranya yang terdahulu diketahui dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. apa area di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar area itu Sebuah prasasti tembaga yang diciptakan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas ialah : “ ……. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid serta mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………”
Dari bunyi prasasti itu nyatanya Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti tiu. Dari prasasti inilah didapati satu evidensi jikalau penggunaan nama Malang sudah adanya paling tak dari ketika abad 12 Masehi Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali lain hal dengan satu pendapat yang mengira jikalau nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa bermakna Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur sudah mencoba buat menempati area Malang. warga area itu melaksanakan perlawanan perang yang hebat. pasal itu Sunan Mataram menganggap jikalau rakyat area itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram.
Dari ketika itu pula area tersebut bernama Malang Timbulnya karajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal peningkatan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, sehabis 12 abad berselang, sudah berkembang menjadi Kota Malang Setelah kerajaan Kanjuruhan, di waktu emas kerajaan Singasari (1000 tahun sehabis Masehi) di area Malang masih diciptakan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya dan tanah-tanah pertanian yang sangat subur. Ketika Islam menaklukkan kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke area Malang. Ia setelah itu mendirikan sesuatu kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang berada di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan area ini terhadap tahun 1614 sehabis memperoleh perlawanan yang tangguh dari warga area ini 
 
Mengapa Malang?
 
Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terkandung tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 terhadap tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkucecwara”. Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, pasal kata tersebut amat erat kaitannya dengan asal-usul kota Malang yang terhadap waktu Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau sudah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkucecwara.
Source https://www.learnsejarah.com/ https://www.learnsejarah.com/2017/10/sejarah-kota-malang-lengkap.html
Comments
Loading...