Sejarah Kesenian Sisingaan

0 68

Sejarah Kesenian Sisingaan

Sejarah Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang, yakni pada masa pemerintahan Belanda tahun 1812. Kabupaten Subang pada saat itu dikenal dengan Doble Bestuur, dan dijadikan kawasan perkebunan di bawah perusahaan P & T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden). Pada saat Subang di bawah kekuasaan Belanda, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan lambang negara Belanda yakni crown atau mahkota kerajaan. Dalam waktu yang bersamaan daerah Subang juga di bawah kekuasaan Inggris, yang memperkenalkan lambang negaranya yakni singa. Sehingga secara administratif daerah Subang terbagi dalam dua bagian, yakni secara politis dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris. Masyarakat Subang saat itu mendapatkan tekanan secara politis, ekonomis, sosial, dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Namun masyarakat tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan, perlawanan tersebut tidak hanya berupa perlawanan fisik, namun juga perlawanan yang diwujudkan dalam bentuk kesenian. Bentuk kesenian tersebut mengandung silib (yakni pembicaraan yang tidak langsung pada maksud dan tujuan), sindir (ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan), siloka (kiasan atau melambangkan), sasmita (contoh cerita yang mengandung arti atau makna).

Dengan demikian masyarakat Subang bisa mengekspresikan atau mewujudkan perasaan mereka secara terselubung, melalui sindiran, perumpamaan yang terjadi atau yang menjadi kenyataan pada saat itu. Salah satu perwujudan atau bentuk ekspresi masyarakat Subang, dengan menciptakan salah satu bentuk kesenian yang kemudian dikenal dengan nama sisingaan. Kesenian sisingaan merupakan bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan, atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada pihak penjajah. Perwujudan dari rasa ketidaksenangan tersebut digambarkan dalam bentuk sepasang sisingaan, yaitu melambangkan kaum penjajah Belanda dan Inggris. Kedua Negara penjajah tersebut menindas masyarakat Subang, yang dianggap bodoh dan dalam kondisi miskin, sehingga para seniman berharap suatu saat nanti generasi muda harus bisa bangkit, mengusir penjajah dari tanah air dan masyarakat bisa menikmati kehidupan yang sejahtera.

Pengusung sisingaan biasanya dari warga masyarakat, karena pada saat itu belum terbentuk kelompok atau grup kesenian sisingaan, diantara mereka masih saling meminjam sisingaan. Gerakannya pun masih sangat sederhana dan dilakukan secara spontan, namun tidak menghilangkan gerakan yang mengandung makna heroik, atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh. Gerakan yang ditampilkan saat pertunjukan sisingaan saat itu adalah tendangan, lompatan, mincid, dan dorong sapi. Sedangkan busana atau pakaian yang dikenakan oleh pengusung sisingaan pada saat itu hanya mengenakan kampret, pangsi, iket seperti masyarakat umumnya. Sedangkan kalau yang hajatan dari masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, busana yang dikenakan antara lain baju takwa, sinjang lancar, iket. Kemudian pada sekitar tahun 1960 an, busana pengusung sisingaan mulai mengalami perkembangan dan penyesuaian, seperti perubahan warna yang mencolok dan bahan pakaian yang cukup baik.

Busana-busana yang mengalami perkembangan dan bervariasi dapat dilihat dari yang dikenakan oleh para penari yang ikut dalam meramaikan pertunjukan, bahkan penonton yang tertarik dapat ikut menari di depan sisingaan secara spontan. Baik yang yang ikut dari awal atau saat sisingaan melewati tempat mereka atau kampong mereka. Sehingga kesenian sisingaan bisa dikatakan sebagai kesenian tradisional, kesenian rakyat yang bersifat terbuka, umum, dan spontan. Pada bulan Juli tahun 1968 kesenian sisingaan mulai dimasukkan unsure ketuk tilu dan silat. Hal ini dapat dilihat dari penggabungan atau kerjasama waditra yakni adanya tambahan dua buah gendang besar (gendang indung), terompet, tiga buah ketuk, dan sebuah kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), serta kecrek. Patung sisingaan pun mulai ada perubahan yang cukup besar dan mendasar. Untuk mengetahui perkembangan sisingaan ada beberapa bukti pergelaran pada masa lalu antara lain, pada awal terbentuknya sisingaan sering ditampilkan pada saat upacara peringatan hari ulang tahun P & T Lands. Sehingga kesenian ini semakin dikenal luas, meskipun belum terbentuk kelompok resmi kesenian sisingaan.

Pada masa setelah kemerdekaan, pada masa orde baru, seniman sisingaan mulai mengangkat atau menggali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian sisingaan, seiring dengan kreativitas seniman dalam menuangkan inspirasinya. Kemudian mulai bermunculan kelompok-kelompok kesenian sisingaan baru dengan kreasi-kreasi baru, namun demikian tetap masih ada koreografer-koreografer tradisional yang masih mendasarkan pada naluri atau tradisi dalam menggarap kesenian sisingaan. Penyebutan sisingaan kadang-kadang berbeda di setiap daerah/wilayah, hal ini disesuaikan dengan yang mereka lihat dan mereka dengar. Kawasan Subang utara menyebut sisingaan dengan istilah pergosi atau Persatuan Gotong Sisingaan. Kemudian daerah lain menyebut sisingaan dengan istilah odong-odong, citot, kuda depok, kuda ungkleuk, kukudaan, kuda singa, singa depok. Atas prakarsa para seniman sisingaan maka pada tanggal 5 Januari tahun 1988, diselenggarakan seminar kesenian sisingaan. Hasil seminar tersebut memutuskan untuk pembakuan dan penyeragaman dalam penyebutan sisingaan. Juga adanya keputusan bahwa sepasang sisingaan adalah melambangkan dua penjajah, dan melambangkan kekuatan, kekuasaan, kebodohan, serta kemiskinan.

Kesenian sisingaan mulai diperkenalkan ke tingkat nasional pada saat penyambutan kedatangan Presiden Soeharto, pada saat hari Krida Tani tahun 1968 di Balanakan. Semenjak saat itu sisingaan mulai ditetapkan, difungsikan sebagai kesenian untuk menyambut tamu terhormat/tamu kehormatan. Untuk mengangkat kesenian sisingaan Subang, para seniman mengubah sisingaan dari bentuk helaran ke bentuk pergelaran arena. Even lain yang semakin memunculkan sisingaan yakni saat tahun 1971 saat penyelenggaraan Jakarta Fair, kesenian ini dipentaskan di panggung kesenian acara tersebut. Kemudian pada tahun 1972 dipentaskan di Istana Bogor, pada tahun 1973 dipentaskan di Istana Negara, tahun 1981 menjadi duta seni Indonesia di Hongkong dan menjadi juara pertama. Pada tahun 1991 sisingaan diminta oleh panitia terjun paying internasional untuk mengadakan pergelaran di Jakarta. Kemudian pemerintah daerah secara rutin menyelenggarakan festivial sisingaan setiap tahun, sehingga saat ini kesenian sisingaan tidak hanya menjadi milik masyarakat Subang, namun sudah menjadi milik nasional.

Source https://www.tradisikita.my.id/ https://www.tradisikita.my.id/2017/02/sisingaan-kesenian-tradisional-subang.html
Comments
Loading...