Sejarah Kesenian Ojhung Sumenep

0 32

Sejarah Kesenian Ojhung

Tradisi seni tarung Ojhung ini digagas pertama kali oleh tokoh masyarakat Desa Bunbere’ almarhum Kiai Darun. Sejarah awal Ojhung ini memiliki banyak versi salah satunya adalah pagelaran tersebut diadakan sebagai wujud rasa syukur atas sumber air yang masih tetap lancar mengalir tidak mengenal musim. Sebelum acara Ojhung dimulai warga mengaji dan membca tahlil bersama di Asta K. Moh Syakim.

Tradisi Ojhung ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali untuk keselamatan desa. Karena, jika pagelaran Ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali terjadi perang, pertengkaran antar warga, dan musibah-musibah lainnya. Sumber air titisan K. Moh Syakim pun sampai sekarang masih mengalir deras baik itu di musim kemarau.

Seni Tarung Ojhung tidak jauh berbeda dengan seni tarung pada umumnya, dimainkan oleh dua pemuda dengan menggunakan pelindung badan yang terbuat dari karung Goni. Karung Goni tersebut dibalutkan mulai dari kepala, kedua tangan sampai badan kecuali tangan sebelah kanan dan kedua kaki. Konon, tradisi Ojung tempo dulu sering digelar saat selamatan desa, tolak balak atau sedang mendapat kegembiraan bersama disuatu wilayah. Sehingga mereka berkumpul dan mengadu kekuatan tubuh.
Tidak semua orang bisa ikut serta menjadi pemain dalam tradisi Ojhung ini, selain harus berani dan bertubuh kebal, juga kekuatan memukul dengan rotan serta seni menghindari dari pukulan lawan menjadi tolak ukur peserta Ojung. Sehingga permainan Ojhung ini sangat tidak diperbolehkan untuk anak-anak karena cukup berbahaya.
Jika tidak, maka pukulan rotan atau tongkat yang disediakan khusus oleh panitia bakal melukai kulit pemain. Memang seringkali terjadi bagi pemain pemula, pukulan rotan berukuran besar yang menyasar di lengan dan tubuh belakang dan samping melukai kulit dengan darah segar mengalir. Tetapi, bagi mereka yang sudah biasa bermain Ojung, bekas pukulan rotan tak terlihat. Ini biasanya dinilai yang paling jago dan mendapat tepuk tangan meriah oleh penonton.
Pemenang dalam permainan Ojhung ini dinilai dari seberapa banyak mereka memberikan pukulan kepada lawannya. Jadi, bila lebih banyak menerima pukulan apalagi tongkat rotan yang dipegangnya lepas dari tangan dianggap kalah oleh penonton. Salah satu perangkat budaya, yang kemudian menjadi tradisi, yaitu Ojung atau Ojhung, suatu bentuk tradisi yang cenderung mengarah pada bentuk ritual, meski dengan cara kekerasan dan melukai.
Namun sebagaimana tradisi yang dianggap “keras” itu, pada dasarnya untuk menjalin tali silaturrahim dan mencipta kekerabatan lebih dekat antar “saudara”. Selama permainan, ada dua orang yang mengatur jalannya Ojung tersebut. Dia disebut Peputo (Wasit). Perannya, selain menjaga permainan tetap profesional dan sportif, juga menjaga pihak penonton atau kerabatnya ikut memukul pemain bila dianggap kalah.

Ada kebiasaan yang unik saat mencari lawan karena tidaklah sulit, di arena gelanggang 10×10 meter itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju. Jadi, kalau teman-teman sedang berkunjung ke Kabupaten Sumenep jangan lupa untuk menikmati seni tarung ini.

Source http://www.pulaumadura.com/ http://www.pulaumadura.com/2016/10/seni-tradisi-ojung-atau-ojhung-sumenep.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.