budayajawa.id

Sejarah Kesenian Jemblung

0 12

Kesenian Jemblung

Indonesia sebagai negara kepulauan dikenal memiliki banyak kesenian tradisional. Salah satunya kesenian Jemblung yang berasal dari daerah Banyumas Jawa Tengah. Jemblung lahir melalui proses Akulturasi. Di wilayah banyumasan terdapat suatu tradisi, apabila ada seorang yang melahirkan bayi, maka didakan acara nguyen. Yaitu suatu bentuk tirakatan pada malam hari bersama sanak saudara dan tetangga dekat semalam suntuk sampai menjelang subuh. Didalam nguyen tersebut sering diadakan macapatan dari selah peserta nguyen. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kantuk dan juga menolak makhluk halus yang akan mengganggu bayi yang baru lahir atau ibunya yang baru melahirkan.

Sejarah

Tradisi seperti ini ada pada abad ke 15 dimana pada saat itu masa awal mula Islam masuk ke Jawa. Macapatan ialah kegiatan menyampaikan sastra lisan dalam bentuk tembang/nyanyian, macapatan ini sangat digemari masyarakat karena pelaksanaannya sangat mudah, sederhana dan murah. Macapatan ini berkembang menjadi Macakanda kemudian karena pengaruh perkembangan teater rakyat lainnya, kemudian berkembanglah menjadi kesenian Jemblung, yaitu salah satu jenis teater tutur, sedangkan menurut Bapak Maksum lahirnya Jemblung bermula dari dakwah yang dilakukan oleh Wali Sanga untuk menarik minat masyarakat Jawa yang saat itu masih memeluk agama Hindu.

Pada saat itu masyarakat Jawa sangat menggandrungi kesenian seperti wayang yang pada saat itu masih menjadi pertunjukan kraton. Selain wayang masyarakat juga menyukai bunyi-bunyian seperti bunyi alat musik gamelan ataupun, bunyi-bunyian, tembang/nyanyian. Melihat hal itu akhirnya Wali Sanga memanfaatkannya sebagai media dakwah sehingga banyak kesenian yang diciptakan oleh wali sanga yang merupakan campuran antara budaya Jawa yang berbau Hindu dengan Islam. Banyak kesenian yang dihasilkan oleh Wali Sanga seperti wayang kulit oleh Sunan Kalijaga, macapatan oleh Sunan Bonang, Tembang Lir Ilir oleh Sunan Bonang.

Dalam hal ini sunan Kalijaga lebih banyak menciptakan kesenian Jawa Islami karena sunan Kalijaga merupakan satu-satunya wali dari anggota Wali Sanga yang asli penduduk Jawa sehingga benar-benar mengetauhi budaya mesyarakat jawa. Saat menciptakan kesenian Jawa Islami, Sunan Kalijaga mengakulturasi kebudayaan Hindu dengan Islam. Hal itu bisa dilihat dari wayang kulit yang ceritanya dikarang sendiri. Selain itu juga terdapat Jemblung yang merupakan akulturasi wayang dengan agama Islam sehingga tercipta cerita yang disajikan tidak ubahnya seperti wayang lainnya.

Sunan Kalijaga mengemas Jemblung dan wayang kulit secara apik (Wawancara, 21 Maret 2009) Ketika Jemblung dipentaskan orang yang ingin menyaksikan tidak dikenakan biaya masuk, akan tetapi diganti dengan kalimat Syahadat sebagai bukti masuk Islam. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu Jemblung berfungsi sebagai media dakwah. Sedangkan menurut analisa Bapak Sujiman selaku Dalang sekaligus pimpinan grup Jemblung Putra Budaya, Sebenaranya kesenian Jemblung diciptakan oleh kalangan wali putihan bukan diciptakan oleh kalangan wali abangan seperti sunan Kalijaga. Hal itu bisa dilihat pada aturan dasar Jemblung yang melarang wanita untuk menjadi pemain Jemblung.

Selain itu pada pementasan Jemblung juga lebih menekankan misi dakwahnya. Sejarah Jemblung menurut Bapak Sujiman berawal dari kegiatan Macapatan dan bermain kartu yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika melekan menjaga orang yang meninggal, kegiatan macapatan itu terus berkembang dan diiringi oleh gamelan mulut. Daripada acara melekan diisi dengan macapatan maka para wali menambahakan tutur dakwah dan menambahkan alat musik kentrung hingga dinamakan kesenian kentrung. Kentrung ini merupakan cikal bakal dari kesenian Jemblung. Seiring bertambahnya waktu instrument musik Kentrung ditambah dengan Jidor yang menghasilkan bunyi blung blung sehingga dinamakan kesenian Jemblung (Wawancara, 2 Mei 2009).

Source http://maniakediri.blogspot.co.id http://maniakediri.blogspot.co.id/2009/07/kesenian-jemblung-salah-satu-kesenian.html
Comments
Loading...