Sejarah Kesenian Jathilan Gunungkidul: Versi Pangeran Diponegoro

0 8

Sejarah Kesenian Jathilan Gunungkidul: Versi Pangeran Diponegoro

Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang.  Di Gunungkidul sendiri juga terdapat beberapa grup kesenian Jathilan. Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).

Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan.” Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathilan utamanya ketika para penari telah kerasukan.

Jathilan biasanya dipentaskan ketika seseorang memiliki hajatan, atau bisa juga dipentakan ketika acara bersih dusun atau Rasulan di Gunungkidul. Berikut sejarah Jathilan dari berbagai versi.

Versi Pangeran Diponegoro :

Versi ini menyebutkan bahwa tari kuda lumping yang menggunakan properti kuda tiruan terbuat dari bambu berawal dari sebuah bentuk apresiasi serta dukungan rakyat terhadap pasukan berkudanya Pangeran Diponegoro, dimana pasukan berkuda tersebut teramat gigih melawan penjajahan Belanda. Waktu penjajahan itu, kesenian tari jathilan ini sering kali dipentaskan di dusun – dusun terpencil, selain sebagai hiburan ternyata pementasan jathilan ini juga digunakan sebagai media menyatukan rakyat demi melawan penindasan.

Source http://www.gedangsari.com/ http://www.gedangsari.com/filosofi-kesenian-jathilan-di-gunungkidul-yang-mengandung-sejarah.html
Comments
Loading...