Sejarah Kesenian Jaran Kepang dari Jawa Tengah

0 84

Sejarah Kesenian Jaran Kepang dari Jawa Tengah

Jaran kepang merupakan kesenian asli Jawa yang telah banyak ditampilkan di luar negeri, seperti di Suriname, Malaysia, dan Singapura. Jaran kepang dikenal juga dengan jaranan, jathilan, dan kuda lumping. Saat menampilkan tarian ini, para penari akan menaiki kuda yang dibuat dari anyaman bambu dan warna-warni yang cerah. Sebagai seni yang mengandung unsur mistis, jaran kepang diiringi dengan aroma ritual, seperti pembakaran kemenyan.
Alkisah dizaman dahulu kala ditanah Jawa hiduplah seorang raja nan sakti mandraguna. Raja yang banyak mendengar kisah kepahlawanan Mahabrata. Beliau sangat kagum akan kisah perang Bharatayudha di Kurusetra yang dituturkan oleh para brahmana dan ksatria istana, dan raja yakin perang Bharatayudha akan berulang ditanah Jawa. Beliau sangat tertarik tentang tentara berkuda dan Arjuna dengan kereta kudanya yang gambarnya dibawa oleh buyutnya dari tanah Alengka, karena beliau sesungguhnya keturunan pelarian Hindu Tamil dari tanah Alengka (Srilangka) negeri yang kini murtad memeluk agama Budha lantaran negerinya sering diejek sebagai negeri Rahwana terkutuk.
Eyang buyut sang raja Hindu melarikan diri ke Jawa Dwipa dan mendirikan kerajaan sekaligus memakai gelar aria, etnis sebuah suku bangsa terkemuka dari tanah India. Tetapi sayang, kulit beliau yang gelap kalau tak mau disebut hitam legam jadi penghalang untuk membedakan warna kulit dengan etnis aria yang sebenarnya lalu beliau mengajarkan kasta tanpa warna sampai kepada sang cucu yang kini memegang tampuk pemerintahan dan selalu menghayalkan punya pasukan berkuda. Raja pun membuat sayembara kepada siapa saja yang tahu banyak tentang apa dan bagaimana pasukan berkuda yang sebenarnya maka akan dianugerahi kekayaan yang banyak. Hal tersebut didengar oleh pedagang Persia yang kemudian menghadap baginda sambil membawa gambar-gambar pasukan berkuda Persia yang kelihatan gagah perkasa. “Wahai tuanku raja Jawa yang mulia sebaiknya baginda ikut hamba ke negeri hamba dan melihat sendiri agar tidak penasaran dihati dan mengetahui bahwa semua bukan sekedar gambar khayal sang pelukis”. Raja membenarkan dan ringkas kata berangkatlah raja disertai hulu balang dan pengawal serta menteri naik ke perahu saudagar Persia.
Hal itu terjadi karena raja Jawa tidak punya perahu dan buta ilmu pelayaran. Mereka pun mengarungi samudra sampai akhirnya tiba di bandar Persia. Beliau terpana oleh indahnya bangunan arsitektur Persia nan indah dan megah. Beliau juga terpesona oleh gagahnya tentara berkuda yang bukan hanya tentaranya saja yang posturnya besar tetapi kudanya juga besar-besar. Barisan berkuda yang teratur dengan derapnya yang gemuruh makin membuat raja tercengang. Ternyata kenyataan yang dilihatnya sekarang, lebih hebat dari gambar yang dibawa sang saudagar. Raja memuji dan menghayalkan kalau saja aku punya tentara berkuda seperti ini tentunya akulah raja terkuat di Jawa dan raja-raja sekitarku akan bertekuk lutut. Puas melihat-lihat, raja pun meminta diantar pulang dan ingin membawa serta kuda-kuda bahkan kalau bisa menyewa tentaranya sekaligus. “Bagaimana baginda mau membawa kuda? Bukankah baginda, hulubalang serta menteri dan para pengawal sudah memenuhi seluruh ruangan perahu hamba?” tanya sang saudagar. “Bahkan isteri hamba pun, masih hamba tinggal dipulau seribu demi paduka, karena kapal sudah terlalu penuh muatan” lanjutnya. Maka diaturlah strategi baru, kuda akan dibawa oleh perahu lain sedangkan tentara Persia tetap tidak mau bekerja di tanah Jawa. Alasannya, mereka tidak doyan pecel dan rempeyek apa lagi tempe mendoan.
Tetapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, ditengah samudra datanglah badai yang dahsyat. Baginda raja pucat pasi serta pasukan tak berdaya, perahu pengangkut kuda tenggelam, hanya karena keberuntungan sajalah beliau selamat dan setelah badai reda perjalanan dilanjutkan ketanah Jawa, setelah tiba ditanah Jawa baginda menggelar selamatan dan syukuran pada dewata yang telah melindunginya dan menyesalkan impiannya tentang pasukan berkuda yang belum terwujud dan kandas karena topan badai lautan. Lalu beliau pergi ke gua untuk bertapa dan mohon petunjuk dewata. Beliau mendapat ilham atau wangsit dimana beliau bisa mewujudkan kedua keinginannya, yakni kuda sekaligus tentaranya. Bahkan ditambah petunjuk dimana orang Jawa sajalah yang bisa jadi kuda dan tentara. Syaratnya dalam wangsit itu hanyalah satu, beliau harus membuat kuda dari bahan gedek bambu dan ijuk agar bisa ditunggangi laskar yang akan jadi kuda. “Suatu solusi atau jalan keluar yang sangat bagus” kata sang raja dalam hati. Maka diperintahkanlah prajurit untuk membuat kuda gedek/bambu lalu mereka tunggangi. Namun sebelum jalan, kuda bambu itu dibacakan mantra-mantra terlebih dahulu agar mau makan rumput bahkan makan beling kalau-kalau rumputnya tak ada karena paceklik.
Sang raja pun turut menari-nari kesenangan karena semua impiannya terwujud. Nah, mulai sejak itulah kuda gedek jadi sarana angkutan alternatif yang populer sampai saat ini. Dimana-mana ada, baik di tanah Jawa bahkan menyebar hingga ke negara tetangga yang selalu iri sama budaya kita–Malaysia. Kuda gedek alias kuda lumping alias kuda kepang alias jaran kepang alias reog jathilan dan entah apalagi namanya hingga kini masihlah sangat digemari.

Source https://sclm17.blogspot.com/ https://sclm17.blogspot.com/2016/03/kuda-lumping.html
Comments
Loading...