Sejarah Kesenian Dongkrek Madiun

0 483

Sejarah Kesenian Dongkrek Madiun

Dongkrek dibuat kurang lebih pada tahun 1866, oleh seorang yang bernama R.NG. Lho Prawiro Dipoero ke III (R. Sosro Widjoyo sebagai palang Mejayan Caruban, setelah akhir pemerintahan R.M.T Sosreodiningrat, Bupati Madiun tahun 1879-1885). R.NG. Lho Prawiro Dipuro ke III, merupakan putera daerah asli Mejayan, putera ke IV dari beliau R.NG. Prwirodipoerno ke II, beliau sebagai wedono caruban, yang membuka (babat) hutan di Desa Mejayan. beliau wafat pada tahun 1915 dan dimakamkan di Desa Kuncen usia 89 tahun.

Pada waktu itu masyarakat Mejayan terkena serangan wabah penyakit yang sangat mengenaskan dan mengerikan yang oleh masyarakat Mejayan di sebut wabah Pageblug. Yang kala itu datangnya diawali dengan adanya angin yang sangat besar, disertai hujan yang lebat (Udan salah mongso) adanya kilat, tatttit menyambar-nyambar sehingga sungai yang membelah Desa Mejayan meluap membajiri sawah ladang sehingga merusak tanaman yang ada.

Bencana ini berakhir dengan kemarau yang panjang sehingga terjadilah musibah kekeringan yang berkepanjangan, yang berakibat mahalnya bahan-bahan dan pakaian sehingga penduduk banyak yang kelaparan. Dimasa inilah penyakit mulai menyerang dengan ganasnya sehingga terjadilah wabah penyalit yang disebut wabah Pageblug. Wabah ini menyerang Desa Mejayan dan sekitarnya. Dapat dibilang sore sakit pagi meninggal, malam sakit pagi meninggal, siang sakit malam meninggal demikian silih berganti. Mengetahui musibah yang menimpa penduduk daerahnya ini, beliau R.NG. Lho Prawiro Dipoero ke III (R. Sosro Widjoyo sebagai palang Mejayan Caruban) merasa terpanggil hatinya ingin segera mereda keadaan tersebut, yang menyerang warganya agar musibah cepat berakhir.

Namun agaknya kurang mampu jika melakukan senidiri. Beliau memanggil para pamong desa dan sesepuh Desa untuk berembug meredam keadaan yang ada. Tetapi semua yang hadir menyerahkan kepada R. Sosro Widjoyo. Yang selanjutnya beliau mengambil langkah, sowan pada ayahnya, untuk pelaporan bahwa warganya terserang wabah penyakit dan mohon petunjuk cara meredam keadaaan di Mejayan yang ada pada saat itu.

Oleh ayahnya disarankan agar melakukan teteki mesu broto, mbesut rogo ditempat yang sunyi memohon kepada Yang Maha Kuasa agar segera mendapatkan petunjuk. Berangkatlah R. Sosro Widjoyo untuk melaksanakan saran dari sang ayah, dan di ikuti oleh para abdhi kinasihnya. Namun sebelum sampai selesai melaksanakan pujo semedei, beliau diganggu oleh jin, setan, ilu-ilu, banaspati dan lain sebagainya. Tetapi beliau tidak goyah karena dihalangi oleh abdi kinasihnya yang selalu menjaga.

Sosro Widjoyo melihat cahaya putih yang mendatanginya, konon cahaya tersebut menjadi bayangan orang tua membawa cemeti janur kuning dan diberikannya, agar cemeti tersebut di terima untuk melumpuhkan para pengganggu serta sebagai sarana untuk mengusir wabah Pageblug. Setelah cemeti diterima, hilanglah cahaya dan bayangan tersebut. Selanjutnya R. Sosro Widjoyo, berdiri dari teteki dengan membalikan badanya untuk menghadapi para gandruwo secepatnya cemeti segara dicambukan kepada semuanya. Terjadilah perkelahian, yang akhirnya semua pengganggu kalah dan meronta memohon supaya dilepaskan dari jiratanya.

Sosro Widjoyo mau melepaskan jiratanya, tetapi juga beliau meminta setelah dilepas dari jiratanya para gendruwo tersebut harus mau dan ikut membantu mengusir wabah pageblug yang menyerang warganya. Gandruwo mengatakan sanggup dan tidak akan ingkar. Semua gendruwo mengucapkan terimakasih dan berangkat bersama-sama mengelilingi Desa Mejayan di pimpin oleh R. Sosro Widjoyo sampai selesai.

Selesai sudah tugas yang diberikan olehnya saran dari sang ayah. Selang berganti hari warga yang semula-mula sakit, terserang wabah pageblug berdatangan kepada R. Sosro Widjoyo menyampaikan pelaporan bahwa warga sudah banyak yang sembuh dari penyakitnya. Dengan adanya pelaporan dari warga, telah ada bukti nyata dalam melaksanakan tugas yang diberikan dari sang ayah berhasil tidak sia-sia. Karena pekerjaan dan saran dari sang ayah dirasa telah selesai. Maka R. Sosro Widjoyo memanggil para gandruwo dan disarankan untuk kembali ke asalnya masing-masing.

Beliau juga berpesan pada para gandruwo agar selalu menjaga keamanan dan keselamatan Desa Mejayan, serta jika sewaktu-waktu diperlukan, akan dipanggil kembali untuk tetap membantu. Setelah beberapa waktu R. Sosro Widjoyo mempunyai gagasan untuk mewujudkan para gendruwo yang ikut membantu menyingkirkan wabah pageblug tersebut sebagai bentuk nyata. Selanjutnya beliau mengumpulkan para tukang kayu dan sebagainya, untuk mebuat kedok an atau topeng dari kayu dan musiknya juga dibuat dari kayu, besi atau seng, bambu dan kulit hewan.

Setelah selesai dibuat, seluruh peralatan tersebut dijamasi dengan air bunga setaman serta mengadakan slamatan (syukuran). Selanjutnya pada tengah malam dibunyikan mengelilingi Desa Mejayan bersama warga. Karena suara musiknya berbunyi  “Dong” dan “Krek” sehingga banyak masyarakat yang mengatakan Dongkrek. Untuk selanjutnya R. Sosro Widjoyo merasa lega dan bangga karena tugas yang diembannya telah dilaksanakn dan dengan hasil yang sangat menggembirakan para warganya.

Selanjutnya beliau mengadakan pelaporan pada sang ayah dan sekaligus menunjukan bukti nyata dengan membawa semua perangkat yang telah dibuat utamanya topeng (kedokan) sebagai gmbaran para dedemit dan gandruwo yang membanyu mengusir wabah pageblug. Setelah topeng diterima oleh sang ayah dan berpesan agar peralatan tersebut setiap bulan suro supaya dibunyikan keliling Desa Mejayan, dengan tujuan :

  • Untuk menganti sipasi datangnya wabah.
  • Untuk selalu mengenang kembali.
  • Sebagai napak tilas dan untuk uni-uni.

Cerita rakyat Dongkrek mempunyai banyak nilai moral yang terkandung di dalamnya yang dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan moral bagi anak. Nilai-nilai  moral yang terkandung dalam cerita rakyat Dongkrek adalah sebagai berikut:

(a) Kekuatan batin, kekuatan batin yang terkandung dalam cerita rakyat Dongkrek ialah mengikuti suara hati.

(b) Sikap baik, nilai moral sikap baik yang ada dalam cerita rakyat Dongkrek yatu tergambar dari sikap tokoh R. Sosro Widoyo.

(c) Kesedian bertanggung jawab, nilai moral kesediaan bertanggung jawab dalam cerita rakyat Dongkrek, yaitu sikap tanggung jawab tokoh R. Sosro widjoyo terhadap kesembuhan rakyatnya,

(d) Kerendahan hati, nilai moral kerendahan hati yang tergambar dalam cerita rakyat Dongkrek tersebut terlihat jelas ketika R. Sosoro Widjoyo untuk meminta pendapat pada sesepuh Desa beliau tidak mengandalkan kemampuannya sendiri,

(e) Pantang mnyerah, nilai moral pantang menyerah ini ditunjukan oleh tokoh R. Sosoro Widjoyo sebagai seorang Palang yang pantang menyerah dalam menjalankan tugasnya,

(f) Menyelesaikan tugas tanpa pamrih, dalam nilai moral ini tergambar pada tanggung jawab R.Sosoro Widjoyo yang menyelesaikan tugas mencari tolak bala bagi masyarakat Desa Mejayan beliau melakukannya tanpa menginginkan imbalan apapun dari masyarakat dan beliau melakukan hanya untuk kepentingan masyarakat Desa,

g) Menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, nilai moral menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dalam cerita Dongkrek tergambar dalam respon masyarakat Desa mejayan dalam mengusir wabah pageblug yang melanda desa Mejayan.

Source http://kitamadiun.blogspot.co.id http://kitamadiun.blogspot.co.id/2017/09/sejarah-dan-nilai-moral-dongkrek.html
Comments
Loading...