Sejarah Kampung Kuta Ciamis Jawa Barat

0 703

Nama Kampung Kuta ini mungkin diberikan karena sesuai dengan lokasi Kampung Kuta yang berada di lembah yang curam, kurang lebih 75 meter, dan dikelilingi oleh tebing-tebing/perbukitan. Dalam bahasa Sunda buhun, Kuta artinya pagar tembok.

Ada beberapa versi mengenai asal usul Kampung Adat Kuta. Penduduk setempat percaya, sejarah Kampung Kuta berkaitan dengan pendirian kerajaan Galuh. Kampung Kuta konon awalnya dipersiapkan sebagai ibukota kerajaan Galuh, namun tidak jadi.

Ketika itu sang raja yang bernama Ki Ajar Sukaresi hendak mendirikan pusat kerajaan. Maka dipilihlah sebuah tempat yang terletak di lembah yang dikelilingi oleh tebing sedalam sekitar 75 m di lokasi pembangunan pusat kerajaan itu.  Lokasi inilah yang kini menjadi Kampung Kuta.

Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya untuk membangun sebuah keraton. Namun ketika seluruh persiapan telah dibuat serta bahan-bahan untuk membangun keratorn telah terkumpul, Sang Prabu baru menyadari bahwa lokasi tersebut tidak cocok untuk dijadikan pusat kerajaan karena “tidak memenuhi Patang Ewu Domas”.  Maka, atas saran para bawahannya diputuskan untuk mencari lokasi baru.

Berbekal sekepal tanah dari bekas keratonnya di Kampung Kuta sebagai kenang-kenangan, Sang Prabu dan para punggawa berangkat mencari lokasi baru.

Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, rombongan sampai di suatu tempat yang tinggi. Sang Prabu lalu melihat-lihat ke sekeliling untuk meneliti apakah ada tempat yang cocok untuk membangun Ibukota. Konon, tempat ia melihat-lihat itu sekarang bernama Tenjolaya (tenjo dalam bahasa Sunda berarti lihat).

Ketika Sang Prabu melihat ke arah barat, ia melihat hutan rimba menghijau yang terhampar luas. Ia kemudian melemparkan kepalan tanah yang dibawanya dari Kuta ke arah itu. Kepalan tersebut jatuh di suatu tempat yang sekarang bernama “Kepel”.

Tanah yang dilemparkan tersebut kini berubah menjadi sebidang sawah yang datar dengan tanah berwarna hitam seperti dengan tanah di Kuta. Sedangkan tanah di sekitarnya berwarna merah.

Sang Prabu beserta rombongan melanjutkan perjalanannya sampai di suatu pedataran yang subur di tepi Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy. Di sanalah lalu ia mendirikan kerajaan. Lokasi tersebut kini disebut Karang Kamulyan. Baca: Merekontruksi Legenda Ciung Wanara di Situs Karangkamulyan.

Cerita selanjutnya mirip dengan cerita Ciung Wanara dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh. Sang Prabu kemudian memutuskan untuk mandeg pandita di Gunung Padang. Tahta Kerajaan ia titipkan kepada sang patih bernama Aria Kebondan.

Kepergian Sang Prabu meninggalkan dua orang istri, yaitu Dewi Naganingrum yang sedang mengandung dan Dewi Pangrenyep. Ketika Dewi Naganingrum melahirkan, Dewi Pangrenyep menukarkan bayinya dengan seekor anak anjing. Bayi itu kemudian dihanyutkan ke Sungai Citanduy.

Mengetahui Dewi Naganingrum beranak seekor anjing, Aria Kebondan yang menjadi raja di Galuh menjadi malu. Lalu menyuruh Lengser membunuhnya. Namun, sang Lengser tak tega membunuh sang dewi. Ia hanya menyembunyikannya di Kuta.

Adapun bayi yang dibuang ke Sungai Citanduy kemudian ditemukan oleh Aki Balangantrang yang kemudian dipungut dan diasuh hingga remaja dan diberinama Ciung Wanara. Tempat Aki Balangantrang mengasuh Ciung Wanara tersebut bernama “Geger Sunten”, berjarak sekitar 6 km dari Kuta.

Ciung Wanara kemudian merebut kembali Kerajaan Galuh dari Aria Kebondan melalui pertandingan sabung ayam, sebagaimana yang diceritakan dalam naskah. Setelah Ciung Wanara menjadi raja, Lengser pun menjemput Dewi Naganingrum sehingga bisa berkumpul kembali dengan anaknya.

Source https://alampriangan.com/kampung-adat-kuta-ciamis/ https://alampriangan.com
Comments
Loading...