Sejarah Desa Klaseman Salatiga

0 23

Sejarah Desa Klaseman Salatiga

Tidak ada seorang yang pun yang tahu sejarah pasti tentang asal usul kata klaseman, namun klaseman dahulu merupakan daerah benteng bangsa Belanda di Salatiga semasa penjajahan. hal ini tercermin dari peninggalan loji-loji (barak) yang masih ada. loji-loji semenjak masa pernjajahan Belanda berakhir sekarang ditinggali oleh para warga sesepuh yang dahulu bekerja pada bangsa Belanda. Mbah (nenek) Kastowo adalah salah satu yang mewarisi peninggalan bersejarah tersebut. Sejak saat itu loji tersebut ditinggali oleh mbah Kastowo sebagai rumah.

Sekitar tahun 2000 loji yang ditinggali mbah Kastowo sudah banyak dipugar, sehingga sudah sulit dikenali jika banggunan tersebut adalah penninggalan masa penjajahan. oleh karena itu klaseman bagian tengah sering disebut Klaseman Loji, untuk sudut bagian utara disebut Klaseman Lor, dan bagian Selatan disebut klaseman Kidul.

Desa Klaseman merupakan bagian dari kelurahan Mangunsari dan ber Kecamatan Sidomukti, desa ini dihuni oleh sekitar 10000 Penduduk yang terbagi dalam 2 RW yaitu RW I dan RW II dan dalam kedua RW tersebut terdiri dari 9 RT dengan wilayah kurang lebih 10 Hektar. batas desa Klaseman sisi timur adalah Jalan Ozamaliki , sisi utara Jalan Merak sekitarnya dilanjutkan sungai Mboja (jurang Mboja), sis Barat Jl Bangau dan sisi selatan Kuburan Ngandong. Adapun desa-desa sekitarnya adalah Cabean. Dukuh, Kembang Arum, Pengilon, dan Njetis.

Klaseman adalah desa kecil yang sangat pesat perkembangannya, desa ini mulai dilirik dihuni sekitar tahun 1975an, dalam arti mulai para pendatang penghuni karena sebelumnya hanya dihuni sekitar 10 Keluarga. Mulai tahun 1995 wilayah klaseman sudah padat penduduk, walaupun masih ada lahan kosong namun pemiliknya tidak mau menjualnya.

Sejak tahun 1997 Klaseman mulai berdiri banyak rumah-rumah mewah sehingga menaikkan prestice lingkungan klaseman. Harga  tanah di daerah klaseman berkisar 400-600rb/per meter (tahun 2005), dengan harga yang tinggi maka banyak para pendatang baru adalah masyarakat ekonomi atas. Sekitar tahun 2003 mulailah berdirilah infrastrukur vital yang berdiri yaitu Rumah Sakit Besalin Mutiara Ibunda, Kantor Depnaker Salatiga, sehingga memaksa warga untuk meraup rejeki ditengah keramain. Tak heran jika saat ini anda akan melihat sepanjang jalan Merak dihiasi Toko-toko elektronik, motor, dan makanan.

WNI yang tinggal di klaseman menganut agama Nasional yang didominasi oleh warga muslim dan kristiani sekitar 6:4, sementara WNA didominasi oleh Kristiani. Dahulu banyak warga asli Klaseman sering menganut Kejawen (agama suku) yang memuja roh-roh halus. Hal ini dibuktikan banyaknya sesajen di daerah pekuburan mboja terutama pohon beringgin besar (+/- diameter 8 M), dan pekuburan ngandong terkenal angker karena seringkali digunakan orang bertapa. Di tempat-tempat tersebut sering kali winggit (menyeramkan),namun seiring perkembangan jaman kebiasaan itu sudah banyak ditinggalkan sehingga tidak pernah terdenggar tempat yang angker di Salatiga.

Source https://nurulfajrikhairani.wordpress.com/ https://nurulfajrikhairani.wordpress.com/2015/02/20/sejarah-desa-klaseman-salatiga/
Comments
Loading...