Sejarah dalam Tari Garapan Banyuwangi

0 30

Sejarah dalam Tari Garapan Banyuwangi

Model tari garapan lain yang dikembangkan para seniman sanggar di Banyuwangi adalah mengambil inspirasi dari jejak-jejak historis yang masih bisa dijangkau secara pustaka maupun tuturan lisan turun-temurun. Hal itu berkaitan dengan kesenian tradisi—seperti gandrung dan barong—maupun peristiwa-peristiwa heroik yang melibatkan pahlawan lokal. Selain untuk memperkaya kasanah kesenian Banyuwangi, model garapan tersebut juga memunculkan rasa cinta terhadap masyarakat dan budaya Banyuwangi serta perjuangan para pahlawan lokal. Meskipun demikian, sebagian seniman juga bersikap terbuka, dalam artian tidak mau terjebak dalam semata-semata gerak gandrung, tetapi juga gerak-gerak tari lain, seperti balet maupun gerak tari Cina.

Subari Sofyan, sebagai seniman yang sudah kenyang pengalaman estetik—baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional—sangat menyadari arti penting menelusuri akar historis dari tari garapannya. Sebagaimana kami singgung secara singkat sebelumnya, Subari pernah menggarap tari berjudul Gandrung Marsan yang menjadi juara umum dalam ajang Parade Tari Nusantara 2009, mewakili Provinsi Jawa Timur. Sebelum membuat garapan, Subari terelebih dahulu menelusuri siapa sebenarnya Marsan itu. Dalam proses penelusuran tersebut, ia menemukan realitas bahwa Marsan itu merupakan gandrung lanang yang menandakan fase keemasan tari gandrung dalam kehidupan masyarakat. Maka dari itu, dalam tari tersebut, Subari menggunakan penari lelaki, tidak ada yang perempuan. Jaripah adalah tari garapan lain yang diangkat oleh Subari dari sejarah barong Kemiren yang sangat terkenal di Banyuwangi sebagai bagian ritual. Dari kajian yang ia lakukan, Subari menemukan tafsir bahwa sosok jaripah tidak bisa dilepaskan dari keyakinan religi masyarakat Osing.

Keteguhan untuk menelurusi akar historis dan makna-makna religi dalam tari garapannya menunjukkan bahwa dalam berkarya Subari tidak sekedar berusaha mencapai target estetik pertunjukan. Lebih dari itu, tari garapannya merupakan usaha untuk menemukan makna-makna hakekat manusia dalam kehidupan dan beragama. Dengan pemaknaan tersebut, ia sekaligus melaksanakan tanggung jawab dan peran profetik seniman yang harus menyampaikan makna-makna mendalam kepada para penontonnya, bukan sekedar hiburan.

Peristiwa heroik juga menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya tari-tari garapan. Sabar Harianto, misalnya, dalam Festival Kuwung 2013 (14 Desember), menggarap tari kolosal berjudul Agung Wilis. Tari ini menggambarkan sosok pahlawan dengan nama yang sama yang merupakan pejuang pada kerajaan Blambangan, yang tengah berkonfrontasi dengan kerajaan-kerajaan Bali. Dengan mengangkat cerita sejarah tersebut, ia ingin membangkitkan-kembali semangat heroisme masyarakat Banyuwangi, utamanya generasi muda. Kalau pada masa lampau para pahlawan lokal mampu menggelorakan perjuangan, maka pada masa kini generasi muda harus mampu menggelorakan kreativitas—baik akademis maupun kesenian—agar bisa dicatat oleh sejarah masyarakat dan memberikan sesuatu yang berharga kepada tanah kelahiran.

Meskipun para seniman tetap memegang pakem tari Banyuwangi serta mengembangkan kesadaran historis, sebagian dari mereka tetap mengembangkan paradigma terbuka dalam memandang pengaruh kesenian lain dari luar. Pertimbangan untuk memperkaya garapan serta melayani permintaan konsumen menjadi alasan utama mereka. Tentang hal itu, Subari menjelaskan:

Kesadaran untuk menyerap aspek-aspek budaya asing, bukanlah berarti menerima nilai-nilai kebebasan yang dikandung. Tata cara kehidupan yang bertentangan dengan kode-kode moralitas maupun agama, bukanlah nilai yang harus dijalani dalam berkesenian. Pilihan sikap dan laku tersebut menegaskan bahwa Subari dan para anggota sanggarnya berusaha mengembangkan paradigma hibrid, dalam artian terbuka dalam meniru dan mengapropriasi elemen-elemen budaya asing, tetapi bukan nilai-nilai kebebasan individual secara mutlak. Dengan paradigma itu, mereka tidak akan terlepas dari sikap komunal yang beretika, meskipun mereka terbiasa menjalankan estetika asing.

Paradigma tersebut juga berlaku untuk nilai-nilai lokal yang ia anggap mengumbar kekuatan magis. Yang ia maksudkan adalah usaha para seniman tradisional untuk menggunakan kekuatan magis agar mereka laris, mendapatkan job pertunjukan sebanyak-banyaknya. Bagi Subari, praktik semacam itu memang sah-sah saja dilakukan, tetapi menurutnya kurang pas karena menjadikan rezeki yang diterima tidak bisa menjadi berkah bagi kehidupan para seniman. Ia lebih suka meminta petunjuk langsung kepada Sang Pencipta, ketika menemui kebuntuan dalam penggarapan. Dari komunikasinya dengan Sang Pencipta itulah, ia menemukan pikiran-pikiran jernih, sehingga bisa menelorkan karya-karya baru yang mendapatkan apresiasi publik.

Source http://matatimoer.or.id/ http://matatimoer.or.id/2015/12/10/memaknai-kembali-sejarah-dalam-tari-garapan-banyuwangi/
Comments
Loading...