Sejarah Benthik, Permainan Tradisional Khas Jawa

0 26

Benthik dikenal juga dengan istilah gatrik ataupun pathil lele. Permainan ini sangat populer di desa-desa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, karena seru sebab dimainkan oleh beberapa orang yang terbagi menjadi dua kelompok. Konon kata benthik mengandung arti benturan. Bunyi thik memang dihasilkan dari benturan peralatan permainan yang berupa batang induk dan batang anakan yang terbuat dari kayu atau bambu.

Agar tongkat tidak mudah patah saat digunakan, biasanya kayu berstruktur kuat boleh dipakai, seperti kayu pohon Jambu Biji, kayu pohon Klengkeng, kayu pohon Mangga, kayu pohon Kemuning, dan sejenisnya. Ranting pohon dipotong menjadi dua bagian dengan panjang masing-masing 30 cm dan 10 cm. Kulit kayu lalu dikelupas dengan hati-hati untuk membuat kedua permukaan tongkat lebih halus. Tongkat panjang disebut benthong,  sementara tongkat pendek disebut janak.

Cara bermainnya, pertama membuat luwokan atau semacam lubang sepanjang batang anakan 10 cm, lebar 3 cm, dalamnya 5 cm. Permainan Benthik ini diawali dengan hompimpa. Siapa yang menang, akan memperoleh giliran main yang pertama. Sementara itu, pihak yang kalah mau tak mau harus jaga.

Pemain lalu memasang tongkat yang pendek di atas lubang luncur atau luwokan secara melintang. Tongkat ini lalu didorong sekuat tenaga dengan bantuan tongkat panjang supaya melambung sejauh mungkin. Dalam bahasa Jawa, aksi ini disebut dengan istilah nyuthat.

Apabila lawan berhasil menangkap tongkat pendek yang melambung tersebut, ia akan mendapatkan poin. Pihak lawan akan berusaha mati-matian untuk dapat menangkap tongkat pendek. Ini agar bisa mencuri poin sebelum mendapat giliran untuk bermain. Besarnya poin ditentukan dari cara pihak lawan menangkap tongkat pendek. Sebanyak 10 poin didapat apabila berhasil menangkap dengan dua tangan, 25 poin untuk menangkap dengan tangan kanan, dan 50 poin apabila berhasil menangkap dengan tangan kiri.

Setelah itu, sang pemain diminta meletakkan tongkat panjang di atas lubang luncur dengan posisi melintang. Sementara pihak lawan bertugas melempar tongkat pendek yang telah dilontarkan tadi ke arah tongkat panjang tersebut. Apabila tongkat pendek mengenai atau menyentuh tongkat panjang, maka giliran bermain akan berganti ke pihak lawan.

Tahap kedua dari permainan ini adalah namplek. Pada tahapan ini pemain harus melempar tongkat pendek ke udara, lalu dipukul sekuat tenaga dengan tongkat panjang sejauh mungkin. Konsentrasi penuh diperlukan di sini, selain kekuatan. Pihak lawan yang berjaga harus melempar tongkat pendek ke arah si pemain, ke arah lubang. Ketangkasan si pemain benar-benar diuji di sini, apakah bisa memukul balik tongkat pendek atau tidak. Penghitungan poin bagi si pemain dilakukan dari tempat jatuhnya tongkat pendek ke lubang, diukur memakai tongkat panjang.

Langkah ketiga adalah meletakan tongkat pendek ke dalam lubang dengan posisi sejajar lubang, dan sebagian menonjol ke permukaan lubang. Kemudian pemain memukul ujung tongkat pendek yang menonjol dengan tongkat panjang, dan ketika tongkat pendek terlempar ke udara, segera pemain memukulnya kembali ke arah lapangan. Jika tongkat pendek yang dipukul tadi tidak ditangkap penjaga, maka tempat jatuhnya tongkat pendek diukur dengan tongkat panjang dimulai dari lubang. Jumlah nilai pada tahap ini digabungkan dengan nilai yang diperoleh sebelumnya. Kemudian permainan dimulai dari langkah pertama lagi.

Source https://www.bernas.id https://www.bernas.id/17441-benthik-permainan-tradisional-yang-makin-jarang-dimainkan.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.