Sejarah Bas Basan Sepur, Permainan Tradisional dari Yogyakarta

0 253

Merunut dari namanya, Bas-Basan Sepur, kata bas diperkirakan dari pemendekan kata tebas. Kata tebas dalam bahasa Jawa berarti ‘borong’. Kata ditebas berarti ‘diborong’ atau ‘diserang?’. Kata bas-basan di sini, berarti permainan melakukan pekerjaan borong-memborong atau saling menyerang pihak lawan. Sementara kata sepur berarti ‘kereta api’. Kata sepur dalam bahasa Jawa ini kiranya serapan dari bahasa Belanda spoor yang artinya juga ‘kereta api’. Kata tersebut mengalami penyederhanaan ucapan, sehingga bentuk tulisan menjadi kata sepur.

Memang dalam permainan ini, seorang pemain ketika hendak menyerang atau menebas lawan, harus dilakukan dengan cara berputar dulu pada lingkaran di luar kotak, yang diibaratkan seperti rel sepur. Maka untuk memudahkan penamaan, kemudian anak-anak menyebutkan dengan nama “Bas-Basan Sepur”. Entah mulai kapan penamaan itu mulai akrab di telinga anak-anak masyarakat Jawa. Yang pasti, nama permainan ini sudah terekam di kamus Baoesastra Djawa karya WJS. Poerwadarminta tahun 1939. Disebutkan pada halaman 32, bas-basan termasuk salah satu jenis ‘dolanan’ anak mirip ‘dolanan’ mul-mulan. Pastilah bahwa permainan ini sebelum tahun 1939 sudah banyak dikenal di masyarakat Jawa.
Bas-Basan Sepur yang harus dimainkan oleh 2 anak ini, dalam permainannya tidak diiringi lagu atau tembang permainan. Alat bantu hanya berupa pion, kecik, kerikil atau sejenisnya dan disertai denah gambar kotak dan setengah lingkaran. Biasanya, tempat yang digunakan pun tidak harus luas, cukup 1 meter persegi atau lebar sedikit. Denah gambar bisa digambarkan di kertas karton, atau bisa dilukiskan di tanah atau ubin. Tempat permainan biasa mengambil lokasi yang nyaman dan tenang. Sementara masing-masing pemain membutuhkan pion sebanyak 14 buah. Sebisa mungkin, di antara pemain dengan pion yang berbeda, artinya jika 1 pemain misalnya memakai pion dari kerikil, pemain lainnya bisa menggunakan biji salak.
Anak-anak yang biasa bermain Bas-Basan Sepur sekitar berumur 8 tahun. Lebih besar lebih baik. Karena permainan ini memerlukan olah pikir. Jika anak belum bisa bermain atau belum tahu aturan, maka akan sulit untuk mengoperasikan permainan. Jika ada lebih 2 pemain, bisa membentuk kelompok sendiri. Atau biasa pula, permainan ini ditonton oleh anak-anak lain yang saling memberi support atau dukungan kepada pemain.
Source https://budaya-indonesia.org/Bas-Basan-Sepur/ budaya-indonesia.org
Comments
Loading...