Sejarah Asal-usul Berokan, Makhluk Mitologi dari Indramayu

0 69

Mengenai asal-usul berokan dituturkan oleh Mama Taham, dalang wayang kulit asal Tambi Indramayu berdasarkan cerita wayang, sebagai berikut: Parikesit keturunan Arjuna dari Astina menikahi dengan Putri Adhiyati putra dari Begawan Adhiyaka menjadi istri ketiganya. Dari tiga permaisuri tersebut dikaruniai tiga orang putra yaitu: Jayadharma, Yudhayana dan Yudhayaka.

Suatu waktu terjadi peperangan, negara Astina diserang musuh. Astina terdesak, Parikesit bersama istri-istrinyanya melarikan diri dan hanya membawa putra pertamanya Jayadharma. Anak kedua Yudhayana entah pergi ke mana. Sementara anak ketiga masih kecil masih berada dalam ayunan dan diselamatkan oleh gajah peliharaan sang raja.

Gajah yang membawa Yudhayaka kecil tersebut terus berlari ke dalam hutan. Karena kecapaian sang gajah mati, Yudhayaka kecil pun tergeletak di dekat penyelamatnya. Selang beberapa waktu ada pasukan pemburu yang dipimpin Prabu Sulangkara, cucu dari Adipati Karna, Raja dari Miantipura yang dulu bernama Petaperlaya.

Dia mendengar ada tangis bayi, diperintahnya para pasukan untuk mencari sumber tangis bayi tersebut. Betapa gembiranya Prabu Sulangkara, dia menemukan bayi laki-laki. Karena Prabu Sulangkara tidak mempunyai putra, maka dengan senang hati Yudhayaka diangkat putra dan dibawa ke negaranya.

Beberapa tahun kemudian, kerajaan Miantipura diserang oleh musuh yang berkekuatan lebih besar. Bala tentara Miantipura banyak yang gugur dan sebagian lagi melarikan diri, mundur melindungi benteng istana. Keluarga raja dengan sisa prajuritnya terkurung dalam benteng istana tersebut.

Prabu Sulangkara sedih, meskipun amarahnya masih menyala, anak angkat yang diharapkan bisa menjadi kesatria dan putra mahkota yang gagah perkasa, ternyata tidak bisa berperang. Yudhayaka tumbuh besar dan lebih memilih seni lukis sebagai keahliannya.

Tanpa sepengetahuan Prabu Sulangkara, Yudhayaka ke luar sambil membawa alat lukisnya. Benteng istana dilukisi dengan gambar hutan belantara, hasilnya sangat mirip dengan hutan aslinya.

Yudhayaka menunggu di dekat gerbang yang sudah dilukisnya, musuh tidak mengetahui keadaan ini, ketika musuh mendekat ke gerbang Yudhayaka sudah siap dengan kuasnya dan menusuk leher tentara musuh satu per satu. Tentara musuh banyak yang gugur dan merasa ketakutan sehingga lari menjauh.

Berita ini sampai ke Prabu Sulangkara, Yudhayaka pun dipanggil untuk menceritakan kejadiannya. Prabu Sulangkara heran bercampur kagum, putra angkatnya yang dianggap tidak mempunyai keahlian justru dapat menyelamatkan negaranya. Untuk lebih meyakinkan hatinya Prabu Sulangkara memerintahkan Yudhayaka melukis hutan seisinya. Dalam waktu singkat perintah itu dijalankan, hasilnya persis degan kenyataan.

Prabu Sulangkara pun memerintahkan kembali untuk melukis laut se-isinya. Perintah ini dijalankan Yudhayaka, tetapi pada saat menyelam ke dalam laut Yudhayaka menemukan satu hewan yang hanya terlihat kepalanya saja di dalam lubang atau rong.

Berulangkali dia menyelam untuk melihat hewan tersebut, akan tetapi tetap saja seperti semula, tidak ke luar-ke luar dan tidak jelas atau ora babar-babar. Lukisan pun selesai dan diserahkan ke Prabu Sulangkara. Melihat hasil lukisan tersebut, Prabu Sulangkara sangat kagum, matanya tertuju pada bagian hewan di dalam lubang.

Dia bertanya pada Yudhayaka, ”Binatang apa ini?” ”Saya tidak tahu, karena binatang itu tidak pernah meninggalkan lubang, jadi kelihatannya tidak jelas, karena Ora babar-babar ning jero rong”, jawab Yudhayaka.

Sulangkara kemudian bertanya lagi: “bisa tidak kamu mewujudkan binatang ini untuk kesenian?” Yudhayaka menjawab: “Bisa!” Kemudian Yudhayaka mencoba mewujudkan gambarnya dalam bentuk topeng badawang dari kayu dan merangkainya dengan bahan lainnya.

Bagian punggungnya terbuat dari kulit kambing, badannya dibungkus dengan sejenis karung goni atau waring, dan bagian ekornya terbuat dari kayu. Binatang imajinasi ini diberi nama barong, sebagai gambaran : ora babar-babar ning jero rong, yang kemudian disebut dengan berokan.

Selain, asal-usul yang dituturkan oleh maestro dalang kulit Mama Taham di atas, berdasarkan penelusuran bentuk berokan yang sekarang ada di Tropen Museum memperlihatkan perbedaan bentuk topeng berokan.

Source http://jalurpantura.com/asal-usul-berokan-makhluk-mitologi-dari-indramayu.html http://jalurpantura.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.