budayajawa.id

Sejarah Angklung Paglak, Salah Satu Seni Musik Tertua di Banyuwangi

0 27

Sejarah Angklung Paglak, Salah Satu Seni Musik Tertua di Banyuwangi

Angklung paglak diyakini sebagai kesenian pertama di Bumi Blambangan. Kesenian yang dimainkan empat orang itu muncul di tengah masyarakat sejak sekitar tahun 1890 silam. Iramanya yang mendayu-dayu membuat nuansa seni semakin kental menyelimuti desa adat Osing yang juga dikenal dengan desa wisata tersebut.

Semakin lama didengar, lantunan irama alat musik yang terbuat dari bambu itu semakin menggugah hati. Orang akan semakin tertarik untuk mencari di mana sumber suara tersebut. 

 Sejarah alat musik yang oleh masyarakat Banyuwangi dikenal dengan istilah angklung paglak tersebut. Angklung paglak adalah kesenian pertama di Bumi Blambangan. Angklung paglak yang biasa dimainkan empat orang, itu pertama kali diperkenalkan oleh Mbah Kebo alias Mbah Buang sekitar tahun 1880. Mbah Kebo adalah warga asal Bali yang karena memiliki persoalan keluarga di tanah kelahirannya, dia hijrah ke Banyuwangi dan lantas bermukim di wilayah yang saat ini dikenal dengan Kampung Bali, Kelurahan Pengajuran, Kecamatan Banyuwangi.

Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya pada masa kepemimpinan Bupati Notodiningrat, yakni pejabat asal Malang yang berdinas di Surakarta dan lantas dipindah ke Banyuwangi oleh pihak Belanda, ada seorang warga menemukan gamelan yang terbuat dari perunggu (gender). Warga tersebut lantas menyerahkan gender yang dia temukan kepada bupati. Dari tangan bupati, gender itu lantas diserahkan kepada Mbah Kebo. “Oleh Mbah Kebo, gender tersebut lantas dikombinasi dengan angklung paglak.

Jadilah angklung Bali-balian atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah angklung caruk. Mengapa disebut angklung caruk? hal itu disebabkan karena setiap kali pertunjukan, ada dua grup angklung Bali-balian yang dipertemukan (kecaruk). Saat bertemu itulah, dua grup bersaing. Bahkan sampai menggunakan ilmu santet. Mbah Kebo tidak setuju dengan persaingan yang tidak sehat tersebut. Akhirnya, dia melebur gender yang dia miliki dan ditambahkan perunggu.

Jadilah gamelan janger.  Mbah Kebo lantas mendirikan grup janger pertama di Desa Patoman, Kecamatan Rogojampi. Pada waktu itu, wiyogo (gamelan) dan kostum janger mengadopsi budaya Bali. Namun, pemain jangernya asli orang Osing. Sedangkan antawacana (dialog) menggunakan Bahasa Kawi atau Bahasa Jawa ngoko. Jadi, Janger Banyuwangi merupakan perpaduan etnis Bali, Osing, dan Jawa. Kembali ke cerita tentang angklung, meskipun Mbah Kebo keluar dari  omunitas kesenian tersebut, tetapi kesenian angklung caruk tetap bertahan di tengah masyarakat.

Bahkan, kesenian tersebut masih lestari hingga saat ini. Hanya, imbuh Andik, kesenian angklung caruk saat ini sudah tidak lagi diwarnai saling serang menggunakan ilmu santet. 

Source https://www.kabarbanyuwangi.info/ https://www.kabarbanyuwangi.info/angklung-paglak-salah-satu-seni-musik-tertua-di-banyuwangi.html
Comments
Loading...