Sedekah Laut Pantai Sadeng Gunung Kidul Yogyakarta

0 58

Sedekah Laut Pantai Sadeng Gunung Kidul Yogyakarta

Sedekah Laut Pantai Sadeng merupakan salah satu agenda budaya dan tradisi pada bulan Sura di kabupaten Gunungkidul. Sedekah laut atau ada yang menyebutnya dengan labuhan atau larung sesaji. Rutin diselenggarakan setiap tahun masyarakat Pantai Sadeng dan sekitar. Tidak heran bila setiap tahun semakin banyak pengunjung yang hadir dan menyaksikan upacara adat ini.

Sedekah Laut Pantai Sadeng diselenggarakan pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura (suro) dalam penanggalan Jawa atau bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Arab. Pantai Sadeng berada di desa Songbanyu, kecamatan Girisubo, kabupaten Gunungkidul.

Acara Sedekah Laut Pantai Sadeng dimulai dengan persiapan sesaji, pembukaan acara, pengangkutan sesaji ke tengah laut, melarung sesaji ke tengah laut, hiburan kesenian tradisional, dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit. Sejak pagi hari telah dilakukan berbagai persiapan di kantor sekretariat nelayan Pantai Sadeng.

Beberapa ibu-ibu sibuk memasak nasi dan hasil bumi untuk disusun menjadi nasi tumpeng. Bapak-bapak tidak mau kalah dengan mempersiapkan tenda dan panggung yang dibangun disamping kantor sekretariat nelayan.

Upacara Sedekah Laut Pantai Sadeng sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat. Pantai Sadeng termasuk nelayan dan petani atas limpahan hasil pertanian dan hasil perikanan laut. Selain itu sebagian masyarakat masih percaya bahwa bahwa Laut Pantai Selatan adalah milik Kanjeng Ratu Kidul (Nyi Roro Kidul) sebagai penguasa gaib.

Sebagian nelayan yang lain sibuk mempersiapkan dan menghias kapal-kapalnya untuk mengikuti larung sesaji ke tengah laut. Beberapa kapal yang akan digunakan untuk larung sesaji Sedekah Laut Pantai Sadeng diparkir berjajar di sisi dekat pendopo Pantai Sadeng. Tampak sebagian nelayan dibantu anak-anak memasang berbagai atribut mulai dari pita, kertas warna, hiasan gantung, hingga spanduk-spanduk yang berasal dari sponsor.

Acara inti Sedekah Laut Pantai Sadeng berupa melarung sesaji ke tengah laut menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu oleh penonton. Penonton dapat mengikuti prosesi larung sesaji di tengah laut dengan menaiki kapal nelayan yang telah dipersiapkan.

Sesaji utama Sedekah Laut Pantai Sadeng berupa tandu yang berisi nasi tumpeng lengkap dengan hasil bumi dan perikanan laut. Beberapa nasi tumpeng yang dibawa dengan tampah (piring besar dari anyaman bambu) merupakan sesaji tambahan yang berasal dari masyarakat/pribadi.

Ukuran kapal yang cukup besar menjadi salah satu alasan bahwa penonton diperbolehkan mengikuti larung sesaji ke tengah laut. Seperti yang kita tahu bahwa kapal-kapal nelayan yang bersandar di pantai Sadeng berukuran lebih besar dibandingkan dengan perahu nelayan di pantai-pantai lain sekitar Gunungkidul. Meskipun jumlahnya terbatas, penonton yang beruntung dipersilakan menaiki kapal dan ikut mengiringi prosesi larung sesaji di tengah laut selatan yang luas.

Penonton yang diperbolehkan mengikuti prosesi larung sesaji Sedekah Laut Pantai Sadeng adalah seseorang yang memilki keberanian untuk menaiki kapal di tengah ombak yang ganas. Seperti yang kita ketahui bahwa ombak laut selatan atau samudera merupakan ombak yang ganas dengan ketinggian gelombang yang cukup tinggi.

Perjalanan menuju ke tengah laut menggunakan kapal berukuran besar nampaknya memberikan andrenalin tersendiri bagi orang yang baru pertama kali mencobanya. Ombak laut selatan yang ganas mengombang-ambingkan kapal nelayan meskipun ukurannya cukup besar. Bagi orang yang pertama kali menaikinya pasti timbul rasa takut akan terhempas ombak. Namun bagi orang-orang yang terbiasa, pemandangan ombak pantai selatan merupakan hal yang wajar.

Kapal SAR yang digunakan untuk membawa sesaji Sedekah Laut Pantai Sadeng berjalan paling depan kemudian diikuti oleh kapal-kapal nelayan yang mengiringi larung sesaji. Penonton atau pengunjung pantai yang tidak ikut dalam kapal karena telah dipenuhi penonton terpaksa melihat prosesi ini dari tanggul pemecah ombak yang berada di sekitar pelabuhan.

Sesaji yang dilabuh atau dilarung dipercaya memberikan berkah dan rezeki bagi orang yang mengambilnya. Hal ini menjadikan salah satu alasan mengapa beberapa orang rela terjun ke laut untuk merebut sesaji yang dilarung tersebut.

Sesaji berupa tandu berisi tumpeng dan beberapa hasil bumi pertanian dan perikanan dibuang atau dilarung ke laut. Sesaji yang larung ini meurupakan ungkapan rasa syukur warga atas hasil laut yang mereka panen.

Beberapa kapal nelayan mendekat dan satu hingga lima orang meloncat ke laut untuk merebut sesaji tersebut. Ombak yang ganas tidak mengecilkan nyali mereka untuk mengambil sesaji karena mereka percaya sesaji yang dilarung dipercaya memberikan berkah.

Prosesi larung sesaji dalam rangkaian acara Sedekah Laut Pantai Sadeng pun berakhir dan kapal-kapal dihimbau agar kembali ke pelabuhan karena tingginya arus gelombang air laut. Perjalanan pulang menuju ke pelabuhan tidak lebih menegangkan.

Seperti saat berangkat ke tengah laut karena mengikuti arus gelombang ke darat. Kembalinya sebagian penonton yang ikut prosesi larung sesaji kembali meramaikan suasana Pantai Sadeng. Kemeriahan Sedekah Laut Pantai Sadeng berlanjut hingga selesainya pertunjukkan wayang kulit pada keesokan harinya.

Source https://teamtouring.net/ https://teamtouring.net/sedekah-laut-pantai-sadeng-gunungkidul.html
Comments
Loading...