Satu Suro, Mitos dan Bulan Sakral Masyarakat Jawa

0 88

Satu Suro, Mitos dan Bulan Sakral Masyarakat Jawa

Masyarakat Jawa menyebut 1 Muharam sebagai bulan Suro, yakni bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Bagi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka akan menggelar ritual dengan cara semedi atau menepi di berbagai lokasi seperti gunung dan juga laut.

Penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan bubur Sura. Masyarakat berkeyakinan harus terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Selama bulan Suro, masyarakat akan melakukan ritual membersihkan benda-benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris dan tombak yang dipercaya memiliki kekuatan gaib, serta mengadakan sedekah bumi sebagai salah satu cara mempertahankan kearifan lokal.

Tradisi yang sudah berlangsung sejak jaman kuno ini terus berlanjut hingga saat ini terutama di wilayah dua kerajaan khususnya Surakarta dan Yogjakarta. Saat itu kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung (Mataram Islam) menciptakan kalender sendiri yang merupakan gabungan antara kalender Hindu (Saka) dan Islam (Hijriah).

Bagyo, salah satu abdi dalem Kraton Solo menyatakan dua kerajaan dari dinasti Mataram ini selama bulan Suro masih melakukan tradisi labuhan. Labuhan adalah ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. Menurut Bagyo “Ritual ini menjadi ritual tahunan di beberapa lokasi yang masih dianggap sakral oleh Kraton Solo dan Kraton Yogjakarta. Ada beberapa gunung yang sering dijadikan lokasi labuhan, yaitu Lawu, juga Merapi,”

Khusus di wilayah Solo, salah satu tujuan lelaku spiritual (tirakat) adalah gunung Lawu yang juga menjadi salah satu tujuan ritual Kraton Solo. Selama ini gunung Lawu dipercaya sebagai pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan keberadaan Kraton di tanah Jawa. “Setiap tiap bulan Suro selalu diadakan upacara sesaji di gunung Lawu,” lanjutnya.

Selain itu pada malam satu suro ribuan orang berbagai daerah naik ke puncak Gunung Lawu dengan beragam tujuan. Salah satunya sebagai bentuk lelaku. Mereka berkeyakinan, dengan naik ke puncak Pringgodani dan melakukan topo broto (menyepi) di puncak keinginannya bisa terkabul. Ngalap berkah agar terkabul usahanya lancar, naik pangkat dan jika berhasil mereka akan mengadakan selamatan. “Masih banyak lokasi di gunung Lawu yang masih di sakralkan seperti lereng sebelah utara, yang dipercaya sebagai pusat atau istana makhluk halus,” pungkasnya.

Source Satu Suro, Mitos dan Bulan Sakral Masyarakat Jawa Okezone.com
Comments
Loading...