Satu Muharam dan Kolerasi Tradisi Budaya Jawa

0 101

Satu Muharam dan Kolerasi Tradisi Budaya Jawa

Satu Muharam atau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan Satu Suro. Merupakan hari pertama dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah. Satu Suro biasa diperingati pada malam hari ba’dha Magrib pada hari sebelum tanggal satu. Biasa kita kenal dengan sebutan malam Satu Suro.

Hal ini terjadi karena pergantian hari Jawa tidak seperti pergantian hari dalam kalender Masehi yang dimulai tengah malam. Melainkan dimulai setelah terbenamnya matahari dari hari sebelumnya. Bagi orang Jawa, Muharam atau Suro sama-sama diyakini sebagai salah satu bulan sakral yang diperingati dengan tradisi Islam dan tradisi kejawen yang sangat kental.

Hal ini tak lepas dari penanggalan Jawa dan kalender Hijriah yang memiliki korelasi yang dekat, khususnya semenjak masa Mataram di bawah Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645). Tahun Hijriah diawali dengan bulan Muharam, yang oleh Sultan Agung dinamakan sebagai bulan Suro.

Pengaruh kontrol keraton yang kuat melatarbelakangi tindakan revolusioner Sultan Agung dalam upayanya mengubah sistem kalender Saka—merupakan perpaduan kalender Jawa asli dengan Hindu. Kemudian menjadi kalender Jawa yang merupakan perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriah.

Menurut Karkono Kamjaya Partokusumo dalam buku Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan Islam. Perubahan sistem kalender tersebut terjadi pada Jumat Legi tanggal 1 Suro tahun Alip 1555, tepat pada tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah atau tanggal 8 Juli 1633 Masehi.

Menilik dasar perhitungannya, kalender Saka mengacu pada sistem solar atau matahari. Sementara itu, kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung berdasarkan lunar atau sistem bulan seperti sistem kalender Hijriah. Kedua sistem perhitungan solar dan lunar berbeda, sehingga tindakan Sultan Agung dianggap revolusioner.

Sultan Agung memang menaruh perhatian yang cukup besar pada kebudayaan Jawa. Proses perpaduan kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman menghasilkan kalender Jawa-Islam. Ini salah satu upaya mempersatukan masyarakat Jawa pada masa itu. Upaya yang revolusioner ini membuat bulan Suro atau Muharam ini begitu dianggap istimewa.

Di Blitar sendiri peringatan nalam Satu Suro banyak diisi dengan berbagai tradisi turun-temurun. Seperti  kenduri di pertigaan atau perempatan dalam rangka doa menyambut pergantian tahun dan tolak balak. Selain itu, sebagian ada yang melakukan ritual “ngumbah keris” dan di siang harinya masyarakat daerah pesisir biasa memperingati 1 Suro dengan ritual “larungan sesaji”.

Source http://m.jatimtimes.com/ http://m.jatimtimes.com/baca/178799/20180911/085100/satu-muharam-dan-korelasi-tradisi-budaya-jawa/
Comments
Loading...