Sastra Pertengahan: Mengupas Kidung Sunda

0 129

Sebelum mengurai apa isi yang terdapat dalam kidung Sunda, antara Majapahit dan Sunda (Pajajaran) memiliki keterkaitan jika berlandaskan pada Pustaka Raja Rajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 3 : bahwa Rakeyan Jayadarma, putra prabu Dharmasiksa merupakan raja dari kerajaan Sunda merupakan menantu dari Narasinga dari singasari atau lebh di kenal dengan Mahisa Cempaka (salah satu sepasang naga dalam satu sarang).

Jayadarma menikah dengan putri dari Mahisa Cemapaka yang bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Cemapaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng yang berarti cucu dari Ken Arok dan Ken Dedes. Dari pernikahan Jayadarma dengan Ddyah Lembu tal melahirkan seorang anak laki laki yang bernama Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih di kenal dengan Raden Wijaya. Darmasiksa yang merupakan kakek dari raden Wijaya memberikan nasehat kepada cucunya :

“Haywa ta sira kedo athawamerep ngaliindih bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katiyasan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu. Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratany”

“Ikang sayogyanya rajya jawa lawan rajya sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowang sowang. Yatanya sidha hitasukha. Yan rajya sunda duh kantara, wilwatikta,sakopayana maweh carana; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatikta”

Arti :

Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada saudaramu bilakelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaanmu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugrah Yang Maha Esa dan menjadi suratan-nya

Sudah selayaknya kerajaan sunda dan kerajaan jawa saling membantu, bekerjasama, dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Krena itu janganlah berselisih dalam memerinntah daerahnya masing masing. Bila demikian akan menjadi kedamaian yang sempurna. Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan hendaknya kerajaan Mjapahit hnedaknya berupaya sungguh sungguh memberikan bantuan, demikian pula kerajaan Sunda pada Majapahit.

Terbukti dengan masa pemerintahan Kertarajasa Jayawardhana hubungan antara kerajaan Sunda dan Majapahit sangatlah erat

Di kisahkan pada kidung Sunda yang berupa narasi dari sebuah kisah fiksi fantasi hayalan si pembuat atas peristiwa yang terjadi, hal ini di karenakan penulisan kidung sunda di perkirakan hanya menurut cerita dari kitab Pararaton yang di dalamnya juga terdapat insiden terjadinya perang Bubat. Pada awal kidung di kisahkan penyebaran semua juru gambar dan juru sungging untuk melukis wanita wanita cantik agar diperitri oleh raja Hyam wuruk yang pada saat itu masih muda dan belum menikah.

Lalu sang raja Hayam Wuruk tertarik dengan putri kerajaan Sunda yang langsung mengirim utusan untuk melamarnya, oleh raja Sunda lamaran tersebut di terima. Raja Sunda dan raja Majapahit berkeinginan untuk bertemu di desa Bubat ( di daerah Majapahit). Jika di lihat dari budaya jawamelalui sisi keetisan dan sopan santun, biasanya yang melamar ataupun dari pihak lak laki yang pergi ke perempuan bukan sebaliknya, dengan kata lain raja Sunda telah memperhinakan dirinya sendiri. Jika aerah tersebut memiliki adat maupun kebiasaan tersebut adaah mungkin sekali namun dalam sudut pandang sejarah di sini tidk bisa dinamakan kebenaran umum.

Setelah rombongan kerajaan Sunda.telah tiba di tempat yang telah di tentukan yaitu Pakuwan Bubat, Raja Sunda menunggu calon kedatangan mantunya. Keadaan gembirapun di perlihatkan oleh Hayam Wuruk yang berada di istana Majapahit dan segera akan menyusul bersama kedua pamanya, namun hal tersebut di halangi oleh sang patih Gajah Mada. Gajah Mada menasehati bahwa seharusnya sebagai raja yang besar dan kerajaan Sunda yang merupakan wilayah telukan harusnya menyerahkan sang dewi Dyah Pitaloka citraresmi langsung di istana kerajaan Majapahit, sebagai gantinya patih Gajah Mada dan beberapa prajurit pilhan pergi ke Bubat, di sana terjadilah cekcok adu mulut yang berujung pada peperangan..

Alasan mengapa Gajah Mada menahaan kepergian sang Raja karena pada saat itu hanya kerajaan Sunda lah yang memang belum di taklukan. Gajah Mada berkeinginan untuk menyelesaikan sumpahnya, dengan demikian Gajah Mada berpikir setali dua uang yakni sang raja mendapatkan perempuan yang sangat di cintainya sedangkan Gajah Mada dapat menjalankan dan menyelesikan sumpahnya. Dan jika di logika dengan nalar, kepergian ke Majapahit di ikuti dengan permaisuri dan prajurit dalam jumlah besar adalah karena niatan mereka bukan menyerahkan Dyah Pitaloka melainkan untuk beperang dan menyerang Majapahit

“Orang orang sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangswanya, mereka sanggup gugur dimedan perang dibubat, takakan menyerah, akan mempetaruhkan darahnya”.

Dari petikan di atas dapat di simpulkan bahwa sebelumadanya penyerahan yang di lakukan, Raja Galuh (Sunda) membuat pengumuman untuk menyerahkan putriny pada Hayam Wuruk sebagai istri raja Majapahit, namun hal ini di tlak oleh para bangsawan dan mereka sanggup untuk bertempur dan mati di tengah peperangan. Penyerahan yang berada di Bubat bukanlah suatu penyerahan melainkan penyerangan langsung, karena dalam prosesi adat jawa, calon pasti di jemput langsung oleh mempelai laki laki, dalam keadaan itulah di perkirakan para bangsawan dan prajurit Sunda dapat menyerang langsung Hayam Wuruk secara bersam sama, sedangkan memilih wilayah Bubat karena di perkirakan tempat itu sangat luas dan tepat untuk menggempur rombongan kerajaan Majapahit.

Perang besar pun terjadi, dengan perkiraan yang telah di sampaikan dapat di pastikan bahwa Raja Sunda membawa pasukan yang luar biasa besarnya, namun dalam kidung Sunda bahwa pasukan besar yang di miliki oleh kerajaan Sunda dapat di kalahkan oleh kerajaan Majapahit, hal iini di karenakan kerajaan Sunda sudah lama tidak perang brubuh dalam skala yang besar. Kerajaan Sunda mengalami kedamaian dalam pemeriintahanya, berbeda dengan Majapahit yang terus mengembangkan perluasaan wilayah untuk mempersatukan Nusantara sehingga mereka paham akan garis besar suatu peperangan.

Pada saat itu juga diasumsikan bahwa pada saat itu ekpedisi ekspedisi yang di lakukan oleh kerajaan Mjapahit masih terus berlangsung, sehingga kekuatan yang di keluarkan untuk menghancurkan prajurit Sunda pastinya berkurang banyak, namun demikian karena mereka mahpir setiap saat melakukan ekspedisi dan peperangan maka mereka dengan muah mengenali keadaan medan peperangan.

 Peperangan ini tidak sepenuhnya milik Gajah Mada, Hayam Wuruk pun kurang cepat menanggapi keadaan dan usulan patih Gajah Mada, sehingga sang patih bergerak dengan pasukan Bhayangkara, namun sebagai patih hendaknya menunggu perintah sang raja dan tidak bertindak sendiri, pada saat itu Hayam Wuruk maih berusia muda sehingga dapat di sebut Yuwaraja, pantas jika perlu berpikir sedikit lama untuk mengambil keputusan,

 Peperanganpun terjadi dengan dahsyat, seluruh pasukan kerajaan Snda beserta rajanya tewas. Perang Bubat ini sangatlah heroik bagi kedua belah pihak, pasukan Majapahit bertempur dengan strategi sedangkan pasukan kerajaan Sunda bertempur mengandalkan banyaknya jumlah prajurit mereka. Pasukan Sunda sangat bersifat kepahlawanan, karena mereka lebih baik mati di medan pertempuran di banding dengan harus memohon untuk tidak di bunuh, sistem perang seperti itu menyerupai perang Puputan(penghabisan) yang berada di Bali.

Prabu Hyam Wuruk pun terharu melihat wujud dari peperangan tersebut, sebagai rasa hormatnya raja Majapaht itu memerintahkan Gajah Mada untuk menguburkan mayat secara layak baik bangsawan maupun prajurit. Hubungan antara Hyam Wuruk dan Gajah Mada pun mulain renggang setelah peristiwa Bubat tersebut, di kisahkan melalui kidung Sunda bahwa Gajah Mada moksa untuk kembali ke nirwana karena sang patih adalah titisan dewa namun beberapa sumber juga mengisahkan bahwa Gajah Mada sempat melarika diri untuk di tangkap dalam kepatihanya, namun ia di ampuni dan kembali pada kedudukanya pada saat pernikahan Hayam Wuruk dengan putri raja Wengker, Rau Ayu Kusumadewi.

Patih Gajah Mada selain untuk mewujudkan Amukti Palapa yang pernah di sumpahkanya, sang patih juga berkeingnan untuk menggalang kekuatan dalam melakukan ekspedisi ataupun invasi melebihi cakupan nusantara, hal ini terbukti dengan sumpah untuk menaklukan Singapura. Hal itu di mungkinkan sebagai pijakan menguasai luar wilayah nusantara, pemersatuan Nusantara sudah d dengung dengungkan oleh pendiri kerajaan Singasari yaitu Sang Rajasa Amurwabhumi, Kertanegara yang bergelar batara Siwa Budha dan yang terakhir adalah Gajah Mada. Pemersatuan ini merupakan di harapkan sebagai kekuatan adikuasa yang akan bersaing dengan kerajaan mongol yang menggunakan sistem tersebut,

Secar analisis, kidung Sunda bukanlah pemaparan fakta sejarah yang akurat melainkan suatu karya sastra yang bertujuan menguatkan salah satu kedudukan dari keua belah pihak kerajaan. Hal yang harus menjadi salah satu pertanyaan adalah dalam kidung Sunda tidak sebutkan nama raja dan permaisuri dari kerajaan Sunda, hal ini dapat di mungkinkan bahwa sang penuliis tidak mempunyai wawasan sejarah yang cukup untuk menguatkan keberadaan cerita tersebut. Setelah peristiwa itu, Majapahit tidak menganggu kerajaan Sunda, selain prabu Hayam Wuruk menyesal akan peristiwa tersebut kerajaan Sunda juga tidak mempunyai prajurit yang besar dan kuat untuk melakukan kegiatan kegiatan invasi maupun ekspedisi yang d lakukan Majapahit.

Source https://cahsastrajawa.wordpress.comhttps://cahsastrajawa.wordpress.com https://cahsastrajawa.wordpress.com/2017/04/17/sastra-pertengahan-mengupas-kidung-sunda/
Comments
Loading...