Sastra Jawa : Sikap Tutur & Baku dalam Bahasa Jawa

0 54

Bahasa Jawa sebagai bahasa tutur (bahasa percakapan sehari-hari), diungkap pemerhati bahasa Jawa, Paksi Raras Alit, memang berbeda dengan bahasa bakunya. Semua bahasa punya gejala seperti itu. Kita belajar bahasa Inggris, sebagaimana bahasa Jepang, bahasa Indonesia, dan lain-lain, kalau dalam bertutur (percakapan), tidak mungkin baku. Kalau percakapan dalam bahasa Inggris, ada menyingkat-nyingkat, atau slang-nya, bahasa Jawa juga begitu, ngokonya juga, seperti luweh (dibiarkan demikian).

Kalau bahasa yang baku, memang harus dipelajari, karena pada bahasa yang lain, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahasa tersebut sudah dikembangkan sedemikian rupa dan punya kurikulum yang tepat, misalnya ada TOEFL (bahasa Inggris Amerika), atau ujian negara (bahasa Indonesia). Sedangkan bahasa Jawa, belum sampai pada taraf seperti itu. Menurut Raras Alit, instansi pendidikan-lah yang paling bertanggung jawab untuk membetulkan bahasa Jawa yang baku atau yang benar.

Kalau bahasa sehari-harinya, biarkan saja dengan keadaannya seperti sekarang, karena perkembangan bahasa tutur (percakapan) memang seperti itu, dan pasti akan mengalami perubahan yang bermacam-macam gejalanya. Terkait dengan aksara Jawa, dia menyampaikan keinginannya mengenai perbaikan penulisan aksara Jawa pada papan nama jalan. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama, agar tidak berlarut-larut, dan menimbulkan polemik. Sebagai tindak lanjutnya nanti, disepakati semacam aturan penuntun, yaitu paugeran Sriwedari dan paugeran dari kongres bahasa Jawa 1996, 2000 & 2016.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.uv-6lELKBin9wcTxGU8UxCjREI5iWJrFn4hroGS7Lx83aZWrdHmF0vjWlR7QMCFGI9LMUHhR-Z7WgbfW98P3DQ
Comments
Loading...