Sastra Jawa Ngonceki Kapitayan

0 165

Corak kebhinekaan semakin berwarna semenjak penghayat Kepercayaan mendapat kepastian hukum dari negara. Sebelum disahkan, penghayat Kepercayaan menerima beragam perlakuan diskriminatif dari kelompok masyarakat di luar mereka. Pengayoman negara yang menggunakan payung Pancasila baru benar-benar bisa dirasakan oleh penghayat Kepercayaan pada tahun 2017.

Penghayat Kepercayaan pernah berada di masa jaya pada tahun 1950-an. Di tahun tersebut jumlah pengikut penghayat Kepercayaan bertambah dengan cukup signifikan. Hanya saja kejayaan tersebut tidak berlangsung lama karena harus bergesekkan dengan agama-agama ‘resmi’ khususnya Islam. Pertentangan antara Islam dengan penghayat.

Kepercayaan semakin meruncing karena penghayat Kepercayaan didefiniskan sebagai anggota Partai Komunis Islam (PKI) oleh kelompok Islam. Konflik horizontal tersebut tentu akan menyebabkan stabilitas negara menjadi terguncang, untuk menyikapinya presiden Soekarno mengeluarkan UU Pengganti yang kemudian dikenal dengan UU No.1/PNPS. Inti dari UU No.1/PNPS tersebut ialah mengukuhkan agama-agama resmi dan menghukumi penghayat Kepercayaan sebagai penoda agama.

Dampak dari ketetapan hukum negara tersebut ialah sulitnya penghayat Kepercayaan dalam mengurus administrasi negara, atau secara luas penghayat Kepercayaan ditimpa beragam sikap-sikap diskriminatif baik dari negara maupun kelompok-kelompok agama ‘resmi’. Hingga pada akhirnya gugatan yang dilayangkan para penghayat Kepercayaan dengan diwakili Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba, dan Calim terhadap UU Nomer 23 Tahun 2006 benar-benar membuahkan hasil. Kini para penghayat Kepercayaan tidak perlu lagi mengosongi kolom agama di dalam KTP. Berdasarkan keputusan MK yang terbaru, penghayat Kepercayaan dibolehkan mencantumkan penyebutan kolom agama dengan ‘penghayat Kepercayaan’ tanpa harus menunjukkan identitas nyata kepercayaan mana yang dianut.

Bukan hal mudah untuk memperoleh kesetaraan di mata hukum. Anggapan masyarakat luas terutama yang berasal dari masyarakat enam agama ‘resmi’ kerap menuduh penghayat Kepercayaan sebagai ‘atheis’, ‘agnostik’, dan bahkan sesat. Tuduhan tersebut pada dasarnya berlandaskan wujud seremoni agama atau upacara agama yang dilakukan penghayat Kepercayaan tanpa memperhatikan konsep-konsep ke-Tuhan-an yang dianut.

Ajaran yang dianut penghayat Kepercayaan secara garis besar atau pada umumnya bersifat monotheistik. Hampir seluruh penghayat Kepercayaan di nusantara percaya pada satu kekuatan ghaib yang memang layak untuk dipertuhankan. Penghayat Kepercayaan meyakini keberadaan Zat adi-kodrati yang sangat sakral dan dijadikan sebagai tempat awal dan tempat akhir(sangkan paran). Di tanah Batak disebut dengan Ompu Tuan Muala Jadi Nabolon, di Nias disebut dengan Lowalangi, di Kalimantan disebut dengan Bhatara, Debata Jubata, Pohatara, Iswara, Mahatalla, dan lain sebagainya.

Sedangkan di Sulawesi dipanggil dengan Puang Matoa. Di Jawa sendiri terdapat banyak sekali penyebutan, namun semua penyebutan mengacu pada Zat yang serba ‘maha’, seperti Hyang Murbeng Dumadi, Hyang Wiwenang Tan Winenang, Hyang Taya, dan lain sebagainya. Memperhatikan fakta-fakta tersebut tentu saja tidak bijaksana rasanya apabila menganggap penghayat Kepercayaan sebagai penoda agama.

Diantara banyaknya penghayat Kepercayaan dengan beragam aliran dan sistem pengajarannya, di Jawa terdapat sebuah kepercayaan yang menurut Agus Sunyoto dalam bukunya Islam Nusantara lebih dahulu muncul dibandingkan denganKejawen, yaitu Kapitayan. Berasal dari kata  taya yang bermaknasuwung atau kosong. Menurut Agus Sunyoto, masyarakat Jawa pada masa itu sudah memahami bahwa Tuhan tidak dapat diserupakan dengan apapun, tidak bertempat, tidak terlihat, dan asal mula segala kejadian.

Pembahasan

Di dalam buku-buku sejarah sekolah banyak disebutkan bahwa leluhur nusantara khususnya Jawa, pada masa lampau adalah penganut animisme atau dinamisme. Agus Sunyoto menolak pemahaman mengenai animisme atau dinamisme yang tertera di dalam buku pelajaran, ia memiliki anggapan yang sebenarnya masih spekulatif, bahwa masyarakat pada masa lampau sudah mapan mengenal Tuhan dan tidak serta merta melakukan ritus-ritus yang mengarahkan mereka terhadap justifikasi animisme atau dinamisme.

Khalid Karomi mempunyai pendapat yang berbeda, dengan dasar fakta-fakta seremoni keagamaan yang ada saat ini ia berasumsi bahwa masyarakat Jawa di masa dahulu lebih concern terhadap penggabungkan bentuk antar beberapa ajaran (sinkretis). Proses kerja sinkretis menunjukkan kalau masyarakat Jawa di masa lampau tidak mempersoalkan benar atau salah dalam agama, murni atau tidaknya agama, sehingga semua agama dianggap benar dan bisa diadopsi satu dengan yang lainnya.

Dengan lihai Agus Sunyoto mengurai ikhwal Kapitayan dalam buku Atlas Wali Songo. Mendasarkan diri pada teks Lontara Sila Krama, Agus Sunyoto menganalogikan Kapitayan sebagai modal awal bagi masuknya agama-agama samawi khususnya Islam. Tuntunan dan praktek dalam menjalani Kapitayan sendiri tidak berbeda jauh dengan perspektif Islam. Seperti adanya upawashayang dimaknai oleh Agus Sunyoto sebagai puasa, trisandyayakni sembahyang tiga waktu versi Kapitayan dalam Lontara Sila Krama, dan larangan-larangan dalam mengonsumsi makanan yang terdapat di Kapitayan serupa betul dengan larangan makanan versi Islam. Di dalam makalahnya untuk seminar nasional Potensi Naskah Lontar Bali yang Bernilai Luhur dalam Penguatan Jati Diri Bangsa yang diselenggarakan UPT Perpustakaan Lontar Unud pada 23-24 November 2015, Ida Bagus Rai Putra menglasifikasikan Lontara Sila Krama ke dalamLontar Sesana, yaitu Lontar yang memuat teks-teks berupa ajaran mengenai etika bersikap menurut tradisi Hindhu Bali.

Dengan kata lain dapat ditengarai bahwa Agus Sunyoto agaknya sedikit meleset ketika memilih Lontar Sila Krama sebagai acuan tentang Kapitayan, sebab ajaran etika bersikap memiliki nilai yang universal dan lontar Sila Krama merupakan teks agama Hindhu. Meski demikian Agus Sunyoto tidak sepenuhnya keliruketika memaparkan Kapitayan,- yang ternyata kalau ditinjau dari penggunaan sumbernya ternyata adalah teks Hindhu,- sebab memang Agus Sunyoto memosisikan diri sebagai individu yang menawarkan konsep, sehingga evaluasi semacam ini tidak akan mengurangi essensi dari definisi serta penjabaran tentang agamaKapitayan yang telah ia bangun.

Sampai pada titik ini dapat ditengarai bahwa Kapitayan yang dimaksud oleh Agus Sunyoto sebenarnya adalah ajaran Hindhu. Dalam beberapa kesempatan Agus Sunyoto menolak penafsiran seperti yang disebut diatas dengan dalih bahwasanya ajaran Hindhu atau Budha umumnya dipeluk oleh orang-orang kerajaan, sedangkan untuk masyarakat bawah menganut agamaKapitayan.

Apabila memang Kapitayan merupakan agama yang dipeluk masyarakat bawah, lantas kenapa Agus Sunyoto merujuk pada Lontar Sila Krama yang sudah pasti hanya akan dibaca oleh kalangan tertentu, dan tentu saja jauh dari pemahaman masyarakat bawah. Tidak ada penjelasan mengenai Kapitayan yang benar-benar konkrit sebelum Agus Sunyoto menulis Atlas Wali Songo, akibatnya Agus Sunyoto mengolah sumber-sumber historis berupa kitab-kitab yang sebenarnya memiliki pola ajaran yang berbeda sama sekali dengan maksud Kapitayan yang ia sampaikan sendiri. Begitu banyak data yang diperoleh Agus Sunyoto dalam menguraikan apa dan bagaimana Kapitayan yang dimaksud, tetapi pada kenyataannya sumber yang digunakan malah mencomot teks Hindhu tanpa menyertakan teks riilkeberadaan Kapitayan.

Metode pengolahan data yang dilakukan Agus Sunyoto pun bersifat trial and error atau dalam bahasa Jawa-nya gothak-gathuk mathuk. Ciri metode seperti ini biasanya dapat dilihat dari permainan kata atau istilah. Contohnya Agus Sunyoto berendapat bahwa masyarakat,-jika memang betul masyarakat bawah,- dahulu sebelum Islam datang apabila bersembahyang maka mereka akan menuju sanggar, ketika Islam datang maka istilahsanggar kemudian berganti dengan langgar. Kemudian konsepKapitayan yang bermakna kosong lantas diasumsikan Agus Sunyoto sebagai ajaran yang mempertentangkan antara kekuatan baik dengan kekuatan buruk. Permainan kata yang mempertentangkan antara ‘Tu’ dengan ‘To’.

Hal-hal yang baik diwakili oleh ‘Tu’ yang merujuk pada kalimat Sang Hyang Tunggal, sedangkan istilah ‘To’ adalah sebuah stigma negatif di dalam agama Kapitayan. Keduanya merupakan sebuah maniefestasi dari satu pribadi Zat yang adi-kodrati yaitu Sang Hyang Taya. Daya ghaib ‘Tu’ yang positif ‘Tu-ah’ akan selalu berbenturan dengan daya ghaib ‘To’ yang bersifat negative ‘Tu-lah, benturan tersebut bukan untuk saling menghancurkan, namun sebagai implementasi sebuah keseimbangan. Karena penyebutan dua klasifikasi pribadi Sang Hyang Taya itulah kemudian pengikut Kapitayan mempercayai adanya kekuatan ghaib dari benda-benda yang memiliki nama dengan unsur ‘TU’ dan ‘TO’ di dalamnya.

Benda yang dimaksud bisa hadir melalui sarana ‘wa-Tu’, ‘Tu-gu’, ‘Tu-lang’, Tu-ak’, ‘To-peng’, ‘To-ya’, dan lain sebagainya. Untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Taya, pengikutKapitayan menggunakan media ‘Tu-mpeng’, ‘Tum-bal’, ‘Tu-mbu’, dan lain sebagainya. Khusus untuk pemuka agamaKapitayan yang dikarunai anugerah dari Sang Hyang Taya, maka ia akan melakukan gerakan-gerakan khusus seperti ‘Tu-lajeg’ (berdiri), ‘Tu-tuk’ (mulut), dan ‘Tu-tud’ (hati). Secara berurutan setelah melakukan ‘Tu-lajeng’, selanjutnya melakukan ‘Tu-ngkul’ (membungkuk), dilanjutkan dengan ‘Tu-lumpak’ (bersimpuh), kemudian yang terakhir melakukan ‘To-ndhem’ (sujud).

Untuk tempat pelaksanaan ritual agama Kapitayan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tempat peribadatanKapitayan adalah sanggar. Di beberapa tempat nama sanggarsecara lebih lengkap disebut dengan sanggar pamujan. Dalam lingkup kerajaan pra-Islam akrab disebut dengan Siti Hinggil.

Sentral peribadatan agama Kapitayan dengan tempat ibadahnya yang disebut sanggar sebenarnya masih terbilang rancu. Bila memang Kapitayan memiliki pengikut dari kalangan masyarakat bawah, maka kemungkinan besar sanggar yang dibangun jelas mendapat pantauan dari pihak priyayi yang saat itu sedang menjabat atau berkuasa.

Keberadaan sebuah ruang peribadatan menunjukkan kelompok pemeluk Kapitayan saat itu memiliki sistem pengelolaan organisatoris yang mapan guna melaksanakan kepentingan-kepentingan agama, tetapi hal ini tentu kurang relevan dengan pola pikir masyarakat bawah pada masa itu. Kalau memang sanggar benar-benar merupakan tempat peribadatan Kapitayan lantas seperti apa dan darimana dana yang didapat selama proses pembangunan sanggar tersebut sedangkanKapitayan memiliki pengikut dari masyarakat bawah?

Konsep sesembahan dan nama peribadatan yang diajukan Agus Sunyoto rupanya berbeda dengan pemaparan Capt. R. Suyono dalam bukunya Dunia Mistik Orang Jawa. Di dalam buku tersebut tertuang beberapa pemaparan fakta-fakta tempat pemujaan masyarakat Jawa kepada Sang Hyang Taya tanpa menggunakan fasilitas sanggar.

Tempat-tempat yang digunakan untuk memuja Sang Hyang Taya menurut Suyono ialah melalui daya ghaib yang dimiliki penghuni atau baureksa dari suatu tempat tertentu. Suyono mengolahnya dari De Javaansche Greestenwereld terbitan 1930. Antara lain pemujaan melalui perantara gunung, tanah, gua, sungai, candi, patung, meriam, kuburan, pohon, tempuran, pantai, dan telaga.

Sekalipun data-data sejarah yang dibawa dan dirangkai oleh Agus Sunyoto menasbihkan buku Atlas Wali Songo sebagai buku pertama yang melakukan kajian historis terhadap eksistensi Wali Songo, tetapi untuk penawaran konsep mengenai Kapitayanmasih bersifat sementara. Buku yang mengurai Kapitayantersebut terbit di tahun 2012, namun baru benar-benar mendapat respon yang begitu massif ketika pemerintah terlibat pertentangan ideologis dengan konsep khilafah.

Konflik yang sedang timbul itulah tersebut yang kemudian mengangkat bukuAtlas Wali Songo beserta Kapitayan-nya ke titik penjualan yang sangat laris. Momentum yang didapat sayangnya tidak didukung dengan kajian Kapitayan yang lebih komperhensif. Toh, sebelum istilah Kapitayan diperkenalkan Agus Sunyoto untuk mendukung fakta historisnya tentang Wali Songo, masyarakat Jawa sudah lebih dulu mengenal istilah Kejawen. Atas dasar itu Agus Sunyoto seperti berupaya untuk mendiferensiasi atau memisahkan antara Kapitayan dengan Kejawen.

Agus Sunyoto berusaha mengolah data-data yang ia dapatkan menggunakan perspektif ketimuran, bukan malah terjebak dalam pemikiran khas orientalis. Upaya inilah yang patut mendapat apresiasi, dalam proses penulisan Atlas Wali Songo lebih condong pada sumber-sumber lokal daripada sumber-sumber yang ditulis oleh orang-orang barat.

Dalam penelitian Suparlan, yang mengkritisi Bachtiar mengenai tanggapannya terhadap Religion af Java tulisan Geertz, dikatakan bahwa masyarakat Jawa bukanlah pemujaan leluhur, melainkan berintikan pada prinsip utama yang dinamakan Sangkan Paraning Dumadi (Sayfa, 2012:205, dalamJurnal Kebudayaan Islam). Penyebutan animisme-dinamisme yang muncul lebih dikarenakan penampang ritus yang seolah melakukan pemujaan terhadap benda-benda.

Padahal substansi yang  sebenarnya dari Kapitayan (animisme-dinamisme) yang melakukan ‘sujud’ pada material tertentu bukan berarti menyembah benda yang ada di hadapannya, melainkan menyembah kepada Zat adi-kodrati. Benda yang dihadirkan tidak lebih dari sekedar sebuah perwujudan. Bisa dikatakan masyarakat Jawa disamping menganggap Tuhannya  sebagai Zat yang transenden, juga ingin berada dalam wilayah imanen.

Woodward pun mengamini Suparlan. Klasifikasi yang ia sepakati ialah berupa tiga kelompok agama di dalam tubuh budaya Jawa, antara lain kalangan santri yang kebanyakansyari’at sentries, kemudian priyayi dan abangan (inilah yang disebut Woodward letak dinamika Islam Jawa), dan yang terakhir adalah orang-orang kebatina yang disebut sebagai Kejawen. Studi yang dilakukan Woodward dengan bolak-balik antara keraton Yogyakarta dan Surakarta membuahkan hasil berupa detail-detail kecil wujud implementasi Islam Jawa. Untuk poin ketiga yang disebutkan oleh Woodward dengan mengamini Suparlan besar kemungkinan kelompok kebatinan itulah yang oleh Agus Sunyoto disebut dengan penganut agama Kapitayan.

Kesimpulan

Kapitayan dengan segala dinamika yang dialaminya masih merupakan satu diantara banyaknya aliran-aliran penghayat Kepercayaan yang tersebar di seluruh nusantara. Pun penggunaan istilah Kapitayan lebih menunjuk pada upayaJawanisasi terhadap Indonesia secara keseluruhan, mengingat beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Kapitayanmerupakan agama asli masyarakat nusantara sebelum datangnya agama samawi.

Dengan segala misterinya, istilah Kapitayan memang belum ditemukan di dalam teks-teks kuno masyarakat Jawa. Rancunya penyebutan Kapitayan dengan Kejawen menimbulkan sebuah stigma di masyarakat bahwa Kapitayan dan Kejawen adalah suatu perkara yang berbeda. Penelusuran yang dilakukan membuahkan hasil bahwasanya Kapitayan tidak lebih dari sekedar konsep, begitu juga dengan Kejawen.

Fakta historis yang menyebutkan penyembahan terhadap Sang Hyang Taya memang benar adanya, termasuk benda-benda perwujudan Tuhan yang dimaksud, tetapi dalam konteks organisatoris Kapitayan jelas tidak bisa memiliki sebuah sanggar sebagai sentral keagamaan, mengingat pendapat yang menyatakan bahwa Kapitayankebanyakan dipeluk oleh masyarakat bawah. Adanya sanggarmerupakan tanda dari suatu kelompok agama yang telah mampu mengelola lembaga, tetapi fakta lain menyatakan  bahwa sanggarhanya dikenal di lingkungan ningrat. Sedangkan untuk pemujaan terhadap Tuhan yang dilakukan masyarakat bawah menggunakan media perantara berupa alam atau benda yang memiliki daya ghaib.

Source https://jawasastrablog.wordpress.com https://jawasastrablog.wordpress.com/2017/12/18/ngonceki-kapitayan/
Comments
Loading...