Sastra Jawa : Ada Apa dengan ‘Kowe’ dan Kamu?

0 172

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun demikian, pelaku bahasa tetap memperhatikan sopan santun (unggah-ungguh basa) ketika lawan bicaranya orang tua, atau yang memang patut dihormati. Karena itu, apabila dengan dalih keakraban atau kedekatan, kemudian menggunakan sapaan ”kowe” atau ”kamu”, padahal lawan bicaranya cukup tua, tentu hal ini tidak sepatutnya dilakukan.

Selain itu, apa mungkin, karena pejabat, seseorang tidak disapa ”kowe” atau ”kamu”? Kepala bidang sejarah, bahasa, dan sastra, pada Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., prihatin akan keadaan tersebut. Perilaku bebas, juga terhadap bahasa, ternyata sudah demikian mengkhawatirkan. Begitu jauh merasuk merusak sendi unggah-ungguh basa, dan rasa bahasa berbahasa Jawa Yogyakarta. Hal ini mengganggu harapannya bahwa sebisa mungkin pegawai pemerintah daerah di sini pun ikut berperan memelihara kebiasaan berbahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari di kantor.

Tampaknya, pelajaran bahasa Jawa di sekolah, sebagai mata pelajaran pilihan setempat (bahasa daerah), terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu ditindaklanjuti dengan  pembelajaran pada tataran pergaulan di luar sekolah. Bukan sebatas murid sudah belajar dan menjawab latihan soal di kelas, ya, sudah. Cukup sampai di sana saja.

Source tasteofjogja.org tasteofjogja.org/isiberita.JM4TElHK-W5_D1-yrhUnO-x2g9WBzqOiOeLgGShFtwjMiVP-bwlOc1vc3pIN2V_cTMODRKS5mxkoPej8_N6HPw
Comments
Loading...