Sanggring, Tradisi Ratusan Tahun di Lamongan

0 39

Sanggring, Tradisi Ratusan Tahun di Lamongan

Masyarakat Lamongan masih mempertahankan adat unik yang diyakini sebagai bentuk syukur terhadap sang Pencipta bumi dan seisinya.

Adat unik dan menarik itu dipertahankan oleh warga Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Tradisi itu sudah bertahan sejak ratusan tahun silam hingga kini bernama, Sanggring.

Adat Sanggring ini pertama kali dimunculkan Ki Buyut Terik yang kala itu dimaksudkan sebagai jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi.

Tradisi ini kemudian diwariskan secara turun temurun di Tlemang, Kecamatan Ngimbang. Sajian makanannya juga ditentukan, tidak boleh kurang atau lebih. Artinya jumlah piring untuk jamuan para tamu harus pasti jumlahnya yakni 44 piring.

“Dulu kan ada seperti prajurit, mengundang teman-teman untuk jamuan makan, mengerahkan anak buahnya atau murid-muridnya untuk memasak Sanggring ini, dan itu untuk suguhannya,” tutur Aris Pramono.

Tak hanya sekedar sebagai suguhan para tamu. Namun, Sanggring juga dipercaya bisa sebagai obat.

Bahkan koki untuk memasak makanan harus kaum Adam. Ya, karena Sanggring ini juga menjadi salah satu upacara ritual dengan adat yang ditentukan untuk pensucian.

Mengapa harus laki-laki yang masak? Sesuai dengan keperuntukannya yakni untuk pensucian, maka yang masak harus laki-laki. “Filosofinya adalah orang laki-laki tidak berhadas,” ungkap Aris Pramono kepada surya.co.id.

Hanya, untuk menentukan yang memasak Sanggring, tidak perlu ada ritual khusus sebelumnya bagi para juru masak. “Yang ada hanya harus ada salah satu sesepuh yang mendampingi,” katanya.

Makanan Sanggring ini berupa masakan yang berbahan dasar ayam. Lalu jumlah ayam yang dipotong lantas dimasak oleh warga menurut Mukhsinon, salah satu warga menyebut, jumlah ayam yang dipotong tergantung dengan jumlah penduduk Desa Tlemang.

Ayam-ayam yang dipotong juga sumbangan dari warga. “Selaian ayam, warga juga membantu bumbu lengkap termasuk kayu bakarnya,” kata Mukhsinon.

Tahun ini, jumlah ayam yang dipotong cukup lumayan banyak mencapai 124 ekor. Tidak ada ketentuan harus ayam jantan atau betina, termasuk warnu ayam. “Beberapa tahun silam memang harus ayam berwarna hitam. Sekarang bebas,” ungkapnya.

Adat gelar Sanggring ini selalu dilaksanakan setiap Jumadilawal, tanggal 27. Dan kewajiban panitia adalah harus memastikan jumlah juru masak oleh 40 orang laki-laki.

“Ketentuan yang tidak boleh dilanggar adalah, tukang masak harus laki-laki. Dan haram untuk dicicipi,” ungkapnya.

Sanggring dimasak dengan menggunakan tiga buah kenceng (wajan besar). “Dari dulu tiga, dan tidak pernah ganti Kenceng, ini peninggalan,” katanya.

Sembari menanti Sanggring matang, masyarakat Desa Tlemang, disuguhi hiburan berupa Wayang Krucil, dengan menampilkan 4 orang sinden. “Wayang kulit tidak boleh. Wayangnya harus wayang Krucil, ” katanya.

Sebelum Sanggring matang, para warga Tlemang sudah bersiap untuk mendapatkan Sanggring. Mereka menenteng piring, mangkuk dan berbagai wadah lainnya untuk mendapatkan bagian Sanggring.

Adat ini mendapat perhatian dari Masyarakat Desa Tlemang, dan desa-desa disekitarnya, hingga mereka harus rela mengantre untuk bisa mendapatkan sebagian Sanggring.

Menurut Yatono, dulu di ritual bernama Sanggring ini juga terdapat prosesi dimana kuah Sanggring ini untuk mencuci senjata bernama, Sengrok Simala Gandring. “Senjata pisau ini nakal, dan dihantam Ki Buyut Terik, kemudian terbang,” katanya.

Pasca prosesi Sanggring ini tuntas, Kepala Desa, tokoh masyarakat dan penduduk Desa Tlemang ini membawa berbagai macam makanan kiriman dari warga ke punden atau makam Ki Buyut Terik untuk dimakan bareng-bareng.

Source http://www.timurjawa.com http://www.timurjawa.com/2019/02/13/sanggring-tradisi-ratusan-tahun-di-lamongan/
Comments
Loading...