Sakralitas Ari-Ari Bagi Orang Jawa

0 115

Sakralitas Ari-Ari Bagi Orang Jawa

Ari-ari atau plasenta bagi orang Jawa tidak sekadar dipahami sebagai sesuatu yang keluar mengiringi kelahiran bayi. Keberadaannya dipercaya terus memiliki hubungan dengan bayi, bahkan ketika dewasa hingga meninggal dunia. Karena itu, masyarakat Jawa memberikan perlakuan khusus terhadap ari-ari bayi. Perlakuan seperti mencuci bersih terlebih dahulu ari-ari sebelum dikuburkan. Berdasarkan informasi Clifford Geertz, ibu bayi juga memantrainya, membungkusnya dengan kain putih, dimasukkan kendi dan digarami (Geertz, 2014: 52).

Sumber lain menyebutkan, kendi tersebut juga diberi alas kain mori. Dimaksudkan agar kelak nantinya anak tidak hanya memikirkan hal duniawi saja. Mengubur ari-ari itu sendiri juga menggunakan istilah nandhur ari-ari. Bagi orang Jawa hal tersebut memiliki makna filosofis sebagai perwujudan harapan. Harapan agar kelak berbuah kebaikan untuk si bayi. Nandhur juga dimaknai agar si bayi ke depannya hidup dan berkembang.

Tidak hanya itu, saat menguburkannya diberikan pula sesaji ulu wetu ing bumi. Sesaji ini berisi kembang boreh, garam, bawang merah, bawang putih, gula, sedikit kelapa, pensil, dan buku. Keberadaan sesaji ini, khususnya agar ari-ari tidak mengeluarkan bau amis dan mengundang hewan liar. Sedangkan pensil dan buku sebagai simbol agar kelak si anak tumbuh dengan cerdas. Semua barang tersebut dikubur di dekat rumah bersama ari-ari.

Tempat nandhur ari-ari bayi, menurut Clifford Geertz berbeda antara bayi laki-laki dan perempuan. Jika bayi laki- laki di depan rumah dan bayi perempuan di belakang rumah. Meskipun ada yang mengubur ari-ari bayi laki-laki di sebelah kiri pintu dan perempuan di sebelah kanan pintu (Geertz, 2014: 52). Nandhur ari-ari biasa dilakukan sendiri oleh sang ayah, kakek, atau saudara laki-laki lain yang dekat dengan bayi. Sebelum menguburkan ari-ari, disarankan agar mandi besar untuk menyucikan diri.

Saat prosesi tersebut, ayah si bayi juga membacakan doa. Bertujuan mendapatkan selamat dan sebagai rasa syukur kepada sang pencipta. Doa yang biasa dibacakan, “Kowe iki anakku, yo kuwi sadulure tuwo jabang bayine, reksanen, emongen sadulurmu enom/jabang bayine.”

Doa lebih panjang saat menguburkan ari-ari dalam Clifford Geertz:

Dengan nama Tuhan, yang Maha Pengasih dan Penyanyang! Bapak Bumi, Ibu Pertiwi, Saya akan serahkan kepadamu tali pusar dan ari-ari bayi.
Tetapi sang bayi saya tinggalkan (saya tidak menguburnya), Hanya tali pusar yang saya serahkan kepada perlindunganmu. Jangan kau risaukan sang bayi, Ini sudah jadi keharusan karena Allah. Kalu kau risaukan juga bayi itu, kau akan dihukum Tuhan. Usirlah penyakit dari si bayi, Ini pun sudah jadi keharusan karena Allah. Tali pusar, saya serahkan kau pada perlindungan seseorang, Bayi kecil, jangan kau lawan bapakmu, Atau kau akan dihukum oleh Allah.

Setelah dikuburkan, diberikan penutup. Pada zaman dulu, dipagari dengan bambu dan ditutup dengan jambangan yang sudah pecah. Dimaksudkan agar tidak dibongkar oleh binatang buas. Selain itu diberi lampu kecil, dinyalakan selama 35 hari. Bertujuan sebagai penerang hidup bagi si bayi dan menjaga dari gangguan makhluk halus. Masyarakat Jawa juga mengkaitkan keadaan bayi dengan ari-ari. Seperti tidak boleh menguburnya terlalu dalam.

Menurut kepercayan masyarakat Jawa, ari-ari yang ditanam terlalu dalam dapat membuat bayi sulit berbicara. Ada juga, bayi yang terkena sesak napas, karena ari-ari tertimbun sesuatu. Ari-ari juga dianggap sebagai saudara bagi bayi. Disebut sebagai adi ari-ari, karena keluar setelah bayi. Melindungi bayi saat di dalam kandungan. Ilmu kedokteran juga menyebutkan bahwa ari-ari atau plasenta merupakan salah satu organ penting bagi bayi. Karena keberadaannya sebagai sarana yang menyediakan nutrisi serta oksigen.

Setelah bayi lahir, ari-ari menjadi saudara spiritual, merupakan bagian dari sedulur papat lima pancer. Keberadaannya menjadi pemberi petunjuk. Sebelumnya, ada kakang kawah, air ketuban yang mendahului kelahiran bayi. Kakang kawah dipercayai sebagai petunjuk yang identik dengan hal-hal yang bersifat baik. Sedangkan, adi ari-ari identik dengan hal-hal yang bersifat buruk atau nakal. Ari-ari dan sedulur lainnya, bagi orang Jawa, juga dipercaya sebagai sumber kekuatan spiritual. Memungkinkan seseorang memiliki kemampuan menyembuhkan, berdagang dan percintaan (Geertz, 2014: 501).

Untuk mendapatkan kekuatan tersebut, orang Jawa biasa melakukan yang namanya tapa, dengan jalan memusatkan pikiran, berpuasa atau begadang.

Bisa juga menggunakan mantra untuk meminta bantuan dari sedulur tersebut. Dengan membaca dalam hati, ”Marmarti kakang Kawah adhi Ari-ari Getih Puser, kadang-ingsun papat kalima pancer, kadangingsun kang ora katon lan kang ora karawatan, sarta kadangingsun kang metu saka margaina lan kang ora metu saka margaina, miwah kadangingsun kang metu barengan sadina kabeh, bapanta ana ing ngarep, ibunta ana ing wuri, ayo pada ……. (pekerjaan atau aktivitas yang sedang dilakukan).

Sebelum datang kematian, bagi orang Jawa, ada juga kepercayaan meruwat para sedulur tersebut. Agar nantinya tidak menghambat saat di alam kubur.

Meruwatnya melalui doa, ”Ingsun angruwat kadangingsun papat kalima pancer kang dumunung ana ing badaningsun dhewe, Marmarti kakang Kawah adhi Ari-ari, Getih, Puser; kadangingsun kang ora katon lan ora karawatan, utawa kadangingsun kang metu saka ing margaina lan kang ora metu saka ing margaina, sarta kadangingsun kang metu barengan sadina, kabeh padha sampurna-a nirmala waluya ing kahanan jati dening kawasaningsun.”

Kepercayaan ini menjadi bukti, cara masyarakat Jawa memandang dunianya. Hingga suatu saat menjadikannya sebagai sarana menemukan kesejatian diri. 

Source http://www.timurjawa.com/ http://www.timurjawa.com/2019/03/30/sakralitas-ari-ari-bagi-orang-jawa/
Comments
Loading...