Sadranan Kyai Kramat Di Temanggung

0 50

Sadranan Kyai Kramat Di Temanggung

Sadranan Kyai Kramat digelar warga di bukit Kramat yang berada di Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Sadranan yang digelar tiap dua tahun itu, sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas harapan dan cita-cita yang terkabul, serta permohonan agar cita-cita dan harapan terkabul.

Ritual diawali dengan mengkirab  kambing yang akan disembelih dari depan masjid Agung Baiturrohman menuju ke makam Kyai Kramat yang berada di perbukitan di ujung dusun, dengan terlebih dahulu keliling dusun.

Kirap dipimpin dipimpin Kepala Desa Mujianto yang berpakaian panglima perang dengan menunggang kuda. Barisan kambing dibelakangnya bersamaan dengan Tumpeng Argodugo dan Parang Joyokusumo. Dibelakangnya serta rombongan para perangkat desa dan tetua serta warga. Rombongan kesenian tradisional, berada di baris paling belakang.

Setiba di depan pintu gerbang makam Kramat, dilakukan penyerahan parang Joyokusumo kepada juru kunci makam, yang dilanjutkan penyembelihan kambing. Sementara itu usai berdoa mengawali penyembelihan tumpeng Argodugo yang terbuat dari nasi dan hasil bumi seperti sayur mayur, buah-buahan, dan padi dibagikan pada warga. Karena antusias tinggi dari warga saling desakan dan berebut tidak dapat dihindarkan.

Tradisi sadranan dengan menyembelih kambing dilakukan setiap dua tahun sekali pada bulan Ruwah (Syaban) dan dijatuhkan pada hari Jumat Kliwon hitungan jawa. Daging kambing tidak boleh dibawa ke rumah dalam keadaan mentah. Harus dimasak di bukit dan dibawa ke rumah setelah masak. Daging kambing setelah dimasak dibagikan kepada masyarakat yang datang. Daging juga tidak boleh dibagi mentah.

Disampaikan kambing jantan yang disembelih didapat dari warga yang terkabul keinginannya dan diberi kemurahan rejeki dari Tuhan. Mereka tidak hanya datang dari Desa Kembangsari saja, tetapi juga dari luar daerah Kabupaten Temanggung.

Makam Kramat selama ini  menjadi tempat ziarah dan berdoa. Mereka yang terkabul harapannya menggelar syukuran dengan menyembelih kambing. Warga yang berharap doa dan harapannya terkabul katanya tidak jarang pula menyembelih kambing untuk shodaqoh pada masyarakat.

Ritual sadranan telah menjadi even wisata, ini dibuktikan dari banyaknya warga yang datang dari tahun ke tahun. Mereka ingin melihat prosesi ritual selain juga ngalap berkah atau berwisata religi. Dari waktu ke waktu warga, perangkat desa dan pemuda meningkatkan kualitas sadranan. Pelayanan pada wisatawan juga ditingkatkan.

Source http://krjogja.com/ http://krjogja.com/web/news/read/63923/Nyadran_Kyai_Kramat_Ritual_Sadran_Pete_Sembelih_90_Kambing
Comments
Loading...