Ruwatan Desa Gudangkahuripan

0 21

Ruwatan Desa Gudangkahuripan

Desa Gudangkahuripan, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat adalah suatu tempat dimana budaya sunda masih banyak dipertahankan dan dikembangkan. Ruwatan atau biasa disebut ngaruwat menjadi salah satu contoh yang dilaksanakan secara rutin satu tahun sekali. Ruwatan dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun Desa Gudangkahuripan yaitu di bulan Februari. Maksud dan tujuan utama dari ruwatan di Desa Gudangkahuripan yaitu sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas diberikannya rizki dan keselamatan kepada semua masyarakat. Syukuran dilaksanakan dengan berdoa bersama serta makan bersama. Setiap rukun warga akan memasak tumpeng dan semua masyarakatnya akan memakan bersama tumpeng tersebut. Selain tujuan utama tersebut ruwatan juga bisa menjadi wadah dikembangkannya kesenian dan kebudayaan sunda dan juga sebagai hiburan bagi masyarakat yang menyaksikan.

Kesenian sunda yang biasa ditampilkan yaitu bermacam-macam. Acara biasa dimulai dengan pawai atau iring-iringan dari setiap rukun warga. Hal menarik disini adalah setiap Rukun Warga yang mengikuti iring-iringan akan membawa hasil bumi ( sayuran dan buah-buahan). Hasil bumi yang ada akan dibawa dengan cara semenarik mungkin, misalnya di bentuk menjadi bentuk piramida, rumah, dll. Walaupun desa ini tidak dominan kepada pekerjaan agraris, tetapi membawa hasil bumi bisa diartikan sebagai wujud rasa syukur dan antusiasme warga terhadap acara ruwatan ini. Selain membawa hasil bumi biasanya masyarakat yang mengikuti pawai akan berpakaian tradisional sunda yaitu laki-laki akan memakai pangsi dengan ikat dikepala begitu juga perempuan yang memakai kebaya serta samping. Kesenian sunda lainnya yang biasa tampil sebagai tradisi yaitu pencak silat. Pencak silat disini bukan pencak silat bela diri melainkan pencak silat tarian atau berkoreografi yang terkadang gerakannya memakai properti kuda lumping.

Kesenian tarawangsa selalu menarik untuk di saksikan. Pada kesenian tarwangsa ada beberapa pelakon yang menari-nari sambil menutup mata, biasanya pelakon adalah laki-laki. Mereka memakai baju pangsi dan juga selendang dibahunya. Konon katanya saya pernah bertanya pada saudara saya yang penah menjadi pelakon kesenian ini mengenai apa yang mereka rasakan pada saat tampil, lalu ia berkata bahwa sebelum tampil mata batin mereka dibuka, maka dari itu para pelakon menutup matanya pada saat tarian berlangsung karena apabila mata mereka dibuka akan terlihat hal-hal mistis atau gaib di tempat tersebut.

Salah satu kesenian khas dari Desa Gudangkahuripan ini adalah sasapian. Sasapian biasanya hanya tampil diacara ruwatan atau 17 agustusan. Sasapian ini berasal dari Rukun Warga 10 (Pasir Wangi) yang sebagian warganya adalah sebagai peternak sapi. Maka dari itu dibuatlah sapi sebagai ikon dari RW tersebut. Sasapian dibuat dari bambu dan di hias sedemikian mungkin sehingga akhirnya mirip sapi. Banyak orang bilang sebelum tampil sasapian ini akan disimpan di kuburan terlebih dahulu. Lalu pada saat tampil sasapian akan diiringi dengan musik khas sunda dan akan ada orang yang masuk kedalamnya (seperti barongsai) lalu orang tersebut akan kesurupan.

Acara ruwatan ini selalu ditutup dengan kesenian wayang golek yang biasanya dilaksanakan pada malam hari hingga subuh. Ada mitos mengenai wayang golek ini, katanya kalau menonton wayang golek harus sampai beres karena kalau tidak sampai beres nanti dijalan akan di halangi buta ( mahkluk halus).

Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Ruwatan-Desa-Gudangkahuripan/
Comments
Loading...